Mengapa Israel Melanjutkan Kebijakan Kelaparan terhadap Rakyat Palestina?
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i181102-mengapa_israel_melanjutkan_kebijakan_kelaparan_terhadap_rakyat_palestina
Pars Today – UNRWA mengonfirmasikan sabotase dan pelanggaran rezim Zionis Israel terkait masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.
(last modified 2025-11-26T10:30:21+00:00 )
Nov 26, 2025 17:28 Asia/Jakarta
  • Mengapa Israel Melanjutkan Kebijakan Kelaparan terhadap Rakyat Palestina?

Pars Today – UNRWA mengonfirmasikan sabotase dan pelanggaran rezim Zionis Israel terkait masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.

UNRWA dalam sebuah statemen mengonfirmasi sabotase rezim Zionis terkait masuknya bantuan ke Jalur Gaza. Adnan Abu Hasna, penasihat media UNRWA seraya mengisyartkan sabotase ini mengatakan: UNRWA memiliki cukup bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan Jalur Gaza selama tiga bulan, tetapi Israel mencegahnya memasuki Gaza.

 

Situasi di Gaza kritis dan semakin memburuk setiap hari. Kantor Media Otoritas Palestina di Gaza mengumumkan dalam laporan terbarunya bahwa satu juta orang di Gaza kelaparan setiap hari, bahkan pada hari-hari ketika ada apa yang disebut gencatan senjata. Menurut laporan tersebut, hampir 42 persen penduduk Jalur Gaza tidak menerima makanan apa pun pada siang hari, dan 58 persen sisanya hanya memiliki akses ke satu kali makan.

 

Di sisi lain, hujan lebat dan suhu dingin yang ekstrem telah membanjiri tenda-tenda pengungsi, meninggalkan ribuan warga Palestina, termasuk anak-anak, perempuan, dan orang sakit, dalam kondisi yang sulit dan tidak manusiawi. Memasuki musim dingin telah membuat situasi kemanusiaan hampir satu setengah juta pengungsi semakin kritis; sehingga kelanjutan kondisi ini tanpa masuknya tenda dan karavan pemukiman akan mengakibatkan bencana kemanusiaan yang besar. Sementara itu, Israel terus mencegah masuknya makanan, obat-obatan, tenda, dan pasokan penting yang dibutuhkan oleh warga Palestina.

 

Stephane Dujarric, juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, memperingatkan: Ratusan tenda dan tempat penampungan sementara di Gaza telah terendam banjir akibat hujan lebat, dan ribuan keluarga telah terpapar kondisi cuaca yang sangat buruk. Sementara itu, Israel telah menolak 23 permintaan PBB untuk memasukkan hampir 4.000 barang penting, termasuk tenda, ke Gaza.

 

UNRWA sebelumnya telah melaporkan kelanjutan kebijakan kelaparan struktural di Gaza dan eskalasi krisis kemanusiaan di tengah kekurangan sumber daya keuangan yang parah. Faktanya, kelanjutan kebijakan ini oleh rezim Zionis semakin menunjukkan kegagalan rezim tersebut dalam mematuhi hukum dan kewajiban internasional. Meskipun gencatan senjata di Gaza telah tercapai, otoritas Zionis masih berusaha memaksa warga Palestina untuk bermigrasi dan menjalankan kebijakan genosida dengan menerapkan kebijakan pembatasan berbagai aspek pangan, obat-obatan, dan bantuan. Kelanjutan kebijakan ini, terutama dalam beberapa bulan terakhir, telah menyebabkan penduduk Gaza semakin terkepung oleh kemiskinan, kelaparan, penyakit, dan kekerasan. Bantuan kemanusiaan yang diberikan oleh organisasi internasional seperti UNRWA bagi rakyat Gaza justru menjangkau mereka yang membutuhkan dalam jumlah terbatas dan kecil akibat hambatan yang diciptakan oleh Israel.

 

Pembatasan bantuan ke Gaza bukan hanya pelanggaran hak asasi manusia yang nyata, tetapi juga kejahatan perang berdasarkan hukum internasional, khususnya Konvensi Jenewa. Namun, rezim Zionis secara efektif kebal terhadap tuntutan hukum, mengandalkan dukungan politik dan militer dari beberapa negara, termasuk Amerika Serikat.

 

Di sisi lain, banyak negara Barat kini bungkam menghadapi pelanggaran hukum dan hak asasi manusia tersebut. Negara-negara yang selalu menyuarakan hak asasi manusia dan perlunya penerapan hukum internasional kini hanya menonton secara pasif, dan beberapa terus mendukung Israel secara diam-diam maupun terang-terangan. Jika situasi ini berlanjut, banyak orang di Gaza akan mati kelaparan dan penyakit.

 

Terlepas dari kondisi ini, perlawanan Palestina terus berlanjut. Mereka tidak hanya melawan tantangan fisik, tetapi juga kebijakan rezim Zionis dan para pendukungnya yang memalukan dan kejam, membuktikan bahwa perlawanan mereka telah menjadi kekuatan yang tak berujung. Mereka telah berulang kali menunjukkan bahwa bahkan dalam kondisi kehidupan yang paling sulit sekalipun, mereka tetap berkomitmen pada cita-cita dan tanah air mereka.

 

Akhirnya, harus dikatakan bahwa krisis kemanusiaan di Gaza saat ini, lebih dari sebelumnya, membutuhkan tindakan segera dari komunitas internasional. Berdiam diri dalam menghadapi kondisi ini tidak hanya berarti mengabaikan pelanggaran hak asasi manusia yang nyata, tetapi juga berarti mendampingi bencana yang mengancam nyawa ribuan orang tak berdosa setiap hari. Hanya dengan memberikan tekanan serius kepada rezim Zionis untuk mencabut pengepungan dan memberikan bantuan vital, kita dapat berharap bahwa rakyat Gaza akan diselamatkan dari situasi kritis ini. (MF)