Pertemuan Staf Penyelenggara Haji dengan Rahbar
Staf-staf penyelenggara haji di Republik Islam Iran bertemu dengan Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei di Tehran pada hari Senin, 20 Januari 2020.
Dalam pertemuan tersebut, Rahbar mengatakan, perlawanan rakyat Iran telah membuat frustrasi Amerika Serikat dan membuat marah para pejabat negara ini.
Rahbar menuturkan, alasan kemarahan AS terhadap bangsa Iran adalah kekaguman atas resistensi sebuah pemerintah independen dihadapan penindas.
Ayatullah Khamenei lebih lanjut menekankan pemanfaatan peluang dari ibadah haji untuk menyampaikan bahwa Republik Islam Iran memiliki sesuatu yang baru untuk dikatakan, yaitu model dan teladan demokrasi religius.
Rahbar menejelaskan, model dan teladan demokrasi religius belum dikenal dunia dan sebaliknya jutaan alat propaganda saat ini aktif menyerang Republik Islam. Ibadah haji, lanjutnya, bisa menjadi peluang untuk menjelaskan teladan dan model tersebut dan hal-hal seperti alasan permusuhan AS dan logika bangsa Iran yang tidak pernah bersedia tunduk terhadap tekanan arogansi.
Menurut Ayatullah Khamenei, ibadah haji sangat penting sebagai sebuah gerakan politik, ideologi dan sosial. Rahbar menuturkan, masih banyak negara yang lalai atas sisi penting dan fungsi penting haji, di mana haji merupaka sebuah titik pergerakan serius dan internasional dan umat Islam diharapkan akan meraih keuntungan besar dari ibadah ini.
Pemimpin Besar Revolusi Islam juga menyinggung beragam upaya kekuatan dunia untuk mencegah persatuan umat Islam. Ayatullah Khamenei mengatakan, umat Islam dalam arti sebenarnya adalah sebuah kesatuan yang utuh yang melangkah dengan tekad dan tujuan bersama, tetapi sampai saat ini umat yang seperti ini belum terbentuk, dan sangat disayangkan bahwa dihadapan seruan baik untuk menggalang persatuan Islam ini justru marak beragam tudingan, gesekan dan konflik di negara-negara Muslim.
Ayatullah Khamenei menilai maksud para pejabat Amerika bahwa Iran harus berubah menjadi negara normal adalah Republik Islam harus menghentikan ucapan barunya kepada dunia, yaitu menggabungkan suara rakyat dengan ideologi Islam dan prinsip agama dalam membentuk dan mengelola sebuah bangsa.
"Merefleksikan dasar-dasar politik pemerintah Republik Islam dan menjelaskan ucapan barunya kepada dunia adalah salah satu misi penting yang harus dilakukan dalam ibadah haji," pungkasnya. (RA)