Konflik Idlib, Turki dan Kesepakatan Astana
-
Pasukan Turki di Suriah
Eskalasi konflik di Idlib yang semakin meningkat dengan pengerahan pasukan Turki yang berusaha menghalau laju militer Suriah menimbulkan kekhawatiran negara-negara regional, termasuk Iran.
Kementerian Luar Negeri Iran mengkhawatirkan transformasi terbaru di Idlib, Suriah dan mengecam tindakan pihak ketiga yang mengganggu proses perdamaian Suriah yang sudah pernah dirintis sebelumnya, terutama perundingan Astana.
Kemenlu Iran dalam statemen yang dikeluarkan hari Jumat (28/2/2020) menyatakan, "Iran mengajak semua pihak untuk kembali ke keputusan sebelumnya yang diambil oleh para pemimpin dalam kesepakatan Astana, dan percaya bahwa kesepakatan tersebut sebagai langkah penting berpijak pada prinsip penumpasan terorisme, menghindari segala bentuk kerugian terhadap warga sipil, dan penyelesaian politik,".
Selain itu, Iran juga mengatakan bahwa tindakan AS yang tidak bertanggung jawab bertujuan untuk memperkeruh eskalasi ketegangan di kawasan, dan targetnya untuk menjarah sumber daya minyak Suriah yang akan memperburuk krisis regional.
Operasi militer oleh tentara Suriah dan sekutunya di provinsi Idlib, yang menjadi pangkalan terakhir kelompok teroris di negara ini, telah memicu serangan balasan Turki yang berupaya mempertahankan kehadiran kelompok teroris dukungannya.
Selama beberapa hari terakhir, militer Turki telah menargetkan posisi dan infrastruktur tentara Suriah di provinsi Idlib. Sementara itu, pasukan Turki telah memasuki wilayah utara Suriah dan terlibat baku tembak dengan pasukan Suriah. Dilaporkan, sebanyak 34 tentara Turki tewas dalam serangan udara yang dilancarkan pasukan Suriah yang didukung Rusia. Sebelumnya, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengancam akan menyerang pasukan Suriah tanpa memperhatikan perjanjian Astana dan Sochi, yang telah disepakati Ankara. Krisis dalam hubungan Ankara-Damaskus kini telah meningkat pada posisi terburuk dalam sejarah.
Masalahnya, Turki juga tidak sendirian. AS memanfaatkan konflik ini demi kepentingannya sendiri dengan mendukung langkah agresi Turki di Idlib.
Kementerian Luar Negeri AS dalam sebuah statemen terbaru menyatakan, "Kami mendukung Turki sebagai sekutu NATO". Kemenlu AS mengatakan sedang mempertimbangkan opsi militer untuk mendukung Turki dalam menghadapi krisis Idlib,".
Amerika Serikat yang sejak awal menghendaki kekacauan di Suriah dan menentang langkah pemerintah Damaskus membersihkan kelompok teroris di Idlib, menemukan momentum baru untuk mengail ikan di air keruh.
Wafiq Ibrahim, seorang analis politik dari Lebanon menyoroti tujuan utama AS di Suriah dengan mengatakan, "Sejak teroris tesebar di Idlib lima tahun lalu di bawah kendali tentara Turki, tentara AS tidak pernah melepaskan satu tembakanpun ke arah para teroris, sebab mendukung koalisi Turki dengan para teroris menghadapi pasukan Suriah. "
Para analis politik menggambarkan serangan AS terhadap posisi al-Qaeda di Idlib Suriah belum lama ini, bukan karena ingin membantu Suriah dari cengkeraman teroris, tetapi demi merusak perjanjian yang tercapai antara Turki dan Rusia mengenai keluarnya para teroris dari Idlib, dan akhirnya krisis Suriah akan terus berlanjut.
Idlib sekarang berada di jantung konflik dengan poros "Rusia-Turki- Amerika Serikat" dan "Suriah- Turki bersama teroris afiliasi Ankara", serta "Rusia -Turki". Sambutan Amerika terhadap langkah militer Turki yang keluar dari kesepakatan Astana dan Sochi tentang Suriah dilihat dari perspektif ini.
Dalam situasi kritis seperti itu, kembalinya negosiasi adalah cara paling rasional untuk mencegah ketegangan meningkat. Statemen kementerian luar negeri Iran yang menyerukan Turki kembali mematuhi kesepakatan yang dicapai di Astana dan Sochi sebagai langkah politik untuk meredakan ketegangan di Idlib, Suriah.(PH)