Revolusi Islam Iran; 42 Tahun Perlawanan atas Hegemoni
https://parstoday.ir/id/news/iran-i90470-revolusi_islam_iran_42_tahun_perlawanan_atas_hegemoni
Bangsa Iran, 42 tahun lalu dengan bersandar pada tekad baja tanpa bergantung pada kekuatan dan adikuasa dunia, berhasil melalui hari-hari menentukan sehingga memenangkan Revolusi Islam Iran.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Jan 31, 2021 18:32 Asia/Jakarta
  • Dahe Fajr
    Dahe Fajr

Bangsa Iran, 42 tahun lalu dengan bersandar pada tekad baja tanpa bergantung pada kekuatan dan adikuasa dunia, berhasil melalui hari-hari menentukan sehingga memenangkan Revolusi Islam Iran.

Mulai tanggal 12-22 Bahman 1357 Hijriah Syamsiah (1-11 Februari 1979) terjadi perubahan politik besar di Iran, yang berujung dengan tumbangnya pemerintahan despotik rezim Shah.

Sepuluh hari menentukan ini telah merusak kalkulasi rezim Shah dan para pendukungnya. Kegagalan upaya mencegah kembalinya Imam Khomeini ke Iran pada 12 Bahman 1357 Hs, dibubarkannya Dewan Kerajaan dan pembentukan pemerintahan sementara oleh Imam Khomeini, pengumuman solidaritas pegawai sejumlah instansi sensitif seperti perusahaan minyak nasional atas kebangkitan revolusi rakyat, dibatalkannya aturan darurat militer atas perintah Imam Khomeini, dan turunnya masyarakat ke jalan-jalan serta baiat bersejarah para komandan Angkatan Udara Iran kepada Imam Khomeini pada 19 Bahman 1357 Hs (8 Februari 1979), di antara peristiwa yang menandai kemenangan Revolusi Islam Iran.

Pidato Imam Khomeini pada tanggal 12 Bahman 1357 Hs (1 Februari 1979) menyampaikan pesan Revolusi Islam Iran. Imam Khomeini menegaskan urgensi penentuan masa depan rakyat oleh rakyat sendiri, dan pemilu sebagai prinsip serta independensi negara di seluruh bidang yang menjadi fondasi Revolusi Islam Iran.

Kemenangan Revolusi Islam Iran pada kenyataannya merupakan perwujudan kehendak sebuah bangsa untuk mencapai independensi, kemuliaan dan kebebasan dari hegemoni kekuatan imperialis global.

Imam Khomeini

 

Kemarahan Amerika Serikat realitasnya merupakan konsekuensi sikap Republik Islam Iran yang menentang hegemoni negara adikuasa itu, dan di kemudian hari menjadi inspirasi kebangkitan masyarakat tertindas dunia.

Amerika sejak berdirinya Republik Islam Iran telah menggunakan strategi penggulingan sebagai senjatanya menghadapi Tehran.

Kekuatan imperialis global menyadari bahwa tantangan terbesar yang mereka hadapi untuk menundukkan Iran adalah partisipasi luas rakyat negara ini dalam membela revolusi. Amerika selama bertahun-tahun berusaha menjatuhkan sanksi luas terhadap rakyat Iran, dan memberikan tekanan maksimum kepada mereka.

Tidak diragukan Amerika sejak 42 tahun telah menggunakan opsi tekanan ekonomi untuk menaklukkan Iran.

Selain itu Amerika juga berusaha menghentikan aktivitas damai nuklir Iran, mengancam kemampuan pertahanan rudal Iran, dan mengulang klaim tak berdasar soal pengaruh regional Iran, hingga teror terhadap Komandan Pasukan Quds IRGC, Letjend Qassem Soleimani.

Masih kurang, Amerika juga menyingkirkan para ilmuwan nuklir Iran seperti Syahid Mohsen Fakhrizadeh, untuk meruntuhkan Revolusi Islam Iran dalam beberapa tahun terakhir.

Bangsa Iran tetap kokoh berdiri sampai sekarang di tengah semua tekanan dan kesulitan yang dihadapi. Mereka menunjukkan bahwa tidak ada satupun kekuatan arogan yang bisa menaklukkan rakyat dan Republik Islam Iran. (HS)