Analis Militer Zionis: Sistem Pertahanan Israel Hadapi Serangan Yaman Nol !
Analis militer Zionis menilai sistem pertahanan Israel terhadap serangan rudal angkatan bersenjata Yaman hanya omong kosong belaka.
Saluran Sahab melaporkan, analis militer Israel, Alon Ben David dalam sebuah wawancara dengan I24 News, yang sebagian disiarkan oleh saluran TV Yaman Al-Masira mengatakan,"Apa gunanya Israel menghadapi Yaman Dalam hal jarak dan ketidakmampuan mendapatkan informasi, ini adalah situasi yang rumit".
Analis Zionis ini menegaskan bahwa Israel tidak bisa membalas serangan Yaman dalam waktu singkat dan serangan tersebut tidak ada habisnya.
Jurnalis Israel, Avishai Matia juga mengatakan bahwa fakta bahwa Yaman telah mengirim dua juta warga Israel ke tempat perlindungan dengan rudal balistik sangatlah berbahaya.
Matia mengungkapkan bahwa kata-kata arogan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan pejabat Israel lainnya terkait penanganan Yaman hanya delusi.
Itay Blumenthal, analis militer Tv Israel kanal 11 juga mengatakan bahwa Yaman sepenuhnya siap menghadapi serangan Israel.
"Dalam demonstrasi mingguan anti-Israel, mereka menunjukkan bahwa situasinya normal bagi penduduk negara ini" ujar Blumenthal.
"Yaman akan melanjutkan serangannya terhadap Israel sampai serangan Israel di Jalur Gaza dihentikan," tegasnya.
Selama setahun terakhir, tentara Yaman menargetkan beberapa kapal Zionis dan kapal yang menuju wilayah pendudukan di Laut Merah dan selat Bab El-Mandeb, dan selancarkan serangan drone dan rudal terhadap posisi rezim Zionis.
Surat kabar Yedioth Aharnoth yang diterbitkan di Israel juga menulis dalam laporannya bahwa ketika masyarakat dunia merayakan awal tahun 2025, Israel masih menanggung akibat dari perang Gaza.
100 tahanan Israel masih berisiko meninggal, inflasi meningkat dan keputusan ekonomi berdampak pada warga Israel.
Perekonomian rezim Zionis yang sebelumnya sempat kacau, kini menghadapi krisis pasca perang dengan Gaza dan serangan rudal Yaman.
Belum lama ini, media Israel mengumumkan bahwa hampir 250.000 warga Israel telah mengajukan permohonan asuransi pengangguran sejak dimulainya perang melawan Jalur Gaza, dan sebagian besar dari mereka berusia antara 20 dan 40 tahun.(PH)