Menkeu RI: Gejolak Global Tekan Potensi Ekspor
-
Menkeu Indonesia, Sri Mulyani
Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani Indrawati memprediksi kinerja ekspor tahun ini akan kembali tertekan yang dipicu pelemahan pertumbuhan ekonomi global dan gejolak internasional.
CNN Indonesia melaporkan, Sri Mulyani mengatakan dampak dari perlambatan ekonomi global terhadap kinerja ekspor dalam negeri sebenarnya sudah terasa sejak tahun lalu. Hal ini terlihat dari pertumbuhan ekspor yang hanya meningkat 6,65 persen menjadi 180,06 miliar dolar pada 2018.
Sementara itu, impor akan tumbuh hingga 20,15 persen menjadi 188,63 triliun dolar. Pertumbuhan ekspor yang melamban tersebut mengakibatkan defisit perdagangan Indonesia membengkak menjadi 8,57 miliar dolar.
Sri Mulyani mengatakan ada beberapa komponen yang bisa digunakan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dalam negeri, yaitu konsumsi rumah tangga, investasi, dan konsumsi pemerintah.
Dari sisi konsumsi rumah tangga, ia menilai tingkat inflasi dan daya beli masyarakat yang terus dijaga pemerintah masih bisa memberi kontribusi positif kepada pertumbuhan. Kemudian, dari sisi investasi, perbaikan iklim investasi dan pertumbuhan kredit yang tengah melejit dipercaya bisa membuat investasi tumbuh tinggi.
Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) baru-baru ini mengeluarkan prediksi baru mengenai pertumbuhan ekonomi global yang tumbuh 3,5 persen pada 2019, dan 3,6 persen pada 2020.
Situs Antara melaporkan, IMF dalam laporan Prospek Ekonomi Dunia (World Economic Outlook) yang direvisi menjelang pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia di Davos-Klosters, menjelaskan penurunan pertumbuhan sebesar 0,2 persentase poin lebih rendah untuk tahun ini, dan 0,1 persentase poin lebih rendah untuk tahun depan, dibandingkan dengan proyeksi Oktober lalu.
"Setelah dua tahun mencatat ekspansi solid, ekonomi dunia tumbuh lebih lambat dari yang diharapkan, dan risiko-risiko meningkat," kata Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde di Davos Senin (21/1)
Menurutnya, sekalipun ekonomi terus bergerak maju, ekononomi menghadapi risiko-risiko yang cukup besar, beberapa di antaranya terkait dengan kebijakan.
Selain itu, risiko-risiko semakin terkait dengan tarif lebih tinggi yang mempengaruhi masa depan perdagangan global bersama dengan harga aset yang lebih rendah dan volatilitas pasar yang lebih tinggi dalam pengetatan kondisi keuangan dengan beban utang yang tinggi.(PH)