Transformasi Asia Barat, 11 Desember 2021
-
Rudal-rudal milik pasukan Yaman.
Perkembangan di Asia Barat dalam beberapa hari terakhir diwarnai oleh berbagai isu di antaranya, pasukan Yaman terus membuat kemajuan di Marib dan Arab Saudi membunuh ribuan wanita dan anak-Anak Yaman.
Selain itu, Irak mengumumkan berakhirnya misi pasukan koalisi internasional, rezim Zionis mengkhawatirkan serangan baru Hamas, dan terakhir tentang alasan Uni Emirat Arab mendekat ke Iran.
Pasukan Yaman Rebut Pangkalan Al Qaeda di Marib
Militer dan komite rakyat Yaman berhasil menguasai penuh pangkalan terbesar Al Qaeda di selatan Provinsi Marib, setelah terlibat pertempuran sengit melawan kelompok teroris itu.
Dikutip situs ypagency.net, Sabtu (11/12/2021), pasukan Yaman setelah bertempur sengit melawan pasukan Koalisi Arab Saudi, berhasil merebut pangkalan terbesar Al Qaeda di wilayah Wadi Obeida, selatan Marib.
Pasukan Yaman juga berhasil merebut gudang senjata dan amunisi besar di pangkalan tersebut. Al Qaeda bermaksud menggunakan senjata-senjata di gudang itu untuk melancarkan aksi teror saat pasukan Yaman menguasai total Marib.
Pada Februari 2021, Partai Al Islah, afiliasi pemerintah terguling Yaman pimpinan Abd Rabbuh Mansour Hadi, mengerahkan lebih dari 150 anggota Al Qaeda dari Provinsi Hadhramaut, 100 teroris dari Provinsi Al Bayda, dan 70 teroris dari Abyan, ke Marib.
Saudi Bunuh Ribuan Wanita dan Anak-Anak Yaman
Invasi koalisi agresor yang dipimpin Arab Saudi ke Yaman sejak Maret 2015 hingga kini menewaskan 2.412 wanita dan melukai 2.825 orang lainnya. Kantor berita Saba melaporkan, organisasi Yaman yang mendukung hak-hak anak dan perempuan, Intisaf, pada Kamis (9/12/2021) pada peringatan Hari Hak Asasi Manusia Internasional mengumumkan agresi militer Saudi di Yaman menewaskan lebih dari 3.825 anak-anak dan melukai 4.157 lainnya.
Intisaf menambahkan bahwa serangan Saudi terhadap rumah sakit dan pusat kesehatan Yaman telah membuat perempuan di negara ini kehilangan akses terhadap layanan kesehatan.
Laporan tersebut selanjutnya mengungkapkan sebanyak 1,2 juta wanita Yaman menderita kekurangan gizi, dan setengahnya sedang hamil. Selain itu, delapan ribu wanita meninggal setiap tahun akibat blokade, dan 70 persen obat-obatan tidak tersedia di Yaman.
Serangan koalisi Saudi terhadap pusat-pusat pendidikan, blokade ekonomi dan tidak dibayarnya gaji menyebabkan perempuan kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan. Di antara para pengungsi, ada delapan ratus ribu perempuan yang dianiaya akibat pengungsian.
Menurut laporan tersebut, ada 65.000 pasien menderita tumor kanker di Yaman, banyak di antaranya adalah wanita, yang berisiko meninggal akibat penutupan bandara Sanaa.
Irak Umumkan Berakhirnya Misi Militer Koalisi Internasional
Pemerintah Irak secara resmi mengumumkan berakhirnya misi militer Koalisi Internasional pimpinan AS di negaranya. Qasim al-Araji, Penasihat Keamanan Nasional Irak hari Kamis (9/12/2021) mengumumkan secara resmi akhir dari kehadiran misi pasukan tempur koalisi internasional di negaranya.
Al-Araji dalam cuitan di Twitternya menegaskan, "Berdasarkan putaran terakhir pembicaraan dengan pejabat koalisi internasional yang dimulai tahun lalu, kami secara resmi mengumumkan akhir misi militer koalisi dan penarikan mereka dari Irak."
"Kerja sama dan komunikasi dengan Koalisi Internasional di bidang pelatihan, pemberdayaan dan bantuan akan terus berlanjut," tegasnya.
Sabtu lalu, Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi dan Duta Besar AS untuk Baghdad Matthew Toller membahas penarikan pasukan AS dari negara itu.
Menurut sebuah pernyataan dari Kantor Perdana Menteri Irak, al-Kadhimi dan Tuller membuat kemajuan dalam mengakhiri peran tempur pasukan koalisi internasional di Irak di bawah ketentuan "dialog strategis" antara Baghdad dan Washington dan mengubah misi mereka menjadi peran penasihat. Para pejabat Washington sebelumnya telah menyatakan bahwa pasukan AS akan meninggalkan Irak pada 31 Desember 2021.
Rezim Zionis Khawatirkan Serangan Baru Hamas
Rezim Zionis mengkhawatirkan kemungkinan serangan Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas. Menurut televisi Al-Mayadeen, media rezim Zionis hari Kamis (9/12/2021) melaporkan badan keamanan Israel membahas ancaman Hamas untuk meningkatkan ketegangan militer, karena Tel Aviv membuang-buang waktu dan tidak serius untuk merekonstruksi Jalur Gaza.
Jurnalis Zionis di laman Twitter menyinggung ancaman ini, dengan mengatakan, "Ancaman Hamas bukanlah kata-kata kosong dan penipuan. Langkah pertama adalah ancaman yang diikuti dengan mengiriman balon pembakar, penembakan rudal dan roket sesekali dari waktu ke waktu, dan akhirnya, babak baru perang dan aksi militer,".
Sebelumnya, tentara Israel menutup sejumlah pangkalan dan jalan di dekat Gaza, karena mengkhawatirkan kemungkinan serangan Hamas.
Surat kabar Zionis Haaretz mengutip sumber keamanan di Jalur Gaza yang mengatakan bahwa tentara Israel telah menutup sejumlah jalan dan pangkalan di Jalur Gaza karena takut akan rudal anti-tank dan tembakan penembak jitu Hamas.
Gerakan Hamas baru-baru ini dalam sebuah pernyataan menegaskan mereka akan melanjutkan serangannya jika rezim Israel tidak mematuhi perjanjian yang ditandatangani setelah melancarkan serangan operasi baru-baru ini di Jalur Gaza.
Sementara itu, Israel selama ini mengklaim tembok pintar di perbatasan Jalur Gaza miliknya tidak dapat ditembus, tapi para pejuang Palestina berhasil menemukan jalan untuk menerobosnya, dan mengakhiri kegembiraan Zionis.
Surat kabar Lebanon, Al Akhbar, Kamis (9/12/2021) melaporkan, kelompok perlawanan Palestina berhasil menemukan jalan untuk menembus tembok pintar Israel di perbatasan Gaza. Tembok tersebut dibangun Israel untuk melawan ancaman tunel-tunel perlawanan Palestina.
Ini Tiga Alasan Mengapa UEA Mulai Mendekat ke Iran
Seorang pejabat pemerintah Uni Emirat Arab dalam wawancara dengan media Amerika Serikat, Axios mengungkap tiga alasan perubahan kebijakan negara ini terkait Iran, Qatar dan Turki.
Seorang pejabat UEA, Rabu (8/12/2021) dalam wawancara dengan situs berita Axios, mengungkap tiga alasan mengapa negaranya berusaha mereduksi ketegangan hubungan dengan Iran, Qatar dan Turki.
Tanpa menyebut identitas pejabat UEA itu, Axios menjelaskan, tiga alasan utama mengapa UEA mengubah kebijakannya terkait Iran, Qatar dan Turki, pertama, campur tangan UEA dalam perang di Yaman dan Libya yang menyebabkan kerugian finansial, diplomatik dan identitas nasional negara ini.
Kedua, perekonomian UEA menerima pukulan telak akibat penyebaran wabah virus Corona, dan ketiga, tidak adanya kepastian jaminan dari AS di kawasan sehingga menyebabkan keraguan UEA, dan Abu Dhabi merasa tidak ada seorang pun yang akan menolongnya.
Menurut pejabat UEA itu, kekhawatiran Abu Dhabi menguat terutama setelah mantan Presiden AS Donald Trump menolak membalas serangan ke fasilitas minyak Arab Saudi, Aramco, dan serangan ke kapal-kapal di dekat pelabuhan UEA.
Pada Senin lalu, Penasihat Keamanan Nasional UEA Syeikh Tahnoun bin Zayed Al Nahyan melakukan kunjungan ke Iran, dan bertemu dengan Penasihat Keamanan Nasional Iran, Ali Shamkhani, dan Presiden Iran Ebrahim Raisi. (RM)