Apakah Bagasi Berbayar Bisa Tingkatkan Kualitas Layanan?
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i66452-apakah_bagasi_berbayar_bisa_tingkatkan_kualitas_layanan
Ada dua maskapai berbiaya rendah atau Low Cost Carrier (LCC) Indonesia yakni Lion Air dan Wings Air menghapus ketentuan layanan bagasi gratis atau Free Baggage Allowance (FBA) bagi para penumpang. Aturan keduanya menyebutkan, penumpang dibatasi barang bawaan maksimal seberat 7 kg ke dalam bagasi kabin, untuk selebihnya dikenai tarif tambahan.
(last modified 2026-04-12T10:02:39+00:00 )
Jan 12, 2019 09:46 Asia/Jakarta
  • Pesawat Lion Air
    Pesawat Lion Air

Ada dua maskapai berbiaya rendah atau Low Cost Carrier (LCC) Indonesia yakni Lion Air dan Wings Air menghapus ketentuan layanan bagasi gratis atau Free Baggage Allowance (FBA) bagi para penumpang. Aturan keduanya menyebutkan, penumpang dibatasi barang bawaan maksimal seberat 7 kg ke dalam bagasi kabin, untuk selebihnya dikenai tarif tambahan.

Rencananya, kebijakan itu bakal diikuti oleh maskapai penerbangan lain, Citilink yang akan memberlakukan pengenaan tarif bagi penerbangan domestik. Lantas, apakah aturan ini bakal ikut menaikan tarif pesawat?

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Perhubungan Hengki Angkasawan mengatakan, bagasi berbayar tak akan buat tarif pesawat naik lantaran keduanya diatur dalam regulasi yang berbeda.

"Enggak, itu konteksnya berbeda. Soal tarif LCC itu ada di Peraturan Menteri Perhubungan. Dan itu terpisah dengan permohonan bagasi berbayar. Itu (ongkos pesawat) ada tarif batas atas batas bawahnya," jelas dia kepada Liputan6.com, Sabtu (12/1/2019).

Mengacu Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 14 Tahun 2016 tentang Mekanisme Biaya Penerbangan dan Tarif Penumpang, batas bawah ongkos pesawat berbiaya murah ialah sebesar 30 persen dari tarif batas atas.

Hengki melanjutkan, pengenaan tarif pada layanan bagasi ini bisa membuat jadwal pemberangkatan pesawat lebih efisien, serta dapat meningkatkan disiplin para penumpang terkait barang bawaan.

Tas bagasi pesawat

"Pesawat kan sering delay take off gara-gara lama dalam mengatur barang bawaan yang banyak. Dengan berbayar ini, kualitas pelayanan bagasi bisa lebih ditingkatkan," jelasnya.

"Lalu juga membuat penumpang untuk tidak terlalu banyak barang bawaan ke dalam pesawat. Kalau misalkan seorang penumpang berangkat untuk waktu 2-3 hari, bawaan di bawah 7 kg juga cukup mestinya," dia menambahkan.

Lebih lanjut, dia juga menyatakan, baru Lion Air saja yang memberikan laporan untuk memasang harga dalam pelayanan bagasi. Sementara maskapai berbiaya murah lain seperti Citilink hingga saat ini belum menyerahkan usulan.

Namun, Komisi V DPR RI berencana memanggil sejumlah maskapai dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) pada pekan depan. Pemanggilan tersebut terkait dengan penghapusan layanan bagasi gratis yang dilakukan oleh maskapai seperti Lion Air dan Citilink.

"Selasa tanggal 15 Januari 2019, kami panggil maskapai dan Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub," ujar Ketua Komisi V Fary Djemi Francis, di Jakarta, Sabtu (12/1/2019).

Namun demikian jika memang kebijakan ini diterapkan, lanjut dia, maka ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan oleh maskapai. Salah satunya soal peningkatan layanan terhadap penumpang, khususnya saat melakukan penyerahan bagasi.

"Kebijakan ini berpotensi terjadinya penumpukan penumpang pada counter check in. Karena itu, penambahan SDM pada sektor ini sangat dibutuhkan dan harus segera diantisipasi oleh maskapai," kata dia.

Lalu bagaimana menurut penumpang?

Sejumlah masyarakat di Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah mengeluhkan rencana pemberlakuan tarif bagasi pesawat yang akan dilakukan oleh PT Lion Mentari Airlines dan PT Wings Abadi Airlines.

"Tarif bagasi itu akan membebani kami selaku penumpang. Biaya yang kami keluarkan untuk setiap penerbangan tentu akan bertambah, padahal Lion Air kita kenal sebagai penerbangan berbiaya murah," kata Dwi Nuraini warga Palangka Raya, Jumat. Sebagaimana dilaporkan Tempo, Sabtu (12/01).

Dia pun meminta pihak maskapai mempertimbangkan kembali rencana penghapusan layanan bagasi gratis yang selama ini diterapkan.

"Kalau tetap dikenakan tarif, selaku penumpang yang sering menggunakan maskapai itu, saya berharap tarifnya bisa diturunkan," kata pegawai swasta di Palangka Raya itu.

Sementara itu, warga Palangka Raya lainnya, Ahmad Zaenuri mengaku kaget dengan kabar rencana pemberlakuan tarif bagasi tersebut.

"Saya mengetahui rencana itu melalui media sosial dan berita-berita. Sementara sosialisasi secara langsung oleh maskapai belum tahu. Tarif yang direncanakan yang tersebar di media sosial juga simpang siur," kata pria yang mengaku sering menggunakan jasa Lion Air itu.