Negara-negara Regional Pemasok Keamanan Jalur Laut Kawasan
-
Iran menjamin keamanan berkelanjutan di Teluk Persia
Juru bicara Pemerintah Iran, Ali Rabiei dalam konferensi pers menekankan bahwa keamanan maritim di Teluk Persia bisa ditegakkan oleh negara-negara kawasan
Juru bicara pemerintah Iran dalam konferensi pers hari Ahad (14/07) selain mengritik politik intervensif pihak-pihak asing di kawasan menambahkan, "Inggris daripada mengerahkan kapal perangnya, lebih baik membiarkan negara-negara regional mengatur keamanan maritim di kawasan ini, mereka bisa mengaturnya dengan cara yang lebih baik."
Kedatangan London untuk bersaing dan mereaksi segalanya di wilayah yang secara geografis signifikan tetapi sekaligus membara seperti Teluk Persia dan Laut Oman merupakan salah satu masalah yang menarik bagi para pakar dan analis kawasan.
Sekelompok analis politik menilai kehadiran ini dalam konteks hasil penarikan Inggris dari Uni Eropa (Brexit) dan perhatian London terhadap peluang ekonomi di kawasan itu, tetapi di balik analisa ini, penting untuk memberikan perhatian pada konsekuensi kehadiran Inggris di kawasan itu selama bertahun-tahun.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, berbicara pada pertemuan dengan para tamu Konferensi Persatuan Islam di Tehran (Desember 2016), menyinggung kebijakan dan tindakan Inggris seraya mengingatkan:
"Dalam beberapa hari terakhir, Inggris di puncak tidak tahu malu menyebut Iran yang tertindas dan mulia menjadi ancaman bagi kawasan, tetapi semua orang tahu bahwa terlepas dari tuduhan ini, Inggris selalu menjadi sumber kejahatan bagi bangsa-bangsa di kasawan kami sejak 2 abad yang lalu. Berbagai pukulan yang dilakukan terhadap kehidupan bangsa-bangsa tidak ada tandingannya."
Sekarang, pernyataan dan perilaku permusuhan oleh otoritas Inggris terhadap Iran, termasuk tindakan ilegal baru-baru ini dalam menghentikan sebuah kapal tanker minyak Iran adalah satu gerakan dengan tujuan melakukan intervensi di kawasan.
Angkatan Laut Inggris dalam aksi ilegal menangkap sebuah kapal tanker ilegal Iran di Selat Gibraltal pada Kamis 4 Juli.
Sekaitan dengan hal ini, juru bicara pemerintah Iran mengatakan, "Kami sedang mengambil langkah-langkah hukum untuk membebaskan tanker Iran yang dibajak oleh pasukan Marinir Inggris."
Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif juga mengatakan dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt dan menekankan bahwa sanksi minyak AS merupakan pelanggaran dan ilegal dan Republik Islam Iran akan terus mengekspor minyaknya dalam keadaan apa pun.
Perkembangan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan arah intervensi Inggris di kawasan. Keterlibatan Inggris dalam serangan militer AS terhadap Afghanistan dan Irak pada tahun 2001 dan 2003, dan upaya untuk memperkokoh dan memperluas pijakan di kawasan menggambarkan upaya Inggris untuk menghidupkan kembali dominasinya di wilayah tersebut. Pembukaan kembali pangkalan angkatan laut Inggris di Bahrain juga dapat dianggap sebagai upaya untuk menghidupkan kembali dominasi angkatan laut Inggris di Teluk Persia.
Ali Akbar Sibawaih, analis politik dan mantan Dubes Iran di Oman dalam percakapan dengan situs Diplomasi Iran mengatakan, "Setelah referendum dan memilih keluar dari Uni Eropa (Brexit), Inggris berusaha mengurangi dampaknya terhadap ekonomi dengan mencari pasar baru di Timur Tengah."
Dia menunjukkan bahwa selama kebijakan ekspansionis Inggris dan Amerika Serikat ada, kita harus selalu menunggu ketegangan di kawasan ini. Karena mereka melihat kehidupannya sebagai kelanjutan dari situasi yang ada."
Sekarang, mengikuti kebijakan Amerika Serikat menciptakan ketegangan di kawasan, itu menunjukkan keinginan Inggris untuk campur tangan dan mendominasi kawasan itu.
Pengalaman menunjukkan bahwa keamanan di kawasan, terutama di Teluk Persia, harus dicapai oleh negara-negara di kawasan itu sendiri. Karena intervensi dan kehadiran militer asing selalu menjadi faktor ketidakamanan dan munculnya krisis. Karena tujuan mereka di kawasan dan daerah-daerah yang secara geopolitik penting adalah untuk membangun ketergantungan keamanan pada pihak asing dan selanjutnya untuk menjual miliaran dolar dalam bentuk senjata dan memelihara pangkalan mereka di wilayah tersebut.