Ekspor Indonesia di Mata Jokowi
Presiden Indonesia Joko Widodo hari ini, Jumat (04/12/2020) berpidato secara virtual dalam acara Pelepasan Ekspor ke Pasar Global Tahun 2020 dari Jakarta.
Presiden Jokowi menyebutkan potensi pasar ekspor komoditas Indonesia belum tergarap maksimal padahal produksi sumber daya alam di Tanah Air sangat melimpah.
Menurutnya, Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara lain dalam menangkap peluang ekspor bahan dan barang produksi dalam negeri. Akibatnya, sejumlah barang yang diproduksi Indonesia kalah bersaing di pasar dunia.
“Potensi pasar ekspor yang belum tergarap masih banyak, masih sangat besar. Kita juga masih sangat tertinggal dari negara-negara lain dalam menangkap peluang ekspor,” kata Presiden Jokowi. Sebagaimana hasil pantauan Parstodayid dari Antaranews, Jumat (04/12/2020).
Jokowi mencontohkan, pada 2019 Indonesia menjadi produsen kopi terbesar nomor empat di dunia setelah Brasil, Vietnam dan Kolombia. Namun, Indonesia hanya tercatat sebagai eksportir kopi terbesar ke-8 di dunia.
"(Indonesia) kalah dengan Brasil, Swiss, Jerman, Kolombia bahkan Vietnam," tutur Jokowi.
Lebih lanjut, mantan Gubernur DKI Jakarta itu memaparkan sejumlah ketertinggalan Indonesia dalam ekspor bahan dan barang lainnya.
Pertama, Indonesia menjadi produsen garmen terbesar ke-8 di dunia. Namun, pada kenyataannya Indonesia menduduki peringkat ke-22 eksportir terbesar garmen di dunia.
Untuk industri kayu juga Indonesia kurang mengoptimalkan potensinya. Sebagai produsen kayu ringan terbesar di dunia, Indonesia hanya mampu menjadi eksportir terbesar ke-21 di dunia untuk produk furnitur. Kemudian untuk produk perikanan, Indonesia adalah produsen terbesar ke-2 di dunia. Namun, Indonesia baru menjadi eksporitr ke-13 di dunia untuk produk perikanan.
Presiden meminta seluruh pihak untuk tidak pesimis dengan ketertinggalan itu. “Tidak ada jalan bagi kita selain melakukan langkah-langkah perbaikan, langkah-langkah pembenahan, diperlukan reformasi besar-besaran untuk menghadirkan ekosistem berusaha bagi eksportir kita,” ujar dia.
Kepala Negara menekankan potensi ekspor Indonesia masih sangat menjanjikan karena memiliki keragaman produk, komoditi, dari juga kreativitas dan kualitas yang tinggi serta kapasitas volume dan pangsa pasar tujuan negara ekspor.
“Kuncinya proaktif dan jangan pasif,” ujar Kepala Negara.
Jangan Hanya Seremonial
Presiden RI Joko Widodo juga menekankan agar kegiatan pelepasan ekspor tidak hanya menjadi ajang seremonial saja, melainkan betul-betul dimanfaatkan sebagai momentum meningkatkan nilai ekspor.
"Saya mengingatkan kegiatan pelepasan ekspor tidak hanya seremonial tapi jadi momentum berkelanjutan menghasilkan nilai ekspor yang terus meningkat," ujar Presiden Jokowi.
Presiden mengatakan peningkatan nilai ekspor merupakan salah satu kunci memperbaiki perekonomian nasional.
Bukan hanya membantu para pelaku usaha untuk tumbuh dan membuka lapangan kerja, tapi peningkatan nilai ekspor juga untuk menghasilkan devisa dan mengurangi defisit transaksi berjalan.