Iran: Mentalitas Perang Dingin Membuat Situasi Dunia Lebih Buruk
https://parstoday.ir/id/news/iran-i86273-iran_mentalitas_perang_dingin_membuat_situasi_dunia_lebih_buruk
Duta Besar Iran untuk PBB, Majid Takht-Ravanchi memperingatkan tentang bangkitnya mentalitas era Perang Dingin dan memburuknya situasi keamanan di dunia.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Okt 15, 2020 11:42 Asia/Jakarta
  • Ilustrasi senjata nuklir.
    Ilustrasi senjata nuklir.

Duta Besar Iran untuk PBB, Majid Takht-Ravanchi memperingatkan tentang bangkitnya mentalitas era Perang Dingin dan memburuknya situasi keamanan di dunia.

Hal itu disampaikan dalam pertemuan Komite Perlucutan Senjata dan Keamanan Internasional PBB di New York pada hari Rabu (14/10/2020).

"Dalam beberapa dekade terakhir, sifat ancaman terhadap keamanan global berubah secara signifikan. Penggunaan dan ancaman penggunaan kekerasan muncul di berbagai belahan dunia. Belanja militer global dan perlombaan senjata juga meningkat," ungkap Takht-Ravanchi.

"Bangkitnya mentalitas Perang Dingin di samping ancaman berkelanjutan dari senjata pemusnah massal dan munculnya ancaman baru seperti penggunaan kecerdasan buatan pada sistem senjata, serangan siber, dan perang luar angkasa telah memperburuk situasi keamanan global lebih dari sebelumnya," tambahnya.

Menurut diplomat Iran ini, perlucutan senjata nuklir menghadapi beberapa hambatan seperti, perlombaan modernisasi senjata baru dan tidak adanya kemauan politik dari negara-negara pemilik senjata nuklir untuk mengesampingkan jenis senjata ini.

Majid Takht-Ravanchi.

"Lebih dari 14.000 senjata nuklir dengan biaya 100 miliar dolar per tahun untuk modernisasi dan perawatan serta potensi penggunaannya, dapat menciptakan bencana bagi umat manusia dan planet ini," tegas Takht-Ravanchi.

Dalam konteks ini, lanjutnya, AS sebagai pemilik senjata nuklir terbesar dunia terus memodernisasi persenjataannya secara besar-besaran. Pada 2019, AS menghabiskan dana 36 miliar dolar untuk persenjataan nuklirnya dan memproduksi varian baru dari senjata nuklir.

Takht-Ravanchi lebih lanjut mengatakan, rezim Zionis Israel mengancam negara-negara lain di Asia Barat dengan penggunaan senjata nuklir. "Rezim Zionis adalah satu-satunya penghalang regional untuk membentuk zona bebas senjata nuklir di kawasan," tambahnya.

Menurutnya, Israel harus dipaksa untuk bergabung dalam Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

"Kami sangat prihatin dengan aliran senjata canggih yang terus-menerus ke wilayah konflik di Asia Barat, dan meningkatnya pembelian senjata oleh Arab Saudi dan rezim Zionis. Impor senjata oleh Saudi meningkat 192 persen dalam lima tahun terakhir, sementara impor senjata oleh Israel juga naik 354 persen dalam periode yang sama," pungkasnya. (RM)