Fattah-2: Langkah Besar dalam Teknologi Hipersonik
-
Rudal hipersonik Fattah-2
Pars Today - Komandan Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan serangan drone dan rudal terhadap tempat tinggal pilot Amerika.
Menurut laporan Pars Today, Mayor Jenderal Sayid Majid Mousavi, Komandan Pasukan Dirgantara Garda Revolusi Islam mengatakan, “Sebagai tanggapan atas kejahatan dan serangan udara tidak bermoral oleh pasukan setan dari tentara teroris Amerika terhadap negara tercinta kita Iran, tempat tinggal dan perkumpulan personel penerbangan skuadron udara Amerika yang ditempatkan di Pangkalan Al-Kharj, Arab Saudi, menjadi target operasi gabungan drone dan rudal oleh pejuang Pasukan Dirgantara IRGC.”
Pasukan Dirgantara IRGC dalam serangannya terhadap musuh Amerika dan Zionis telah menggunakan berbagai jenis rudal balistik, termasuk rudal hipersonik Fattah.
Konsep Rudal Hipersonik
Rudal diklasifikasikan ke dalam kategori berbeda berdasarkan kecepatan, ketinggian terbang, dan kemampuan manuver. Rudal hipersonik atau supersonik mengacu pada rudal atau proyektil yang bergerak dengan kecepatan 5 hingga 25 kali kecepatan suara. Mencapai kecepatan hipersonik bukan satu-satunya fitur rudal dalam kategori ini, karena banyak proyektil balistik juga melebihi kecepatan ini dalam fase akhir serangan. Kemampuan manuver dan jalur penerbangan yang tidak terduga adalah karakteristik lain dari rudal hipersonik.
Urgensi
Pada dasarnya, rudal hipersonik adalah senjata yang sangat berharga karena saat ini hampir tidak ada metode operasional dan andal untuk mencegat dan menghancurkannya. Negara-negara Barat tidak mampu menghadapi rudal hipersonik, dan sistem pertahanan rudal Barat, sejak Rusia sebagai pengguna pertama rudal hipersonik menggunakannya dalam perang di Ukraina, telah terbukti tidak mampu menghadapinya.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dengan pengenalan dan operasionalisasi rudal hipersonik Fattah oleh Iran, babak baru telah dibuka dalam pengembangan senjata yang memiliki kemampuan untuk mengubah jalannya perang dan yang disebut sebagai “pengubah permainan”. Variabel baru ini, yaitu rudal Fattah, telah mengubah persamaan militer dan persenjataan di wilayah Asia Barat demi Iran, dan akan memaksa musuh-musuh Republik Islam Iran untuk mempertimbangkan kembali setiap tindakan permusuhan terhadap Iran.
Jenis-Jenis Rudal Hipersonik
Kategori utama rudal dalam klasifikasi ini mencakup rudal jelajah hipersonik, rudal balistik udara-ke-darat dengan hulu ledak manuver, dan glider hipersonik. Namun secara khusus, dua jenis rudal dikenal sebagai rudal hipersonik, yaitu Hypersonic Glide Vehicle (HGV) dan Hypersonic Cruise Missile (HCM).
Rudal jelajah hipersonik bermotor scramjet seperti rudal Zircon Rusia memiliki ketinggian terbang lebih rendah dibandingkan glider balistik hipersonik seperti Fattah-2. Ketiga kategori rudal, balistik konvensional, balistik dengan hulu ledak manuver, dan glider hipersonik, mencapai kecepatan hipersonik (lebih dari 5 Mach). Dua kategori pertama mencapai kecepatan hipersonik saat kembali memasuki atmosfer Bumi, tetapi glider hipersonik terbang dengan kecepatan hipersonik selama sebagian besar lintasannya.
Glider hipersonik dapat keluar dari atmosfer Bumi seperti dua kategori sebelumnya dari segi ketinggian, tetapi menempuh sebagian besar lintasan dengan menurunkan ketinggian dan tetap berada di dalam atmosfer Bumi untuk menghindari deteksi radar darat. Lintasan mereka tidak dapat diprediksi dibandingkan dua kategori sebelumnya, dan terus bermanuver dengan pola tidak beraturan sepanjang perjalanan. Sementara itu, lintasan penerbangan dua kategori sebelumnya umumnya dapat diprediksi.
Menurut klasifikasi Center for Strategic and International Studies (CSIS), rudal Fattah-1 mungkin tidak dikategorikan sebagai HGV, tetapi merupakan rudal balistik dengan hulu ledak manuver yang dapat dianggap sebagai rudal hipersonik. Manuver luar-atmosfer rudal ini menggunakan pendorong Thrust Vector Control (TVC) tahap kedua, yang membuat lintasannya jauh lebih sulit diprediksi dibandingkan sebagian besar rudal sebelumnya yang hanya memiliki kemampuan manuver di dalam atmosfer, hal ini sangat mempersulit kerja sistem pertahanan udara mana pun.
Peresmian Fattah-2
Ayatullah Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam dan Panglima Jajaran Angkatan Bersenjata mengunjungi Universitas Sains dan Teknologi Dirgantara Ashura pada hari Minggu, 19 November 2023. Beliau menghabiskan satu setengah jam untuk melihat pencapaian terbaru Pasukan Dirgantara IRGC di pameran permanen pasukan tersebut. Pameran ini mencakup bagian rudal, pesawat nirawak, pertahanan udara, dan antariksa, yang menampilkan pencapaian baru dan terkini dari para ilmuwan dan spesialis muda Angkatan Dirgantara IRGC dengan tema “Dari Ide hingga Produk Sepenuhnya Buatan Iran”.
Selama kunjungan Ayatullah Khamenei ke Universitas Sains dan Teknologi Dirgantara Ashura, Angkatan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Iran memperkenalkan berbagai persenjataan baru. Salah satunya adalah rudal hipersonik Fattah-2. Gambar-gambar kunjungan Ayatullah Khamenei menunjukkan bagian dalam dan pendorong terpisah dari hulu ledak rudal ini, beserta sayap-sayapnya yang memberikan kemampuan mempertahankan kecepatan dan melakukan manuver pada hulu ledak glider.
Spesifikasi
Fattah-2 adalah rudal hipersonik dengan kemampuan glide dan cruise yang dikategorikan sebagai Hypersonic Glide Vehicle (HGV). Hanya empat negara di dunia, termasuk Republik Islam Iran, yang menguasai teknologi persenjataan hipersonik jenis ini.
Menurut Jenderal Hajizadeh, Komandan Angkatan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Iran saat itu, rudal ini menempuh jarak 1.800 kilometer dengan kecepatan 10 Mach (10 kali kecepatan suara). Artinya, rudal ini dapat mencapai target sejauh 1.100 kilometer hanya dalam 300 detik atau 5 menit.
Pada Juni 2023 (Khordad 1402), rudal hipersonik Fattah-1 dengan jangkauan 1.400 kilometer dan dilengkapi hulu ledak manuver telah diperkenalkan, kemudian disusul oleh Fattah-2 yang merupakan jenis baru dari rudal balistik Iran.
Berdasarkan desain aerodinamikanya, Fattah-2 termasuk jenis HGV dan memiliki booster besar dengan tahap akhir pendek yang bermanuver di akhir lintasan. Proyektil jenis ini hanya berbeda dari hulu ledak manuver dalam desain tampilan luar dan jalur penerbangannya, dengan kecepatan berkisar antara Mach 5 hingga Mach 20 tergantung pada desain dan keputusan pembuatnya.
Proyektil HGV seperti Fattah-2 tidak terbang tinggi seperti proyektil balistik, melainkan terbang pada ketinggian jauh lebih rendah dengan kemampuan mengubah jalur berulang kali menuju target. Akibatnya, radar peringatan dini pertahanan udara musuh mengalami kesulitan mendeteksinya, dan kemungkinan mengejutkan sistem pertahanan rudal musuh menjadi jauh lebih besar.(sl)