Iran Aktualita, 26 Oktober 2019
https://parstoday.ir/id/news/other-i75053-iran_aktualita_26_oktober_2019
Perkembangan Iran selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya Iran Menyambut Perjanjian Turki-Rusia terkait Suriah Utara.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Okt 26, 2019 07:15 Asia/Jakarta
  • Menlu Iran pada pertemuan menlu negara-negara anggota Gerakan Non-Blok di Baku.
    Menlu Iran pada pertemuan menlu negara-negara anggota Gerakan Non-Blok di Baku.

Perkembangan Iran selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya Iran Menyambut Perjanjian Turki-Rusia terkait Suriah Utara.

Isu lainnya adalah statemen menlu Iran mengenai sanksi sepihak Amerika Serikat, kesiapan Angkatan Bersenjata Iran untuk menghadapi kekuatan arogan, dan terakhir pidato Presiden Hassan Rouhani di KTT Gerakan Non-Blok (GNB) di Baku, Azerbaijan.

Iran Menyambut Perjanjian Turki-Rusia terkait Suriah Utara

Kementerian Luar Negeri Iran menyambut perjanjian antara Turki dan Rusia terkait penghentian operasi militer di Suriah Utara sebagai langkah positif. Dalam sebuah statemen hari Rabu (23/10/2019), juru bicara Kemenlu Iran Abbas Mousavi mengatakan Tehran menyambut setiap inisiatif yang bertujuan menjaga integritas teritorial Suriah.

"Iran menyambut segala tindakan yang akan menjaga integritas teritorial Suriah, memperkuat kedaulatan nasional serta mengarah pada pemulihan stabilitas dan ketenangan di kawasan itu," tambahnya.

Sebelum ini, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan mitranya dari Rusia, Vladimir Putin menyetujui sebuah perjanjian 10 butir yang bertujuan mengakhiri operasi militer Turki di Suriah Utara. Perjanjian itu meminta semua pihak untuk menjaga kedaulatan dan persatuan Suriah. Semua milisi Kurdi juga harus ditarik dari kota Manbij dan Tall Rifat, Suriah Utara.

Mousavi menambahkan bahwa Tehran menganggap perjanjian antara Ankara dan Moskow untuk mengakhiri bentrokan militer di Suriah Utara sebagai langkah positif demi memulihkan stabilitas dan mengembalikan ketenangan. "Kami berharap perjanjian tersebut akan mengatasi masalah keamanan Turki di satu sisi, dan mempertahankan integritas wilayah Suriah serta memperkuat kedaulatan nasionalnya di sisi lain," kata Mousavi.

Menurutnya, Republik Islam Iran selalu mendukung dialog dan cara-cara damai untuk mengakhiri perselisihan. Oleh karena itu, kami selalu mendorong pihak yang bertikai untuk membangun dialog demi mencapai sebuah kesepakatan. Mousavi juga menegaskan bahwa Iran menganggap Perjanjian Adana sebagai dasar yang tepat untuk menyampaikan kekhawatiran Turki dan Suriah.

Ilustrasi kehadiran pasukan militer Turki di Suriah Utara.

Menlu Iran: Sanksi AS Rusak Perdagangan Global

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, mengatakan kecanduan AS untuk menerapkan sanksi terhadap negara lain dan bahkan kekuatan besar seperti Cina dan Rusia, telah melemahkan prinsip hubungan internasional serta membahayakan kehidupan jutaan orang dan perdagangan global.

Dia menyampaikan hal itu dalam pertemuan para menlu negara-negara anggota Gerakan Non-Blok (GNB) di Baku, Ibukota Azerbaijan, Rabu (23/10/2019). Menurut Zarif, sebuah konsensus global perlu digalang untuk melawan arogansi Amerika.

"Sangat mendesak bagi masyarakat internasional untuk mengambil sikap yang sama demi memaksa AS meninggalkan jalan yang berbahaya ini untuk menghindari munculnya sebuah tragedi global," tegasnya.

Menlu Iran menandaskan bahwa adanya gerakan untuk melecehkan diplomasi, multilateralisme dan kerja sama internasional, telah meningkatkan tantangan serius di seluruh dunia serta menimbulkan keraguan dan ketidakpastian.

"Asia Barat sangat menderita akibat permusuhan terhadap tatanan global. Hak kemerdekaan Palestina sebagai salah satu tujuan utama GNB, sedang diinjak-injak oleh kebijakan sepihak dan destruktif AS, terlebih karena sikap ilegal dan berbahaya negara itu mengenai Quds dan Golan," ungkap Zarif.

Pada kesempatan itu, menlu Iran juga menyoroti kekejaman mengerikan terhadap rakyat Yaman dan konsekuensi regional dari perang yang didukung penuh oleh AS itu. "Kekejaman ini sedang berada di luar kendali dan menyebabkan meningkatnya ketegangan serta memperburuk ketidakamanan di kawasan," pungkasnya.

Brigjen Amir Hatami.

Angkatan Bersenjata Iran Siap Ladeni Kekuatan Arogan

Menteri Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Amir Hatami mengatakan, Angkatan Bersenjata Iran siap menghadapi ancaman dan arogansi musuh dalam mempertahankan perbatasan wilayah Republik Islam.

Dalam pernyataan kepada wartawan seusai menghadiri sidang kabinet di Tehran, Brigjen Hatami menambahkan hari ini musuh menghadapi sebuah bangsa yang benar-benar bersatu dan 'arif yang didukung oleh angkatan bersenjata yang sangat kuat.

Brigjen Hatami, seperti dikutip IRNA, Rabu (23/10/2019) menandaskan sejauh ini konspirasi-konspirasi musuh terhadap sistem Republik Islam telah gagal. "Tidak diragukan lagi bahwa jika musuh berbuat sebuah kesalahan, maka mereka akan menerima respons yang jauh lebih memalukan daripada rasa malu yang mereka terima selama ini," pungkasnya.

Sementara itu, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Ramazan Sharif mengatakan Angkatan Bersenjata Iran akan membalas tegas pergerakan sekecil apapun dari arah musuh.

Dalam sebuah pernyataan di kota Kerman, Iran Selatan, Rabu (23/10/2019), Brigjen Sharif menambahkan, kemampuan defensif Iran bahkan membuat musuh tidak berani melakukan invasi ke negara ini.

Presiden Hassan Rouhani di KTT Gerakan Non-Blok di Baku, Azerbaijan.

Rouhani: Pengobaran Perang AS Picu Api Terorisme

Presiden Republik Islam Iran dalam pidatonya di KTT ke-18 Gerakan Non Blok (GNB) menilai kebijakan unilateralisme Amerika sebagai faktor mendasar kemunculan terorisme di berbagai belahan dunia.

Seperti dilaporkan pusat penerangan pemerintah, Hassan Rouhani di KTT ke 18 GNB hari Jumat (25/10/2019) di Baku, Republik Azerbaijan mengatakan, pengobaran perang Amerika menghabiskan dana miliaran dolar negara lain dan memunculkan akar fitnah serta terorisme.

"GNB dengan dukungan banyak masyarakat dan wilayah geografi yang luas serta mengingat sikap mereka di komunitas internasional, dengan mudah mampu menciptakan kutub kekuatan baru di dunia," ungkapnya.

Mengenai instabilitas terbaru di kawasan, Rouhani mengatakan, solusi tunggal untuk keluar dari krisis ini adalah menghormati hak berbagai bangsa dalam menentukan nasibnya sendiri, komitmen tidak mengintervensi urusan internal negara lain serta menciptakan peluang yang tepat untuk interaksi dan dialog.

Terkait jaminan keamanan kawasan, Rouhani menandaskan, Iran telah mengajukan prakarsa perdamaian Hormuz di Sidang Majelis Umum PBB untuk perdamaian dan stabilitas kawasan di mana tujuan dari inisiatif ini adalah meningkatkan perdamaian, stabilitas, kemajuan dan menciptakan kesepahaman timbal balik serta hubungan damai dan bersahabat antar negara di kawasan Teluk Persia serta Selat Hormuz.

"Republik Islam meyakini bahwa stabilitas dan keamanan tetangga, stabilitas dan keamanan dunia. Keamanan dan pembangunan regional hanya dapat diraih melalui kerja sama dan partisipasi kolektif negara-negara tetangga," pungkasnya. (RM)