Apakah Media Barat Melaporkan Realitas Tantangan Air di Iran?
https://parstoday.ir/id/news/iran-i180068-apakah_media_barat_melaporkan_realitas_tantangan_air_di_iran
Pars Today - Kekeringan di Iran yang belakangan ini menjadi topik utama media-media Barat, sesungguhnya berakar pada perubahan iklim global, bukan pada persoalan politik.
(last modified 2026-04-12T10:02:39+00:00 )
Nov 11, 2025 07:30 Asia/Jakarta
  • Bumi yang kekeringan
    Bumi yang kekeringan

Pars Today - Kekeringan di Iran yang belakangan ini menjadi topik utama media-media Barat, sesungguhnya berakar pada perubahan iklim global, bukan pada persoalan politik.

Menurut laporan Pars Today, isu kekeringan di Iran, terutama setelah pernyataan Presiden Republik Islam Iran, Masoud Pezeshkian, telah menjadi tema yang sering diangkat oleh media asing, khususnya media Barat. Namun, liputan mereka tidak didasari niat baik, melainkan untuk menciptakan ketegangan dan merusak citra Iran di dunia internasional.

Media seperti France 24, Times of Israel, The New York Times, dan Forbes secara seragam membangun narasi bahwa krisis air Iran disebabkan oleh ketidakmampuan manajemen pemerintahan.

Namun pertanyaannya, apakah benar demikian? Apakah persoalan ini hanya terjadi di Iran, atau merupakan fenomena regional dan global yang sekadar dipolitisasi dengan menonjolkan nama Iran?

Untuk menjawab hal ini, media Tabnak mewawancarai Sadegh Ziaian, Kepala Departemen Prakiraan Organisasi Meteorologi Iran.

Ziaian menjelaskan bahwa penurunan curah hujan di Iran disebabkan oleh penguatan dan keberlanjutan tekanan tinggi subtropis, sistem cuaca yang biasanya aktif pada musim panas, tetapi tahun ini bertahan hingga musim gugur sehingga menghalangi masuknya sistem hujan ke Iran.

Penurunan curah hujan ini tidak hanya terjadi di Iran, tetapi juga di Irak, Suriah, dan Turki. Secara keseluruhan, perubahan iklim adalah fenomena global, tampaknya dampaknya di Iran terasa jauh lebih kuat.

Laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa juga menegaskan bahwa kekeringan bersifat global.

Badan Meteorologi Dunia (WMO) dalam laporannya menyatakan bahwa sejak 2023, dunia mengalami beberapa kekeringan paling luas dan paling merusak yang pernah tercatat, akibat perubahan iklim dan tekanan terus-menerus terhadap sumber daya air dan tanah.

Dr. Mark Svoboda, pakar PBB, mengatakan, “Ini bukan sekadar satu periode kekeringan, tetapi bencana global yang bergerak perlahan, yang terburuk yang pernah saya saksikan. Laporan ini menekankan perlunya pemantauan sistematis terhadap dampak kekeringan terhadap kehidupan, mata pencaharian, dan kesehatan ekosistem yang menjadi tumpuan kita semua.”

Sepuluh tahun lalu, para ilmuwan NASA juga telah memperingatkan akan datangnya tiga dekade kekeringan parah di sejumlah wilayah dunia. Dalam laporan itu disebutkan bahwa di antara 45 negara yang berisiko tinggi, Iran menempati peringkat keempat.

Menurut Ziaian, karena letak geografis Iran yang beriklim kering dan semi-kering, negara ini lebih rentan terhadap dampak perubahan iklim dibandingkan rata-rata global.

Sementara suhu global naik sekitar 1°C, suhu rata-rata di Iran meningkat hampir 2°C. Ia menegaskan bahwa kekeringan dan penurunan curah hujan merupakan dampak utama perubahan iklim di Iran, yang mengakibatkan penurunan sumber air, kerusakan pertanian, dan gangguan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Ziaian menambahkan bahwa meskipun Iran secara alami memiliki iklim kering, krisis ini masih bisa diatasi.

“Untuk menghadapi dampak kekeringan, diperlukan perubahan mendasar dalam sektor pertanian, konsumsi air, dan kebijakan ekonomi. Hanya melalui perencanaan ilmiah dan kerja sama nasional, dampak perubahan iklim dapat diminimalkan,” pungkasnya.(sl)