Empat Dekade Revolusi Islam di Mata Sekjen Hizbullah
Sekjen Hizbullah Lebanon, Sayid Hassan Nasrullah baru-baru ini menyampaikan pidato penting dalam peringatan empat puluh tahun kemenangan Revolusi Islam tentang capaian Iran selama ini.
Pidato Nasrullah yang disampaikan Rabu malam (6/2) di Beirut ini menyinggung sejumlah masalah penting.
Pertama, independensi dan kemandirian Republik Islam selama empat dekade, baik di tingkat domestik maupun luar negeri. Di level dalam negeri, hingga kini tidak ada satupun kekuatan asing yang memberikan pengaruh besar dalam dinamika politik dalam negeri Iran. Indikatornya, tidak ada satu orang pun warga Iran yang menjadi pejabat tinggi dan mengisi jabatan strategis seperti presiden maupun ketua parlemen, dan pos-pos sentral lainnya yang berkuasa dengan dukungan negara lain.
Masalah ini disinggung dengan jelas dalam pidato Sayid Nasrullah yang disampaikan Rabu malam di Beirut. Sekjen Hizbullah Lebanon mengatakan, Iran termasuk sedikit negara di dunia yang mengambil keputusan nasionalnya secara independen.
kedua, kemajuan Iran berpijak dari peran penting suara rakyat dalam dinamika politik Republik Islam. Selama empat puluh tahun lalu, Iran telah menggelar 35 pemilu. Pada saat yang sama, kebanyakan negara kawasan Timur Tengah tidak mengenal mekanisme pemilu. Bahkan jika digelarpun hanya bersifat seremonial belaka yang tidak substansial bagi peran rakyat di dalamnya. Pasalnya, kekuasaan di negara-negara ini didominasi klan tertentu saja.
Sekjen Hizbullah Lebanon memandang revolusi yang terjadi di Iran 40 tahun lalu sebagai revolusi Islam sekaligus revolusi rakyat yang mengusung nilai-nilai moralitas dan keyakinan masyarakat Iran. Menurut Nasrullah, salah satu karakteristik penting Revolusi Islam Iran adalah resistensi, perjuangan dan ketangguhan rakyat Iran. Berkat dukungan rakyatlah, Republik Islam Iran meraih kemajuan di berbagai bidang, padahal negara ini sedang berada dalam sanksi dan tekanan AS.
Ketiga, Sayid Hassan Nasrullah di bagian pidatonya menyebut Republik Islam Iran sebagai negara yang paling berpengaruh di kawasan Timur Tengah. Sekjen Hizbullah Lebanon mengungkapkan bahwa sejumlah lembaga internasional selama beberapa tahun terakhir menempatkan Iran di posisi 13 negara paling berpengaruh di dunia, dan sebagian organisasi lain meletakkannya di posisi sembilan.
Iran merayakan empat dekade kemenangan Revolusi Islam dengan berbagai capaiannya di tengah gencarnya permusuhan AS, Israel dan sekutunya terhadap Tehran. Mengenai permusuhan AS bersama sekutunya terhadap Iran, Sekjen Hizbullah menjelaskan, "Iran dimusuhi dan dijatuhi sanksi oleh AS karena independensinya dan dukungan negara ini terhadap kaum tertindas, terutama Palestina,"
Saking derasnya permusuhan AS dan Israel terhadap Iran, sebagian analis politik internasional menyampaikan pandangan mengenai kemungkinan serangan militer terhadap Iran. Masalah tersebut sudah dijawab oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei yang disampaikan sebelum pemerintahan Trump memberlakukan sanksi tahap pertama. "Perang tidak akan meletus," ujar Rahbar ketika itu. Masalah ini kembali ditegaskan Hassan Nasrullah dalam pidatonya yang mengatakan bahwa serangan militer Israel terhadap Iran jauh panggang dari api.
Langkah Gedung Putih memusatkan serangannya terhadap Iran di bidang ekonomi dengan menjatuhkan sanksi menunjukkan sebuah pengakuan dari Washington bahwa serangan militer ke Iran hanya gertakan belaka. Sebab, AS harus memperhitungkan kerugian besar yang akan diterima jika gegabah melancarkan agresi militer ke Iran.(PH) (File Suara: RA)