Dinamika Asia Tenggara, 16 Februari 2019
-
Pentas Seni promosi budaya Indonesia di Tehran
Dinamika Asia Tenggara pekan ini akan menelisik sejumlah isu di antaranya: Indonesia menggelar promosi wisata di Iran, dan Kemlu RI menyatakan pelaku pemboman gereja Filipina belum pasti WNI.
Selain itu, masalah ekonomi mengenai dukungan Iran, Turki dan Pakistan terhadap industri sawit Malaysia, isu keamanan tentang polisi Malaysia yang menangkap enam tersangka teroris dan keputusan pengadilan Myanmar yang menjatuhkan hukuman mati terhadap pembunuh pengacara Muslim negara ini.
Indonesia Gelar Promosi Wisata di Iran
Indonesia menggelar promosi pariwisata dengan mengusung tema, “Wonderful Indonesia Tourism Promotion” yang berlangsung di Parsian Evin Hotel, Tehran, Selasa malam, 12 Februari 2019.
Even yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar RI di Tehran bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata RI dan Pemerintah Kota Ternate. Acara dihadiri oleh para pelaku usaha biro perjalanan, penerbangan, hotel dan media, juga hadir para pejabat tinggi instansi terkait Iran, diantaranya dari Kementerian Luar Negeri, Islamic Culture and Relations Organization (ICRO) dan Iran Cultural Heritage, Handcraft and Tourism Organization (ICHTO).
KBRI Tehran terus melakukan berbagai upaya guna meningkatkan kunjungan wisatawan Iran ke Indonesia. Jumlah wisatawan Iran ke Indonesia mengalami peningkatan sebesar 57,5 % dari tahun 2016 ke 2017. Adapun jumah wisatawan Iran ke Indonesia pada tahun 2018 mencapai 11.555 orang, membuat jumlah wisatawan Iran ke Indonesia menempati urutan pertama untuk kawasan Asia Tengah. Selain itu, KBRI Tehran juga menyelenggarakan Familiarization trip (famtrip) setiap tahunnya untuk mengenalkan keragaman budaya di Indonesia.
Iran dan Indonesia memiliki banyak kemiripan budaya dan sejarah yang bisa menjadi potensi besar bagi peningkatan kerjasama di bidang pariwisata, terutama wisata halal dan industri kreatif.
Kemlu RI: Pelaku Pemboman Gereja Filipina Belum Pasti WNI
Kementerian luar negeri Republik Indonesia menyatakan bahwa pelaku pemboman sebuah gereja di Pulau Jolo, Filipina, belum terkonfirmasi sebagai warga negara Indonesia (WNI).
Statemen ini disampaikan menyusul tuduhan yang dilontarkan oleh Menteri Dalam Negeri Filipina Eduardo Ano sebelumnya mengenai keterlibatan warga Indonesia dalam insiden tersebut.
Menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir, tim dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Polri telah berada di Jolo untuk membantu proses investigasi.
“Dari hasil identifikasi yang mereka lakukan atas potongan-potongan tubuh jenazah di gereja tersebut, semuanya cocok dengan sekitar 20-an jenazah yang DNA-nya terkonfirmasi sebagai korban,” kata Arrmanatha kepada wartawan di Jakarta, dilansir Antara Jumat (15/2)
Sepanjang proses investigasi yang masih berlangsung, belum dapat disimpulkan bahwa pelaku pemboman yang mengakibatkan 22 orang meninggal dunia dan 100 orang luka-luka adalah WNI.
Dugaan mengenai keterlibatan dua WNI sebagai pelaku bom bunuh diri yang mengakibatkan 22 orang meninggal dunia dan 100 orang luka-luka pertama kali disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri Filipina Eduardo Ano.
Pada 1 Februari lalu, Ano menyebut pelaku bom bunuh diri adalah pasangan suami istri WNI bernama Abu Huda dan seorang perempuan yang tidak disebutkan namanya.
Tapi, berdasarkan hasil pendalaman yang dilakukan KBRI Manila dan KJRI Davao, pihak intelijen Filipina (NICA) sendiri belum mengetahui dasar penyampaian informasi yang dilakukan Menteri Ano tentang keterlibatan WNI dalam insiden tersebut.
Iran, Turki dan Pakistan Dukung Industri Sawit Malaysia
Deputi Menteri Perindustrian Malaysia, Datuk Seri Shamsul Iskandar Mohd Akin mengatakan, Iran, Turki dan Pakistan menjadi pendukung Malaysia menghadapi sanksi ekspor minyak sawit yang diberlakukan Uni Eropa.
"Delegasi ekonomi dan هnvestasi Malaysia baru-baru ini dikirim ke Tehran, Ankara dan Karachi untuk membahas masalah ekspor minyak sawit di tengah sanksi yang diberlakukan Uni Eropa terhadap industri sawit Malaysia," ujar Deputi Menteri perindustrian Malaysia.
"Minyak sawit dipergunakan di berbagai industri di Iran, Turki dan Pakistan. Oleh karena itu potensinya besar, sehingga tidak perlu khawatir menghadapi sanksi Uni Eropa," tegasnya.
Menurutnya, penggunaan minyak sawit di Pakistan melebihi satu juta ton metrik, di Turki 700,000 ton metrik, dan di Iran 600,000 ton metrik.
Polisi Malaysia Tangkap Enam Tersangka Teroris
Pasukan Anti Terorisme Kepolisian Malaysia telah menangkap empat warga asing dan dua penduduk Malaysia, karena dicurigai terlibat dengan kelompok teroris.
Situs Bernama hari Jumat (15/2) melaporkan, Inspektur Jenderal Polisi Tan Sri Mohamad Fuzi Harun mengatakan mereka ditangkap dalam operasi di Johor, Selangor dan Sabah dari 19 Desember hingga 28 Januari.
"Mereka termasuk dua orang Malaysia dan empat warga negara asing dari Singapura, Bangladesh, Filipina, dan sebuah negara Asia Selatan," kata Fuzi Harun, Jumat (15/2).
Reuters melaporkan, salah seorang yang ditangkap adalah seorang warga Singapura berusia 48 tahun. Pria ini diduga berencana menyerang sebuah bangunan yang digunakan oleh Freemason di negara bagian Johor.
Dia juga diyakini memiliki hubungan dengan Akel Zainal, seorang warga Malaysia yang diidentifikasi sebagai anggota kelompok Daesh di Suriah.
Polisi juga menahan seorang tersangka anggota Kelompok Abu Sayyaf (ASG) dalam serangan terpisah di negara bagian Sabah timur, yang bekerja sebagai buruh. Tersangka 21 tahun itu diduga memiliki hubungan dengan pemimpin ASG, Furuji Indama.
Pembunuh Pengacara Muslim Myanmar Dijatuhi Hukuman Mati
Pengadilan Myanmar menjatuhkan hukuman mati terhadap dua orang terdakwa pembunuhan Ko Ni, pengacara Muslim yang juga penasihat negara, Aung San Suu Kyi.
CNN melaporkan, Hakim Khin Maung Maung memvonis Kyi Lin dengan hukuman mati. Ia juga menembak dan membunuh seorang sopir taksi ketika melarikan diri.
Asisten Kyi, Aung Win Zaw, yang juga berada di lokasi kejadian saat pembunuhan terjadi, juga dijatuhi hukuman mati.
Dua terdakwa lainnya, Zeya Phyo dan Aung Win Tun, menerima hukuman masing-masing lima tahun dan tiga tahun penjara dengan kerja paksa.
Ko Ni, yang selama ini menjadi target ujaran kebencian online oleh para nasionalis Budha, ditembak dari jarak dekat tepat di kepala di luar bandara Yangon pada Januari 2017.(PH)