Peringatan Hizbullah: Kesabaran Perlawanan Bisa Habis, Kami Tidak akan Menyerahkan Senjata
-
Mahmoud Qamati
Pars Today - Seorang anggota dewan politik gerakan Hizbullah Lebanon memperingatkan tentang habisnya kesabaran perlawanan sambil menyinggung bahaya nyata yang dihadapi negara Lebanon.
Menurut laporan IRNA pada hari Kamis (18/12/2025) mengutip Sputnik, Mahmoud Qamati, anggota Dewan Politik Gerakan Hizbullah Lebanon mengatakan, "Hizbullah tidak akan pernah menyerahkan senjatanya atau perannya sebagai perlawanan."
Qamati memperingatkan tentang adanya bahaya nyata bagi keberadaan dan kelangsungan hidup Lebanon, dan menambahkan, Pasukan Hizbullah akan tetap seperti hantu di selatan Litani.
Merujuk pada kesiapan Hizbullah untuk menghadapi setiap kemungkinan perkembangan di lapangan, Qamati menekankan, Jika kesabaran perlawanan habis, mereka tidak akan lagi berdiskusi dengan siapa pun.
Sebelumnya, Channel 12 rezim Israel mengklaim bahwa tentara rezim Zionis sedang bersiap untuk memulai perang baru di Lebanon selatan dan telah menyiapkan sejumlah target Hizbullah untuk diserang.
Media Israel mengklaim bahwa rezim Israel sedang bersiap untuk melancarkan serangan besar-besaran di Lebanon selatan dalam waktu dekat.
Hal ini terjadi sementara Menteri Luar Negeri Zionis Israel Gideon Sa'ar hari Rabu (17/12) mengklaim bahwa perbedaan rezim Zionis dengan Lebanon bersifat sederhana dan dapat diselesaikan.
Dalam sebuah wawancara dengan jaringan Al-Arabiya dalam bahasa Inggris, ia mengatakan, "Kami bersedia menormalisasi hubungan dengan Lebanon dan kami dapat melupakan perbedaan itu."
Menteri Luar Negeri Zionis Israel mengklaim, "Dengan menyerang Hizbullah, kami tidak melanggar kedaulatan Lebanon."
Rezim Zionis Israel memulai agresinya terhadap Lebanon pada 1 Oktober 2024, dan setelah 2 bulan, pada hari Rabu, 7 Desember 2024, dengan mediasi Amerika Serikat, menandatangani gencatan senjata yang telah dilanggar ribuan kali.
Menurut perjanjian gencatan senjata, militer Israel seharusnya menarik diri dari Lebanon selatan dalam waktu 60 hari, tetapi rezim Zionis, bertentangan dengan hukum internasional, selain melakukan serangan harian di wilayah Lebanon, tetap menempatkan militernya di lima posisi strategis di wilayah tersebut dan belum meninggalkannya.(sl)