Strategi Iran Menangkal Makar Musuh
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengatakan peristiwa luar biasa pada tanggal 9 Dey 1388 (30 Desember 2009) merupakan salah satu dari contoh dari unsur kekuatan Republik Islam.
Dalam pernyataan sebelum membuka kuliah pelajaran fikih tingkat tinggi di Tehran, Selasa (27/12/2016), Ayatullah Khamenei menuturkan bahwa hari ini konfrontasi kekuatan-kekuatan arogan dengan Republik Islam fokus pada penghapusan kekuatan material dan spiritual serta tekad bangsa Iran.
"Sebaliknya, kita harus mempertahankan dan memperkuat kekuatan itu," tegasnya.
Di sepanjang tahun pasca kemenangan Revolusi Islam, Amerika Serikat berusaha untuk melemahkan sistem pemerintahan Islam dan merusak persatuan bangsa Iran. AS juga ingin menyulut perpecahan politik dan konflik sosial di Iran. Namun, perlawanan rakyat Iran terhadap konspirasi musuh seperti dalam peristiwa kerusuhan pasca pemilu tahun 2009, menunjukkan bahwa rakyat – sebagai kekuatan utama serta pilar penting stabilitas revolusi dan sistem Republik Islam – tidak akan membiarkan inflitrasi musuh.
Kerusuhan 2009 merupakan bagian dari sebuah konspirasi yang dirancang untuk menghapus sistem Republik Islam. Sejak berdirinya Republik Islam Iran, Amerika dan sejumlah negara Eropa menganggap penghapusan sistem tersebut sebagai sebuah tujuan strategis mereka.
Pada tahap pertama, Amerika mengeluarkan ancaman serangan militer terhadap Iran dan setelah menyaksikan adanya perlawanan dari rakyat, Washington mulai meluncurkan perang lunak seperti proyek Iranphobia.
Menurut sejumlah analis Barat, satu-satunya cara untuk menggoyang sistem Republik Islam adalah menggunakan kekuatan perang lunak dan taktik perang psikologis.
Pasca pilpres Iran tahun 2009, Barat memanfaatkan semua sarana termasuk mempertanyakan keabsahan pemilu dan mengganggu proses demokrasi dalam sistem Republik Islam. Permusuhan ini akan terus berlanjut selama sistem Republik Islam berkomitmen dengan prinsip dan nilai-nilainya.
Sikap ini merupakan bukti dari arogansi Amerika dan Barat. Untuk itu, Iran perlu menjaga kesiapan di semua sektor perang militer dan perang lunak.
Menurut Ayatullah Khamenei, kekuatan arogan menentang ide dan tekad yang kuat dalam memerangi tirani dan diskriminasi. Beliau menegaskan Iran harus meningkatkan kemampuan pertahanan nasional sehingga mampu berdiri di hadapan musuh.
"Iran harus dipersenjatai dengan berbagai kekuatan termasuk, kekuatan intelektual, ekonomi, sosial, dan mobilisasi massa. Partisipasi aktif masyarakat selama kebangkitan Revolusi Islam dan bahkan setelahnya, serta terbentuknya sejumlah aksi heroisme seperti 9 Dey, merupakan indikasi yang baik dari kekuatan sistem dan bukti dari kekuatan pemerintahan Islam dalam memobilisasi massa," kata Ayatullah Khamenei.
Kekuatan itu bersumber dari ketajaman wawasan politik dan kearifan rakyat Iran dalam proses identifikasi musuh. Ayatullah Khamenei menilai pawai akbar 9 Dey sebagai contoh lain dari unsur-unsur kekuatan Republik Islam.
"Dalam aksi unik ini, tak seorang pun mengkoodinasi, dan kekuatan intelektual – sebagai pembentuk utama pemerintah Islam – telah mendorong masyarakat untuk turun ke jalan-jalan dan muncul lah peristiwa luar biasa ini," terangnya. (RM)