Membenahi Defisit Transaksi Berjalan
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i64025-membenahi_defisit_transaksi_berjalan
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan dibutuhkan waktu untuk pemerintah membenahi defisit transaksi berjalan (CAD). Pasalnya masalah CAD tidak hanya dihadapi Indonesia saat ini, tetapi sudah sejak puluhan tahun lalu.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Nov 11, 2018 11:44 Asia/Jakarta
  • Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan dibutuhkan waktu untuk pemerintah membenahi defisit transaksi berjalan (CAD). Pasalnya masalah CAD tidak hanya dihadapi Indonesia saat ini, tetapi sudah sejak puluhan tahun lalu.

"Untuk mengatasi (CAD) itu, ini cerita 40 tahun, perlu waktu. Kalau transaksi berjalan defisit, tapi kenapa enggak selalu ada kerisauan mengenai itu," kata dia ditemui di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Menurut dia, kondisi CAD di Indonesia tergantung pada transaksi modal dan finansial. Jika mengalami penurunan seperti yang terjadi sekarang ini, maka CAD akan meningkat karena aliran modal masuk mengalami penurunan.

"Tergantung transaksi modal dan keuangan, sampai dengan sekian tahun, sampai akhir 2012, surplus modal dan keuangan selalu bisa menutupi. Dan kalau bisa menutup, enggak masalah. Kalau lebih, malah cadangan devisanya naik, sekarang memang meningkat CAD-nya," ungkapnya.

Dirinya menambahkan, kenaikan CAD juga merupakan dampak dari pertumbuhan impor yang tinggi dibandingkan ekspor. Hal ini terjadi karena permintaan domestik yang meningkat, seiring pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga.

Pemerintah, lanjut dia, tak tinggal diam untuk mengatasi masalah CAD yang meningkat. Hanya saja beberapa kebijakan yang sudah diambil dan dijalankan tidak berdampak langsung terhadap penurunan CAD, sehingga dibutuhkan waktu.

"Kebijakan yang diambil belum efektif juga, seperti B20, ini baru bulan pertama efektifnya 70 persen. Termasuk lain-lain, kebijakan-kebijakan belum berdampak cukup terhadap CAD, tinggal neraca modal dan keuangan, surplus tidak? Kuartal II surplusnya kecil, karena modal keluar," pungkasnya.

Faktor Penyebab Defisit Transaksi Berjalan Terus Melebar

Ekonom Indef, Bhima Yudisthira membeberkan mengenai beberapa faktor penyebab defisit transaksi berjalan (CAD) pada kuartal III-2018 masih melebar. Menurutnya banyak faktor yang membuat CAD terus membesar, salah satunya kenaikan neraca perdagangan impor sehingga peningkatan ekspor saat ini belum bisa menambal.

"Faktor bengkaknya CAD, karena kinerja ekspor tumbuh lebih rendah dari impor, defisit migas melebar per Juli hingga September. Dimana defisit migas akumulasinya USD3,87 miliar lebih tinggi dari posisi Juli sampai September 2017 yakni USD1,8 miliar," ujar Bhima saat dihubungi SINDOnews di Jakarta.

Sambung dia, menerangkan dari sisi jasa harapan adanya devisa pariwisata yang cukup besar nampaknya pupus. Event internasional memang membawa turis lebih banyak tapi spending yang diharapkan tidak besar sehingga belum bisa mengurangi CAD yang terus membengkak.

"Kemudian bencana alam di beberapa tempat membuat jumlah Wisman berkurang. Ini force majeur yang tidak bisa dikendalikan," katanya.

Sebagai informasi, Bank Indonesia (BI) menyatakan, defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal III 2018 meningkat sejalan dengan menguatnya permintaan domestik. Defisit transaksi berjalan pada kuartal III 2018 tercatat sebesar USD8,8 miliar (atau 3,37% PDB), angka ini tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan defisit kuartal sebelumnya sebesar USD8,0 miliar (3,02% PDB).

Peningkatan defisit neraca perdagangan migas terjadi seiring dengan meningkatnya impor minyak di tengah naiknya harga minyak dunia.

Defisit neraca transaksi berjalan yang meningkat juga bersumber dari naiknya defisit neraca jasa, khususnya jasa transportasi, sejalan dengan peningkatan impor barang dan pelaksanaan kegiatan ibadah haji.

Meski demikian, defisit neraca transaksi berjalan yang lebih besar tertahan oleh meningkatnya pertumbuhan ekspor produk manufaktur dan kenaikan surplus jasa perjalanan seiring naiknya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara, antara lain terkait penyelenggaraan Asian Games di Jakarta dan Palembang. (Metrotvnews/Sindonews)