Soal Isu HAM, Iran Minta Barat Berkaca Diri
Ketua Mahkamah Agung Iran Ayatullah Sadeq Amoli Larijani, merespon komentar menteri ekonomi Jerman yang meminta Iran untuk mengakui rezim Zionis Israel dan klaim-klaimnya tentang situasi hak asasi manusia di Republik Islam.
Dalam pertemuan dengan para pejabat tinggi peradilan Iran, Senin (3/10/2016), Ayatullah Amoli Larijani menilai pernyataan tersebut tidak berdasar dan tidak rasional.
Menteri Ekonomi Jerman Sigmar Gabriel sebelumnya meminta Iran untuk memberi pengakuan resmi kepada rezim penjajah Israel.
"Iran selama bertahun-tahun menanggung banyak tekanan karena melawan permintaan yang tidak rasional seperti itu," tegas Ayatullah Amoli Larijani.
Soal tudingan anti-Iran di bidang HAM oleh pejabat Jerman dan Uni Eropa, ia menandaskan tudingan tersebut tidak berdasar dan perlu diingat bahwa puluhan orang dibantai di Yaman setiap harinya oleh militer Arab Saudi dan dengan dukungan Amerika Serikat, namun sama sekali tidak ada reaksi dari negara-negara Barat.
Jerman, lanjutnya, telah mempersenjatai rezim diktator Saddam dengan bom-bom kimia selama perang Irak dengan Iran.
"Menteri ekonomi Jerman dan orang-orang seperti dia – sebelum menangani kasus-kasus pelanggaran HAM yang melibatkan mereka sendiri dan sekutunya – menuding Iran melanggar HAM berdasarkan data manipulatif dan ini adalah pernyataan yang tidak bijak," ujar Ayatullah Amoli Larijani.
Berkenaan dengan kasus eksekusi di Iran, ia menerangkan bahwa tidak ada orang yang membela eksekusi mati di Iran, tetapi orang-orang yang ingin menghancurkan generasi muda dengan narkoba, mereka akan ditindak tegas.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Bahram Qasemi, juga mengatakan bahwa hubungan Tehran dan Berlin sama sekali tidak ada pra-syarat, dan Iran menolak campur tangan pihak ketiga dalam hubungan kedua negara. (RM)