Peran Indonesia dalam Perdamaian di Afghanistan
-
Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo
Presiden Republik Indonesia menegaskan urgensi peran ulama dalam menebarkan benih-benih perdamaian di dunia. Joko Widodo mengatakan, terciptanya perdamaian dan stabilitas di Afghanistan menjadi tujuan jangka panjang Indonesia.
Presiden Jokowi secara resmi membuka konferensi ulama trilateral Indonesia, Afghanistan dan Pakistan yang berlangsung di istana kepresidenan di Bogor Jawa Barat.
Konferensi ulama tiga negara tersebut menjadi momentum bersejarah karena merupakan pertemuan pertama ulama dari ketiga negara Muslim dengan populasi lebih dari 488 juta orang.
Dengan tema "Islam Rahmatan lil Alamin, Perdamaian dan Stabilitas di Afghanistan", ulama terkemuka ketiga negara yang menghadiri konferensi berdiskusi tentang peran mereka dalam menebar benih perdamaian dan solidaritas di Afghanistan.
Lima pokok permasalahan, yaitu perdamaian dan persahabatan dalam Islam, ekstremisme kekerasan (violent extremism) dan i'tidal atau moderasi, peran ulama, peran negara dan langkah maju ke depan, menjadi agenda konferensi tersebut.
Sebelumnya, presiden Indonesia juga telah mengunjungi kawasan Asia selatan, termasuk Afghanistan dan Pakistan, dan mengusulkan digelarnya pertemuan segitiga untuk membahas upaya mewujudkan perdamaian di daerah rawan konflik itu.
Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia tidak terlibat langsung dalam proses penyelesaian konflik di Afghanistan dan Pakistan. Tapi selama setahun terakhir, Republik Indonesia aktif mendorong upaya mewujudkan perdamaian di kedua negara kawasan Asia selatan tersebut.
Pasalnya, kembalinya para teroris yang bergabung dengan kelompok teroris semacam Daesh di Suriah dan Irak ke negara asalnya, termasuk Indonesia mengancam keamanan nasional mereka. Fenomena direbutnya Marawi oleh Daesh menunjukkan ancaman besar bagi kawasan Asia Tenggara. Masalah kompleks ini tidak bisa dipisahkan dari pemikiran radikal yang disemai di berbagai negara, termasuk di Afghanistan dan Pakistan. Oleh karena itu, ulama memainkan peran penting dalam mewujudkan perdamaian di dalamnya.
Inisiatif pemerintah Indonesia menggelar konferensi trilateral bertujuan untuk mendorong peran penting ulama dalam menciptakan perdamaian dan stabilitas di Afghanistan dan Pakistan.
Ulama Afghanistan, Ataollah Lodin mengungkapkan, "Perang di Afghanistan sepenuhnya merugikan Islam dan Muslim. Kelompok teroris di kawasan menyalahgunakan konsep Islam yang menyebabkan Afghanistan hingga kini masih berada di kobaran api. Masjid, sekolah, dan rumah sakit menjadi sasaran serangan. Tidak hanya itu, warga tak bersalah di pasar pun tewas menjadi terget, bahkan acara pemakamanpun tidak luput dari serangan teroris,".
Meskipun belum lama terjun dalam upaya mendorong terwujudnya perdamaian di Pakistan dan Afghanistan, tapi Indonesia sudah terlihat keberhasilannya dalam menyatukan para ulama di kedua negara Asia selatan tersebut. Capaian ini akan mendorong proses terciptanya stabilitas dan perdamaian di daerah rawan konflik di kedua negara itu.
Keberadaaan gerakan Islam moderat, terutama Nahdlatul Ulama dan Muhamadiyah di Indonesia bisa menjadi kapital sosial penting bagi negara ini untuk mendukung pemerintah Indonesia memainkan perannya mendorong terwujudnya perdamaian di Afghanistan dan Pakistan.(PH)