Iran Aktualita, 14 Januari 2023
https://parstoday.ir/id/news/iran-i137584-iran_aktualita_14_januari_2023
Perkembangan di Iran selama sepekan lalu diwarnai sejumlah isu penting, di antaranya sejumlah pertemuan Rahbar dengan warga dan aktivis Iran.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Jan 14, 2023 17:50 Asia/Jakarta
  • Rahbar, Ayatullah Khamenei
    Rahbar, Ayatullah Khamenei

Perkembangan di Iran selama sepekan lalu diwarnai sejumlah isu penting, di antaranya sejumlah pertemuan Rahbar dengan warga dan aktivis Iran.

Selain itu, masih ada isu lainnya seperti, Raisi: Statemen Terbaru Biden, Ilusi Budaya Era Kolonial, Amirabdollahian: Kerja Sama Erat Iran dan Suriah Jaga Stabilitas Kawasan,  Jubir Kemlu Iran: Mengapa AS Percayai Penasihat Zionis Pengkhianat ?, Laksamana Irani: AL Iran akan Hadir di Terusan Panama, Eslami: Iran Capai Kemandirian di Bidang Teknologi Nuklir,

Rahbar: Target Kerusuhan, Hancurkan Kekuatan Iran Bukan Singkirkan Kelemahan

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, menilai peristiwa-peristiwa yang mengubah sejarah, memberikan pengalaman besar yang mendidik, dan mengandung sunatullah.

Rahbar, Ayatullah Khamenei

Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Senin (9/1/2023) dalam pertemuan dengan sejumlah warga kota Qom, untuk memperingati kebangkitan bersejarah warga Qom, 19 Dey atau 9 Januari 1978, menekankan pentingnya menghidupkan dan mempelajari peristiwa 19 Dey.

Ia mengatakan, "Kebangkitan besar yang dipelopori masyarakat Mukmin dan revolusioner Qom, pecah di seluruh penjuru Iran, berbuah penggulingan rezim diktator, keluarnya Iran dari cengkeraman Barat, dan hidupnya kembali identitas sejarah serta Islam negara ini, pasalnya di era Pahlavi, Iran diinjak-injak oleh kaki kebudayaan yang salah, dan dominasi politik-militer Amerika Serikat."

Rahbar menganggap Pertahanan Suci sebagai contoh gemilang bagaimana rakyat Iran, mencapai hasil dari rasa bertanggung jawab, terjun tepat waktu dan kerja kerasnya dengan mengambil segala risiko.

"Saddam Hussein diktator Irak, dengan semua fasilitas luas yang dimiliki, dan dukungan AS, Uni Soviet, NATO dan negara-negara reaksioner, menyerang Iran untuk memecah belah negara ini, tapi Iran dalam perang ini menang, dan mereka sama sekali tidak bisa berbuat apa pun, bahkan untuk memisahkan sejengkal tanah negara ini," ujarnya.

Menurut Ayatullah Khamenei, kemenangan Revolusi Islam, dan selamatnya Iran dari dominasi AS, merupakan alasan utama permusuhan terhadap Republik Islam Iran.

Pada saat yang sama Rahbar menyinggung publikasi dokumen rahasia terklasifikasi dari salah satu institusi kredibel AS, terkait perintah mantan Presiden AS, Jimmy Carter untuk menggulingkan pemerintahan Republik Islam Iran, hanya 10 bulan setelah kemenangan Revolusi Islam.

"Dalam dokumen rahasia tersebut, Carter memerintahkan CIA untuk menggulingkan Republik Islam Iran, dan strategi pertama yang digunakan untuk menggulingkan Republik Islam Iran adalah penggunaan propaganda," imbuhnya.

Di bagian lain paparannya, Rahbar menyampaikan analisa terkait tujuan orang-orang yang merancang kerusuhan-kerusuhan terbaru di Iran.

Ia menjelaskan, "Keterlibatan musuh asing dalam peristiwa-peristiwa ini sepenuhnya jelas. Tidak lama setelah disebutkan ada keterlibatan musuh asing, sejumlah orang segera membantahnya, dan mengatakan peristiwa-peristiwa ini adalah kesalahan Anda, ini keliru, keterlibatan asing jelas sekali."

Ayatullah Khamenei juga mengungkap keterlibatan nyata, dan tidak bisa dibantah orang-orang AS dan Eropa dalam peristiwa-peristiwa terbaru di Iran.

"Sarana terpenting yang digunakan musuh dalam kerusuhan-kerusuhan terbaru adalah propaganda, dan menyebarluaskan keraguan melalui media sosial, serta media-media Barat, Arab dan Ibrani," tambahnya.

Rahbar menegaskan, "Para perusuh yang turun ke jalan berteriak, mencaci maki, memecahkan kaca gedung, dan membakar tempat sampah, bukanlah orang-orang yang memprotes kelemahan-kelemahan negara, kelemahan manajemen, kelemahan ekonomi, kelemahan orang tertentu, bukan, saya katakan kepada Anda, justru yang terjadi sebenarnya adalah kebalikan dari ini. Mereka yang terlibat dalam kerusuhan dan menyulut kerusuhan, tujuan mereka bukan menyingkirkan kelemahan-kelemahan negara, tapi menghancurkan titik kekuatan negara."

"Tentu saja Iran menghadapi masalah-masalah ekonomi, dan kesulitan hidup warganya, akan tetapi apakah masalah-masalah ini bisa diselesaikan dengan membakar tempat sampah, dan dengan menciptakan kerusuhan di jalan ?," tanya Rahbar.

Ayatullah Khamenei menandaskan, "Tidak diragukan bahwa aksi-aksi semacam ini adalah pengkhianatan, dan institusi pemerintah harus menindak tegas dan adil pengkhianatan-pengkhianatan ini."

Rahbar: Skenario Musuh dalam Kerusuhan Gagal karena Salah Kalkulasi

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, menjelang hari kelahiran Putri Rasulullah Saw, Fathimah Zahra, bertemu dengan para pelantun syair Ahlul Bait as.

Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Kamis (12/1/2023) dalam pertemuan itu menilai kecintaan pada Sayidah Fathimah Zahra sangat membantu seseorang dalam urusan pribadi dan sosialnya.

Ia menuturkan, "Melantunkan syair Ahlul Bait adalah warisan Syiah, dan sebuah kesenian gabungan yang terdiri dari suara indah, syair yang baik, nada yang tepat dan kandungan yang bernilai tinggi, dan sebagaimana teks agama yang lain, seluruh pilarnya harus indah."

Rahbar bertemu dengan para penyair Iran

Ayatullah Khamenei dalam kesempatan ini menegaskan bahwa musuh sudah mengerahkan seluruh instrumen yang diperlukan untuk mengacaukan, dan merusak sebuah negara.

"Faktor keamanan, penyusupan tim mata-mata, kegaduhan tentang Iranfobia kubu imperialis di dunia dengan berbagai metode dan cara propaganda, merektrut sebagian anasir di dalam Iran, memprovokasi masalah etnis, mazhab, politik, individu, dan propaganda luas, termasuk di antara instrumen musuh untuk mengacaukan negara yang sudah diaktifkan sejak beberapa bulan lalu," paparnya.

Rahbar menambahkan, "Musuh mengira rakyat Iran, akan mendukung skenario penggulingan dan separatisme mereka karena kesulitan ekonomi yang tengah dialaminya."

"Musuh mengira dengan mencaci maki, menghina, dan melecehkan dapat mempengaruhi para pejabat pemerintah, dan membuat mereka menyimpang, musuh mengira dengan membujuk dan menciptakan kebisingan dapat mengadu domba para pejabat level tinggi negara, musuh mengira dengan dolar-dolar sebuah negara boneka Amerika Serikat, dapat mempengaruhi tekad Republik Islam Iran," imbuhnya.

Ayatullah Khamenei menegaskan, "Musuh mengira dengan memprovokasi beberapa anasir yang menjual dirinya untuk mendapatkan suaka politik di negara lain, dan mencaci maki Iran, bisa membuat para pemuda kami putus asa, mereka keliru, dan tidak ada seorang pun yang memperhatikan mereka."

Menurut Rahbar, sudah 40 tahun musuh menyerang Republik Islam Iran dengan berbagai cara, akan tetapi karena kalkulasi mereka salah, maka sampai sekarang selalu gagal, dan di masa depan juga akan gagal.

Pada saat yang sama, Ayatullah Khamenei menekankan bahwa kalkulasi keliru musuh tidak boleh membuat rakyat Iran menjadi lalai.

"Kita juga harus tetap waspada, jangan sampai lalai dan bangga diri dengan berkata masalah sudah selesai, kita harus tetap berada di arena, dan kita harus tahu faktor yang menjaga bangsa ini adalah harapan dan persatuan nasional," pungkasnya.

Raisi: Statemen Terbaru Biden, Ilusi Budaya Era Kolonial

Presiden Republik Islam Iran menanggapi statemen Presiden Amerika yang menyudutkan negara-negara di dunia dengan mengatakan bahwa kata-kata Biden seperti ingin mengembalikan budaya era kolonial saat ini.

Presiden Republik Islam Iran, Sayid Ebrahim Raisi dalam rapat kabient hari Minggu (8/1/2023) menyebut presiden Amerika yang merendahkan negara lain yang memalukan bukan hal baru.

"Statemen Biden seperti ingin  mengembalikan dunia ke budaya era kolonial dan bukti klaim bahwa di balik gerakan menipu Amerika dalam membela hak asasi manusia dan hak-hak perempuan, tersembunyi semangat dan arogansi firaun," ujar Raisi.

Presiden Republik Islam Iran juga mengutuk tindakan kurang ajar dari media Prancis yang menghina otoritas dan nilai-nilai agama serta kemanusiaan rakyat Iran.

"Menggunakan penghinaan dan penistaan dengan dalih kebebasan adalah bukti nyata dari absurditas logika mereka, sekaligus bentuk keputusasaan atas hasil konspirasi menyulut kekacauan dan ketidakamanan di Iran," papar presiden Iran

Majalah Prancis, Charlie Hebdo, yang sebelumnya menghina Nabi Muhammad saw, baru-baru ini mengadakan kontes dengan tujuan menerbitkan kartun yang menyinggung otoritas agama dan politik, yang menuai banyak kritik di tingkat dunia.

Amirabdollahian: Kerja Sama Erat Iran dan Suriah Jaga Stabilitas Kawasan

Menlu Iran dalam pertemuan dengan Wakil Menteri Luar Negeri Suriah menekankan pentingnya hubungan istimewa dan kerja sama yang erat antara kedua negara untuk menjaga stabilitas, keamanan dan perdamaian di kawasan.

Hossein Amir-Abdollahian

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amirabdollahian selama pertemuan dengan Wakil Menteri Luar Negeri Suriah di Tehran hari Senin (9/1/2023) menekankan urgensi peningkatan hubungan antara kedua negara di berbagai bidang, dan penggunaan kapasitas yang ada demi kepentingan kedua pihak.

Wakil Menteri Luar Negeri Suriah, Ayman Susan dalam pertemuan dengan Menlu Iran menyinggung kesyahidan Letjen Qassem Soleimani dan peran khususnya dalam perang melawan terorisme di Suriah dan kawasan.

Deputi Menlu Suriah menyampaikan apresiasi mendalam atas peran Republik Islam dalam mendukung Suriah menumpas terorisme dan ekstremisme, serta membantu penyelesaian politik krisis Suriah.

Susan menekankan hubungan istimewa dari kedua negara berdasarkan perspektif strategis kedua negara.

Ia juga menyampaikan perkembangan terbaru dalam proses politik penyelesaian krisis Suriah.

Republik Islam Iran memiliki kerja sama strategis dengan Suriah.

Selama ini, Tehran membantu Damaskus mengatasi krisis di Suriah, terutama dalam proses memerangi berbagai kelompok teroris di negara ini.

Hubungan antara Suriah dan Iran kini telah menjadi luas dan beragam sejak kekalahan kelompok teroris Daesh, dan kini hubungan tersebut berkembang di berbagai bidang.

Jubir Kemlu Iran: Mengapa AS Percayai Penasihat Zionis Pengkhianat ?

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyinggung kegagalan kebijakan tekanan maksimum Amerika Serikat terhadap Iran, sejak era Presiden Jimmy Carter hingga Joe Biden.

Nasser Kanaani, Selasa (10/1/2023) bertanya, mengapa orang-orang Amerika tidak pernah belajar setelah seluruh rasa malu yang harus dideritanya karena mempercayai para penasihat Zionis pengkhianat, dan hipokrit ?

 Kanaani juga menyinggung penjelasan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran terkait dokumen rahasia AS berisi perintah Presiden Jimmy Carter untuk menggulingkan Republik Islam Iran, 10 bulan setelah berdiri.

"Permusuhan AS terhadap Republik Islam dan bangsa Iran, bukan sesuatu yang baru. Tanggung jawab hukum, dan internasional akibat perilaku permusuhan pemerintah AS di berbagai periode terhadap Iran, tidak bisa ditutup-tutupi," imbuhnya.

Jubir Kemlu Iran menjelaskan, "Operasi tekanan maksimum yang bermotif propaganda, politis dan ekonomis Rezim Amerika terhadap Republik Islam Iran, yang disertai kebohongan besar dukungan atas hak asasi manusia dan demokrasi, selalu ada dalam agenda kerja para pemimpin AS, mulai dari Carter hingga Biden, tapi yang didapat tidak lebih dari 'kekalahan maksimum'."

"Mengapa orang-orang Amerika tak pernah belajar dari seluruh rasa malu yang harus diterimanya karena mempercayai para penasihat Zionis pengkhianat dan hipokrit ? Ini Iran yang independen dan kuat," pungkasnya.

Laksamana Irani: AL Iran akan Hadir di Terusan Panama

Komandan Angkatan Laut Militer Iran, menyinggung kehadiran Angkatan Laut negara ini di perairan internasional, dan mengabarkan rencana kehadiran di Terusan Panama.

Laksamana Shahram Irani, Rabu (11/1/2023) mengatakan, "Hari ini pemanfaatan laut bagi kami membawa keuntungan geopolitik, dan mereka yang tidak memiliki keuntungan ini mengalami sebuah himpitan geopolitik." 

Ia menambahkan, "Sampai saat ini, Iran sudah hadir di seluruh selat serta terusan strategis dunia, dan masih absen di dua selat dunia, namun tahun ini AL Militer Iran akan hadir di salah satunya. Kami sedang merencanakan untuk hadir di Terusan Panama." 

Laksamana Irani menjelaskan, "Jika hari ini AL Militer Iran sedang mendekat ke pesisir pantai Benua Amerika, maka itu dilakukan untuk menunjukkan kekuatan Iran, dan sebagai hadiah bagi rakyat Iran, kami juga sudah hadir di Samudra Pasifik untuk pertama kalinya dalam sejarah." 

"Dalam upaya ini, Australia dan Prancis mengancam kami, dan berusaha melanggar aturan yang diterapkannya sendiri, akan tetapi berkat kekuatan dan berdasarkan hukum yang berlaku, kami bisa mengatasinya," imbuh Irani.

Ia menegaskan, "Startegi maritim adalah landasan bagi strategi besar nasional, dan strategi maritim disusun dalam kerangka kemajuan seluruh kepentingan nasional Iran."

Eslami: Iran Capai Kemandirian di Bidang Teknologi Nuklir

Direktur Organisasi Energi Atom Iran, AEOI mengatakan, Iran sudah mencapai kemandirian di bidang teknologi nuklir.

Mohammad Eslami

Mohammad Eslami, Rabu (11/1/2023) dalam peringatan syuhada nuklir Iran, menjelaskan bahwa negara ini sudah mencapai kemandirian di bidang penyediaan logistik dan barang-barang yang diperlukan di masa sanksi, selain itu Iran juga punya kemampuan ekspor di bidang nuklir.

Ia menambahkan, "Republik Islam Iran hari ini sudah berubah menjadi sebuah negara nuklir, dan dengan bersandar pada kemampuan dalam negeri, kami berhasil meraih sejumlah kemajuan dan prestasi yang cukup signifikan."

Pada saat yang sama, Mohammad Eslami menyinggung kemampuan radiofarmaka Iran dan menuturkan, "Kemampuan radiofarmaka menyebabkan Iran hari ini masuk ke jajaran negara unggul dunia."

Direktur Organisasi Energi Atom Iran juga menerangkan soal penggunaan teknologi nuklir untuk pengobatan para pasien penderita kanker.

"Efek dari terapi plasma mencegah sel-sel kanker menjadi agresif, dan tanpa efek samping pengobatan, terapi plasma bisa mengumpulkan sel-sel lain, dan ini merupakan lompatan besar dalam dunia kedokteran," pungkasnya.