Anjloknya Harga Gabah, dan Penurunan Nilai Tukar Petani
-
Panen padi
Nilai tukar petani dilaporkan turun karena kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian yang lebih rendah dibandingkan kenaikan pada indeks harga barang dan jasa.
Situs Katadata memberitakan hasil laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Maret 2019 secara nasional turun 0,21% dibandingkan Februari 2019, dari 102,94 menjadi 102,73.
NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. Selain itu, NTP menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi petani. Sehingga semakin tinggi NTP, maka semakin meningkat daya beli petani.
Penurunan harga diduga disebabkan oleh suplai yang melimpah dan menurunnya kualitas gabah. Seperti diketahui, harga rata-rata gabah kering panen (GKP) di tingkat petani pada Maret 2019 turun 9,98% dibanding bulan sebelumnya, dari Rp 5.114 per kg menjadi Rp 4.604 per kg. Lalu, harga gabah kering giling (GKG) turun 5,11% dari Rp 5.828 per kg menjadi Rp 5.530 per kg. Sedangkan harga gabah kualitas rendah turun 6,93% dari Rp 4.616 per kg menjadi Rp 4.296 per kg.
Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, suplai gabah yang melimpah disebabkan oleh masa panen raya yang membuat harga turun.
"Selain itu, (harga gabah turun) karena musim yang tidak terlalu bagus, berpengaruh pada kualitas gabah. Itu berimplikasi pada harga gabah di Maret 2019,” kata Suhariyanto di kantornya, Jakarta, saat menggelar konferensi pers, dilansir situs Katadata Senin (1/4).
Menurut Suhariyanto, kondisi tersebut sangat buruk karena harga gabah di beberapa daerah sudah berada di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP), di mana Badan Urusan Logistik (Bulog) menyerap gabah di harga HPP yaitu Rp 3.700 per kg.
"Ada beberapa daerah yang harga gabahnya justru menyedihkan. Ini yang harus diperhatikan oleh pemerintah," kata Suhariyanto.
Salah satu daerah yang harganya di bawah HPP adalah Nusa Tenggara Barat (NTB). Harga terendah untuk GKP pada daerah tersebut pernah tercatat di harga Rp 3.200 per kg.
Sementara, harga gabah kualitas rendah di daerah tersebut pernah menyentuh harga Rp 3.300 per kg. Harga gabah yang turun ini, berefek pada turunnya harga beras di masyarakat.
Pada Maret 2019, rata-rata harga beras kualitas premium di penggilingan Rp 9.815 per kg, turun 1,93% dibandingkan bulan sebelumnya. Lalu, rata-rata harga beras kualitas medium Rp 9.555 per kg, turun 2,49%. Rata-rata harga beras kualitas rendah Rp 9.271 per kg, turun 2,15%.
Dengan harga beras yang turun ini, maka terjadi deflasi pada harga beras sebesar 0,03%. Hal itu menahan inflasi di Maret 2019 sebesar 0,11%. Karenanya, kelompok bahan makanan mampu nahan inflasi sebesar 0,01% pada Maret 2019, bersama penurunan harga daging ayam ras dan ikan segar.
Penurunan harga gabah setiap kali panen raya kerap dikeluhkan oleh para petani yang menilai penurunan tersebut akan mengurangi tingkat kesejahteraannya. Pada saat yang sama, harga komoditas lain justru naik dan menyulitkan mereka.(PH)