Ribuan Pengungsi dan Korban Terluka Gaza Menanti Bantuan Darurat
-
Warga Gaza
Meski Israel di bawah tekanan global memberikan ijin pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza, itu pun setelah pemeriksaan panjang, tapi bantuan yang dikirim dari sisi kualitas dan kuantitas belum mencukupi kebutuhan warga Gaza.
Dengan demikian tragedi kemanusiaan akibat serangan besar-besaran rezim Zionis ke pemukiman dan warga sipil, setiap hari memunculkan dimensi baru, khususnya serangan brutal rezim sadis Israel ini terus berlanjut.
Distrik Al Qarara di utara Khan Yunis, Tel al-Sultan di barat Rafah, Kota Beit Lahiya, Kota Jabaliya dan sekitar rumah sakit al-Aqsa di kota Deir Balah kemarin malam menjadi sasaran serangan rezim Zionis.
Militer Israel seraya mengakui berlanjutnya serangan ini, Selasa (24/10/2023) pagi menyatakan bahwa dalam 24 jam lalu, mereka telah melancarkan serangan ke 400 titik di kawasan ini.
UNRWA Selasa pagi seraya menjelaskan bahwa dalam serangan ini sedikitnya 135 warga Palestina syahid, menyatakan bahwa enam personel Palestina di lembaga ini juga meninggal.
Dengan demikian, penghentian serangan merupakan kebutuhan pertama dan mukadimah bagi pengiriman bantuan kemanusiaan kepada lebih dari dua juta warga Jalur Gaza.
Sekaitan dengan ini, Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi Selasa dini hari dalam kontak telepon dengan Menlu Otorita Ramallah, Riyad al-Maliki mengatakan, "Apa yang lebih dibutuhkan oleh Jalur Gaza adalah upaya untuk menghentikan perang dan menyebarkan perdamaian, bukan perhitungan geopolitik. Dan apa yang sangat dibutuhkan warga Gaza adalah keamanan, makanan dan obat-obatan."
Menurut keterangan Departemen Kesehatan Palestina di Gaza, lebih dari 5 ribu warga Palestina sampai saat ini gugur dalam konflik, dan diperkirakan 2.055 di antaranya adalah anak-anak dan 1.119 adalah perempuan. Dalam serangan ini lebih dari 15 ribu orang terluka.
Menyusul serangan terbaru Israel ke Gaza, 5.500 bangunan mencakup 14.200 unit rumah hancur total, dan dengan demikian warga yang masih terjebak dalam reruntuhan bangunan nantinya bakal menambah jumlah syuhada. Sedangkan keterlambatan pengiriman bantuan medis dan kegagalan rumah sakit juga menyebabkan banyaknya korban luka yang kini bisa dirawat, juga akan menambah jumlah syuhada.
Sumber medis di Gaza menyatakan bahwa listrik rumah sakit Indonesia di Jalur Gaza sepenuhnya terputus, dan instalasi vitalnya juga lumpuh karena kehabisan bahan bakar. Bahkan tim medis terpaksa menggunakan lampu senter HP saat mengobati pasien. Selain itu, karena lumpuhnya peralatan dan tidak adanya instalasi medis lain, para dokter juga terpaksa melakukan operasi bedah tanpa obat bius, dan kondisi sangat mengerikan.
Berdasarkan hal tersebut, sejak awal perang, rezim Zionis dengan sengaja mencoba membunuh lebih banyak warga Palestina dengan menggunakan senjata ilegal seperti bom fosfor atau penghancur benteng di pemukiman dan wilayah sipil Gaza. Bahkan hingga saat ini, meski menyetujui pengiriman terbatas bantuan kemanusiaan ke Gaza, Israel tetap melanjutkan pendekatan tidak manusiawi ini dengan mencegah pasokan bahan bakar ke rumah sakit dan melanjutkan serangan terhadap wilayah sipil serta berupaya meningkatkan korban jiwa warga Palestina. (MF)