Menelisik Sanksi Zarif dan Penentangan Global terhadap Amerika Serikat
-
Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran
Sanksi terhadap menteri luar negeri Iran telah mendapat reaksi keras dari komunitas internasional dan bahkan dikritik di Amerika Serikat sendiri.
Kementerian Keuangan Amerika Serikat menambahkan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif Rabu lalu (31/07) ke dalam daftar sanksi terhadap Iran dan ini sebuah langkah yang telah berulang kali menunjukkan isolasi AS dalam sistem internasional menyusul reaksi balik dari komunitas internasional.
Setelah langkah Amerika Serikat ini, Uni Eropa, Cina dan Rusia sebagai pihak-pihak berpengaruh dalam Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), menekankan bahwa mereka akan terus berkonsultasi dengan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif dan bekerja sama dengannya.
"Tidak" terhadap tindakan sepihak dan ekstrajudisial dan hukum internasional pemerintah Presiden Donald Trump telah menjadi masalah global yang penting dan di sini, diplomasi Iran yang aktif dan efektif sangat memainkan peran penting.
Diplomasi yang jelas, lugas dan rasional sejalan dengan etika Islam dari Iran di tingkat global diterima secara universal dan penolakan terhadap kebijakan intimidasi pemerintah Trump terhadap Iran menggambarkan hal ini.
Kepatuhan terhadap hukum internasional dan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip tatanan internasional multilateral telah menjadikan Republik Islam Iran sebagai negara yang bertanggung jawab, dimana komitmennya terhadap JCPOA sebagai perjanjian internasional, hanya satu contoh dari pendekatan konstruktif dan positif Iran terhadap dunia.
Diplomasi aktif Iran di berbagai bidang telah menantang pemerintahan Trump dan dari membatasi hingga sanksi terhadap Mohammad Javad Zarif, telah menunjukkan efektivitas kebijakan global Iran.
Kekuatan menjelaskan yang efektif, penguasaan ilmu politik dan kemampuan persuasif menteri luar negeri Iran, telah membuat kebijakan dan logika Republik Islam Iran diterima oleh publik dunia.
Kementerian Luar Negeri Iran yang dipimpin oleh Mohammad Javad Zarif dengan konsultasi intensif, dialog efektif dengan berbagai media, terutama media Amerika dan menaati aturan internasional, telah membuat kebijakan destruktif pemerintah Trump terhadap Iran tidak efektif.
Dalam keadaan seperti itu, pengekangan diplomatik pemerintah AS dan sekarang sanksi terhadap menteri luar negeri Iran menunjukkan keputusasaan Washington untuk Tehran.
Surat kabar Washington Post hari Jumat (02/08) ketika mereaksi langkah pemerintah Trump menjatuhkan sanksi terhadap menteri luar negeri Iran menulis, "Tidak jelas apa hubungannya sanksi terhadap Zarif dengan tujuan Amerika Sserikat. Alasan terdekat yang bisa dipahami adalah kemarahan pemerintah AS pada wawancara Zarif dengan media-media AS di New York."
Majid Takht-Ravanchi, Wakil Tetap Republik Islam Iran di PBB juga mengatakan, "Sanksi terhadap menteri luar negeri Iran tidak dapat membungkam bahasa lugas dan argumentatif Zarif."
Dukungan masyarakat dunia untuk JCPOA, penentangan terhadap sanksi sepihak AS terhadap bangsa Iran dan penolakan terhadap kebijakan Washington terhadap Tehran menunjukkan keberhasilan diplomasi Iran dan suara diplomasi ini tidak dapat dibungkam dengan sanksi diplomatik dan pembatasan Zarif.
Sebelumnya, kegagalan Amerika Serikat di Dewan Keamanan PBB untuk menciptakan konsensus anti-Iran yang bertujuan menghancurkan JCPOA telah menunjukkan legitimasi diplomasi Iran, yang pengaruhnya telah menghambat dan membingungkan Amerika Serikat terhadap Iran.