Ketika Pilot Garuda Ancam Mogok
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i57986-ketika_pilot_garuda_ancam_mogok
Asosiasi Pilot Garuda (APG) memastikan 1.300 pilot dan 5.000 kru Garuda Indonesia akan melakukan aksi mogok kerja dalam waktu dekat. "Saat arus mudik Lebaran pun kami lakukan jika pemerintah tidak segera turun tangan mengatasi masalah ini," ujar Presiden APG Kapten Bintang Handono, Kamis, 31 Mei 2018.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jun 02, 2018 11:21 Asia/Jakarta
  • Maskapai Garuda  Indonesia
    Maskapai Garuda Indonesia

Asosiasi Pilot Garuda (APG) memastikan 1.300 pilot dan 5.000 kru Garuda Indonesia akan melakukan aksi mogok kerja dalam waktu dekat. "Saat arus mudik Lebaran pun kami lakukan jika pemerintah tidak segera turun tangan mengatasi masalah ini," ujar Presiden APG Kapten Bintang Handono, Kamis, 31 Mei 2018.

Bintang mengatakan semua kru dan karyawan Garuda yang tergabung dalam Serikat Karyawan Garuda (Sekarga), yang berjumlah 10 ribu orang, melakukan mogok massal pada waktu yang telah ditentukan. "Kami pastikan seluruhnya mogok. Untuk waktunya, nanti kami beritahukan. Saat ini, kami masih menunggu niat baik pemerintah untuk menyelamatkan Garuda," katanya.

 

Menurut Bintang, semua kru dan karyawan Garuda sepakat aksi mogok adalah jalan satu-satunya untuk melakukan misi penyelamatan perusahaan yang kian hari makin terpuruk. "Kami tidak mau berakhir seperti Merpati (maskapai badan usaha milik negara/BUMN yang tutup karena bangkrut)," ucapnya.

 

Bintang mengatakan APG dan Sekarga telah menyampaikan rencana mogok dan tuntutan mereka kepada pemerintah setahun lalu. Hal yang sama mereka lakukan pada 2 Mei lalu dengan memberikan waktu kepada pemerintah hingga 30 hari kerja. "Kalau dihitung, tenggat waktu sudah hampir habis dan waktu kami unjuk rasa semakin dekat," tuturnya.

 

Lebih jauh, Bintang mengatakan para karyawan hanya ingin pemerintah menindaklanjuti tuntutan mereka, salah satunya melakukan perombakan pada direksi BUMN tersebut. "Ini harus segera dilakukan. Karena, jika tidak, Garuda akan semakin terpuruk," katanya.

 

Sebelumnya, Ketua Umum Sekarga Ahmad Irfan Nasution menyebutkan salah satu alasan mogok kerja itu adalah mediasi antara karyawan dan direksi Garuda tak memenuhi titik temu. Padahal mediasi diperlukan untuk membahas kerugian perusahaan hingga US$ 213,4 juta atau sekitar Rp 2,88 triliun pada 2017, yang diduga karena kegagalan direksi dalam mengelola perusahaan.

Image Caption

 

Ahmad menyebutkan ada tiga permasalahan internal yang berdampak terhadap pelayanan kepada pelanggan. "Yaitu masalah operasional, keuangan, dan hubungan industrial," ujarnya, awal Mei lalu.

 

Untuk menjaga keselamatan dan memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan, Sekarga meminta pemerintah merestrukturisasi jumlah direksi, yang saat ini delapan orang menjadi enam orang. Selain itu, Corporate Affairs Asosiasi Pilot Garuda Kapten Eric Ferdinand menjelaskan, pergantian direksi tersebut didasari anggapan karyawan terhadap beberapa orang Direktur Garuda yang tidak mengerti permasalahan perusahaan.

 

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk. Pahala Mansury meminta pilot dan kru maskapai pelat merah itu tetap fokus bekerja seperti biasa. “Kami tentunya berharap rekan-rekan APG dan Sekarga dapat tetap memprioritaskan komitmen bersama terkait upaya pemenuhan hak konsumen khususnya jelang periode peak season yang membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan," tuturnya ketika dikonfirmasi.

 

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meminta ancaman mogok karyawan Garuda Indonesia diselesaikan secara bipartit. "Selayaknya diselesaikan secara bipartit antara korporasi dan serikat kerja, menggelar dialog agar menemukan jalan keluar," kata Budi, 3 Mei lalu.

 

Sementara itu, rencana mogok kerja oleh ribuan karyawan yang tergabung di Serikat Karyawan Garuda (Sekarga) dan Asosiasi Pilot Garuda (APG) dinilai bakal kontraproduktif dengan upaya maskapai penerbangan PT Garuda Indonesia Tbk memperbaiki kinerjanya. "Itu justru akan semakin memperberat upaya peningkatan kinerja operasional maskapai," ujar Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia Hengki Heriandono melalui keterangan tertulis, Kamis, 31 Mei 2018.

 

Hal itu, ucap Hengki, antara lain, karena perusahaan pelat merah tersebut tengah berupaya mempertahankan rata-rata capaian tingkat ketepatan waktu penerbangan atau on time performance (OTP) sebesar 90 persen yang berhasil diraih pada bulan Mei ini. Tahun ini, Garuda menargetkan OTP mencapai 91 persen.

 

Data Kementerian Perhubungan menyebutkan OTP Garuda Indonesia tahun 2017 sebesar 88,53 persen. Angka tersebut mengalami penurunan dari tahun sebelumnya sebesar 89,5 persen.

 

Lebih jauh, Hengki meminta Sekarga dan APG tak merealisasi rencana mogok kerjanya tersebut. Pasalnya, hal tersebut dipastikan bakal mengganggu pelayanan konsumen karena menjelang musim puncak atau peak season Lebaran.

 

“Kami tentunya berharap rekan-rekan APG dan Sekarga dapat tetap memprioritaskan komitmen terkait dengan upaya pemenuhan hak konsumen,” tutur Hengki. “Periode peak season ini membutuhkan dukungan semua pemangku kepentingan, termasuk rekan-rekan pilot."

 

Hengki menjelaskan, kinerja Garuda Indonesia di bawah kepemimpinan Pahala Mansury membaik. Perusahaan itu berhasil menekan kerugian pada kuartal pertama 2018 dari periode yang sama tahun lalu.

 

Data keuangan perusahaan mencatat, pada Januari-Maret 2018, kerugian tercatat US$ 64,3 juta atau sekitar Rp 868 miliar. Angka itu turun 36,5 persen dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai US$ 101,2 juta atau sekitar Rp 1,36 triliun.

 

Sebelumnya diberitakan, APG memastikan 1.300 pilot dan 5.000 kru Garuda Indonesia akan melakukan mogok kerja dalam waktu dekat. "Saat arus mudik Lebaran pun, kami lakukan jika pemerintah tidak segera turun tangan mengatasi masalah ini," ujar Presiden APG Kapten Bintang Handono, Kamis, 31 Mei 2018.

 

Bintang mengatakan semua kru dan karyawan Garuda Indonesia sebanyak 10 ribu orang yang tergabung dalam Sekarga akan melakukan mogok massal pada waktu yang telah ditentukan. "Kami pastikan semuanya mogok. Untuk waktunya, nanti kami beri tahukan. Saat ini, kami masih menunggu niat baik pemerintah untuk menyelamatkan Garuda," katanya.

 

Menurut Bintang, semua kru dan karyawan Garuda Indonesia bersepakat, aksi mogok adalah jalan satu-satunya untuk melakukan misi penyelamatan perusahaan yang kian hari makin terpuruk. "Kami tidak mau berakhir seperti Merpati (maskapai badan usaha milik negara/BUMN yang tutup karena bangkrut)," ucapnya. (Tempo.co)