Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Bawah Target
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i71542-pertumbuhan_ekonomi_indonesia_di_bawah_target
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya mencapai 5,2% atau di bawah target yang ditetapkan semula 5,3%.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jul 03, 2019 05:38 Asia/Jakarta
  • Sri Mulyani
    Sri Mulyani

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya mencapai 5,2% atau di bawah target yang ditetapkan semula 5,3%.

Situs katadata melaporkan, Sri Mulyani menyampaikan masalah ini  dalam rapat kinerja dan fakta Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per Mei 2019 di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

"Perekonomian sampai kuartal I tumbuh sebesar 5,07% di mana kuartal II kita masih membuat proyeksi antara 5,02-5,13%. Untuk keseluruhan tahun 5,2% atau lebih rendah 0,1%," ujar menteri Sri Mulyani dilansir situs Katadata hari ini.

Laporan ini tidak jauh berbeda dari prediksi Bank Dunia sebelumnya yang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 dari 5,2% menjadi 5,1%. Penurunan ini dipicu oleh gejolak ekonomi global yang menyebabkan pertumbuhan ikut tersendat.

Sepanjang kuartal pertama 2019, Bank Dunia melihat, terjadi peralihan pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan investasi menurun dari tingkat tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Sebaliknya, konsumsi masyarakat dan pemerintah meningkat. Hal ini berdampak positif dalam mengurangi tekanan pada defisit neraca berjalan.

 

Bank Indonesia

Sebelumnya Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2018 bakal melandai.

Situs Kompas mengutip statemen Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, cenderung tertahannya kinerja pertumbuhan ekonomi disebabkan kinerja ekspor yang turun. Adapun secara keseluruhan, bank sentral memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 berada di bawah titik tengah 5 persen hingga 5,4 persen.

Selain itu, investasi non bangunan belum meningkat signifikan dipicu dampak perlambatan ekspor, meskipun investasi bangunan tetap berlanjut. Sementara itu, konsumsi diprakirakan tetap baik didukung terjaganya daya beli dan keyakinan masyarakat. Adapun permintaan domestik diprediksi bakal tumbuh terbatas, sehingga impor diprakirakan menurun.(PH)