Sikap Iran terhadap Strategi Tekanan Maksimum Trump
https://parstoday.ir/id/news/iran-i69647-sikap_iran_terhadap_strategi_tekanan_maksimum_trump
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, dalam wawancara dengan televisi Fox News di New York, mengatakan kampanye tekanan maksimum Presiden AS Donald Trump terhadap Iran akan gagal.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Apr 29, 2019 10:44 Asia/Jakarta
  • Pekan lalu, Presiden Donald Trump mencabut pengecualian sanksi impor minyak dari Iran.
    Pekan lalu, Presiden Donald Trump mencabut pengecualian sanksi impor minyak dari Iran.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, dalam wawancara dengan televisi Fox News di New York, mengatakan kampanye tekanan maksimum Presiden AS Donald Trump terhadap Iran akan gagal.

"Pemerintahan Trump tidak menghargai perjanjian dan kesepakatan internasional, mulai dari meninggalkan perjanjian nuklir JCPOA sampai Dewan HAM PBB dan badan-badan lain PBB. Ini adalah bagian dari tindakan ilegal pemerintahan Trump yang mengancam tatanan multilateralisme di dunia. Masalah ini menjadi bukti bagi rakyat Iran bahwa AS tidak layak menjadi mitra perundingan," tegas Zarif dalam wawancara tersebut.

AS pernah menggulingkan pemerintahan konstitusional Iran pada Agustus 1953 atau jauh sebelum kemenangan Revolusi Islam. Negara itu menjarah sumber-sumber minyak Iran dengan alasan kemitraan dalam eksplorasi dan memanfaatkan posisi geografis Iran untuk kepentingan militernya di kawasan.

Perilaku para pejabat Washington terhadap Tehran selama 40 tahun terakhir juga merupakan kelanjutan dari kebijakan arogan mereka di masa lalu.

Demi mempertahankan kepentingan ilegal dan hegemoninya, AS menggunakan semua instrumen dan cara seperti perang, kudeta, sanksi, sabotase, teror, ancaman, dan tudingan palsu terhadap pihak lain agar mencapai tujuan jahatnya.

Washington sekarang berusaha menggunakan metode yang sama untuk melanjutkan kebijakan hegemoniknya.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam sebuah pidatonya pada 18 September 2016 mengatakan ketidakpercayaan mutlak kepada AS bersumber dari rasionalitas, penalaran, dan pengalaman.

"Kita menyaksikan permusuhan Amerika selama bertahun-tahun pasca revolusi dan selama perundingan nuklir serta isu-isu lain," ungkapnya.

Saat ini AS sedang berusaha mengulangi trik-trik masa lalu yang bertujuan untuk merusak keamanan dan stabilitas Republik Islam. Pemerintah AS selalu mengangkat isu kekuatan rudal Iran – sebagai komponen penting dalam pertahanan dan pencegahan – dan mengintensifkan sanksi yang ditujukan untuk memukul perekonomian negara ini.

AS juga mengesankan peran regional Iran sebagai ancaman serta merusak hubungan Tehran di tingkat regional dan internasional, tetapi mereka tidak akan pernah mencapai tujuannya itu.

Analis politik senior, Abdel Bari Atwan menuturkan, "Trump dengan melaksanakan elemen utama sanksi (larangan ekspor minyak), ingin merusak stabilitas Iran, tetapi ia sedang bermain dengan api dan bara api perang ini menyala dengan provokasi Israel. Namun uniknya adalah Arab Saudi dan negara-negara lain justru lebih rentan terbakar."

"Iran adalah sebuah negara yang kuat dan memiliki rencana strategis. Dengan kekuatan militer dan misilnya, ia dapat mengendalikan situasi dan memaksa pihak lain untuk menyerah lebih cepat," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Mohammad Bagheri mengatakan, "Kami tidak berniat untuk menutup Selat Hormuz kecuali jika langkah musuh membuat Iran tidak memiliki pilihan lain."

"Kapal-kapal Iran sama seperti kapal dari negara-negara lain juga melintasi Selat Hormuz, tetapi jika pihak tertentu ingin mengganggu selat ini, tentu Iran akan menindaknya," tegasnya. (RM)