Pertemuan Komisi Bersama JCPOA di Wina, Akhir Peluang dan Penundaan Eropa
-
Seyed Abbas Araghchi, Deputi Urusan Politik Menteri Luar Negeri Iran
Pertemuan terbaru komisi Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) dengan dihadiri para pemimpin politik "Iran dan negara-negara kelompok 4 + 1" akan diadakan hari ini, Rabu (06/03) di Wina, Austria.
Seyed Abbas Araghchi, Deputi Urusan Politik Menteri Luar Negeri Iran memimpin delegasi Iran ke pertemuan komisi bersama JCPOA.
Bernegosiasi dengan Eropa pada dasarnya sebuah proses positif, tetapi apa yang perlu diperhatikan adalah ketertundaan dalam siklus yang konstan, dengan kata lain, bergerak dalam sirkuit tertutup. Pembicaraan semacam itu tentang JCPOA yang telah menghabiskan banyak waktu, tapi dengan hasil yang sedikit dan bahkan terbatas, menghadapi keraguan dan pertanyaan, dimana harus dijawab secara memuskan di arena diplomatik.
Dalam konteks ini, harus ada pemisahan antara dua masalah;
Masalah pertama adalah tindak lanjut tuntutan Iran dalam kerangka JCPOA dari Eropa, dimana pertemuan komisi bersama Wina dalam kerangka ini.
Seyed Abbas Araghchi pada Senin malam (04/03), menjelang pertemuan Wina dalam pertemuan dengan Philip Ackermann, Dirjen urusan Timur Tengah dan Afrika Utara Kementerian Luar Negeri Jerman di Tehran, menyinggung langkah terbaru Jerman, Perancis dan Inggris untuk membangun saluran perdagangan khusus dengan Iran, yang disebut INSTEX, kemudian mengritik panjangnya proses pembentukan mekanisme ini. Araghchi mengatakan, "Pihak Eropa diharapkan melakukan upaya yang lebih serius untuk mencapai hasil praktis dan konkret dari JCPOA dan segera meluncurkan INSTEX."
Kamal Kharazi, Ketua Dewan Strategis Hubungan Luar Negeri Iran pada hari Selasa (05/03) saat bertemu dengan delegasi lembaga think tank Perancis (Montin) di Tehran menjelaskan kinerja Eropa terkait JCPOA telah menumbuhkan ketidakpercayaan opini publik di Iran terhadap Eropa. Kharazi menjelaskan, "Kinerja lebih cepat Eropa dalam memberlakukan kanal khusus perdagangan dengan Iran (INSTEX) dapat mengubah atmosfer ketidakpercayaan kepada Eropa."
Adapun masalah kedua adalah langkah yang harus dalam pandangan yang mengharapkan JCPOA dan mengaitkan semua masalah ekonomi dan politik pada perjanjian ini.
Pertanyaannya adalah seberapa jauh Eropa akan melanjutkan tren ini dan apakah ada mekanisme untuk melanjutkan JCPOA? Ada dua poin penting dalam menganalisis tren ini:
Poin pertama adalah pemberian jaminan yang kuat dan transparan dari pihak Eropa yang memberikan jaminan pasti bagi kepentingan Iran dari JCPOA.
Poin kedua adalah memperhatikan tenggat waktu dan kepastian implementasi dari komitmen Eropa. Karena dalam situasi saat ini, sebagian aktivitas ekonomi Iran tertunda menanti hasil perundingan.
Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran pada bulan Tir 1397 (Juli 2018) dalam pertemuan dengan presiden dan para pejabat pemerintah mengritik upaya mengikat semua masalah ekonomi negara dengan urusan seperti JCPOA dan paket Eropa. Karena upaya ini bertentangan dengan kepentingan negara.
Rahbar menekankan, "Lakukan pekerjaan dengan serius dalam batasan kemampuan negara dan jangan menunggu ini dan itu. Suatu hari kita menunda masalah ekonomi negara dan menggantungkannya pada JCPOA, tapi ternyata JCPOA tidak berhasil menyelesaikan masalah ekonomi negara kita dan memberikan kontribusi signifikan bagi kita. Hasilnya adalah rakyat menjadi syarat bagi JCPOA, ketika "bapak itu" (presiden AS) ingin keluar dari JCPOA, sampai waktu ketika ia mengatakan akan keluar, kita juga mengalami gejolak di pasar, kita menjadi syarat dan menjadikan rakyat sebagai syarat kita. Sekarang ini adalah "paket Eropa". Jangan jadikan rakyat sebagai syarat terkait paket Eropa. Tentu saja, Eropa terpaksa, harus dengan empat mata! Mereka harus mengatakan bagaimana dapat mempertahankan kepentingan kami, yang mereka sebut paket Eropa, tetapi jangan menjadikannya sebagai masalah asli negara. Paket itu jadi datang atau tidak. Kita punya banyak pekerjaan di negara dan memiliki apa yang dilakukan. Pencapaian ini harus direalisasikan dan tindaklanjuti apa yang ada ini. Jangan menggantungkan perbaikan ekonomi negara dengan sesuatu yang berada di jangkauan kita."