Rouhani: Kekuatan Pertahanan Iran Tidak Bisa Dirundingkan
-
Hassan Rouhani, Presiden RII (kanan depan).
Presiden Republik Islam Iran mengatakan, rakyat Republik Islam yang memiliki pengalaman bersejarah dari perang yang dipaksakan rezim Saddam Irak selama delapan tahun, sangat sensitif terhadap setiap isu terkait dengan kekuatan pertahanan negaranya dan meyakini kekuatan pertahanan Iran tidak bisa dirundingkan.
Hassan Rouhani mengungkapkan hal itu dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Belanda, Sigrid Kaag di Tehran, ibukota Iran, Rabu (21/2/2018).
Ia juga menyinggung upaya sejumlah negara untuk menciptakan suasana kontra terhadap program rudal Iran, di mana mereka berusaha membuat konsensus untuk menarget kekuatan pertahanan negara ini.
"Republik Islam Iran tertarik untuk berdialog dengan negara-negara Barat mengenai penjualan senjata merusak ke negara-negara di kawasan yang dilakukan secara besar-besaran, di mana senjata ini digunakan untuk membunuh warga Yaman dan memusnahkan berbagai kawasan penduduk dan infrastruktur negara ini," ujarnya.
Rouhani lebih lanjut menyebut tuduhan pengiriman rudal dari Iran ke Yaman sebagai klaim yang tidak berdasar. Ia menjelaskan, ketimbang melancarkan tudingan dan agitasi seperti ini, mereka seharusnya terfokus pada upaya untuk segera menghentikan perang, menggelar gencatan senjata, membantu masyarakat Yaman yang memerlukan dan menyiapkan iklim yang kondusif untuk memulai dialog Yaman-Yaman.
"Republik Islam Iran siap untuk bedialog dengan Uni Eropa untuk memperkuat keamanan dan stabilitas di kawasan serta melanjutkan penumpasan terorisme," tuturnya.
Iran, lanjut Rouhani, menyambut perluasan hubungan dengan negara-negara anggota Uni Eropa termasuk Belanda dan menyerukan peningkatan hubungan dalam konteks kepentingan bersama.

Menlu Belanda dalam pertemuan tersebut menjelaskan bahwa Uni Eropa dan negaranya sedang berusaha memperluas hubungan dengan Iran di semua bidang.
Menurut Sigrid Kaag, Belanda mengakui kebutuhan Iran atas program persenjataan untuk membela diri dan menilai hal ini sebagai legal dan sah.
"Perusahaan-perusahaan Belanda siap bekerjasama dalam berbagai proyek Iran terkait dengan teknologi modern, pertanian dan penghematan energi," pungkasnya.(RA/PH)