Gaza Diserang Militer Rezim Zionis, Tepi Barat Saksikan Kebangkitan Perlawanan
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i181306-gaza_diserang_militer_rezim_zionis_tepi_barat_saksikan_kebangkitan_perlawanan
Pars Today - Dalam 24 jam terakhir, tentara rezim Zionis dengan ledakan dahsyat dan tembakan berat terus melanggar perjanjian gencatan senjata di Gaza, sementara Tepi Barat menyaksikan gelombang baru perlawanan rakyat.
(last modified 2025-11-30T09:45:39+00:00 )
Nov 30, 2025 11:56 Asia/Jakarta
  • Tentara Zionis
    Tentara Zionis

Pars Today - Dalam 24 jam terakhir, tentara rezim Zionis dengan ledakan dahsyat dan tembakan berat terus melanggar perjanjian gencatan senjata di Gaza, sementara Tepi Barat menyaksikan gelombang baru perlawanan rakyat.

Menurut laporan hari Minggu (30/11/2025) IRNA mengutip media Palestina, Militer Rezim Zionis pada Sabtu (29/11) malam kembali melanggar gencatan senjata dengan melancarkan operasi besar di timur Kota Gaza dan Rafah.

Ledakan dahsyat dari operasi ini mengguncang wilayah luas di selatan dan barat laut Jalur Gaza, sementara tank dan kendaraan militer rezim Zionis menembaki kawasan timur Khan Younis dan kamp Al-Bureij dengan tembakan berat.

Media Palestina melaporkan bahwa sejak dimulainya gencatan senjata pada 10 Oktober lalu, tentara rezim Zionis telah melanggar lebih dari seribu kali gencatan senjata.

Rincian serangan terbaru di Gaza

Dalam beberapa jam terakhir, jet tempur rezim Zionis menargetkan distrik Al-Tuffah di timur Gaza dan menciptakan “sabuk api” di Kota Rafah. Tembakan berat juga dilaporkan di timur laut kamp Al-Bureij dan timur Khan Younis.

Selain itu, artileri tentara rezim Zionis menargetkan kawasan timur kamp Al-Bureij dan timur Gaza, sementara rumah-rumah warga di Rafah dan Gaza dihancurkan melalui operasi peledakan.

Gelombang baru perlawanan rakyat di Tepi Barat

Pusat Informasi Palestina mengumumkan bahwa dalam 48 jam terakhir, 26 operasi perlawanan tercatat di Tepi Barat, termasuk bentrokan bersenjata, pelemparan batu, demonstrasi, dan perlawanan terhadap pemukim Zionis.

Di Quds yang diduduki, warga Hazma menanggapi serangan pemukim Zionis dengan pelemparan batu.

Di Ramallah, wilayah Ni’lin, Kafr Malik, Silwad, Al-Bireh, dan Deir Jarir menyaksikan bentrokan dan demonstrasi. Di Jenin, terjadi bentrokan bersenjata di Jabal Abu Dhahir, sementara wilayah Silat Al-Harithiya dan Qabatiya juga menyaksikan demonstrasi besar.

Meluasnya bentrokan di Nablus, Tulkarm, dan Al-Khalil

Di Nablus, wilayah Deir Al-Hatab, Salem, dan Sahel Beit Furik menjadi ajang bentrokan antara kelompok perlawanan rakyat dan tentara rezim Zionis, disertai pelemparan batu ke arah pasukan pendudukan.

Warga Tulkarm di daerah Al-Wajh Al-Shami dan Al-Mirmiya juga bentrok dengan pemukim Zionis.

Di Betlehem, terdengar tembakan di dekat pos pemeriksaan Al-Infaaq, sementara di Al-Khalil, wilayah Tarqumiya, Dura, Idhna, dan Beit Ummar menyaksikan bentrokan luas dengan pelemparan batu.

Pengepungan Tulkarm dan penghancuran infrastruktur

Media Palestina melaporkan bahwa pasukan rezim Israel membakar rumah seorang warga Palestina bernama Ra’fat Ghanem di kamp Nur Shams. Kamp ini telah dikepung selama 294 hari berturut-turut, dan tentara rezim Zionis mengubah rumah-rumah di kamp tersebut menjadi pangkalan militer.

Penghancuran luas terhadap infrastruktur termasuk air, listrik, dan jaringan layanan dilaporkan terjadi di kamp ini. Sementara itu, kamp Tulkarm juga berada di bawah tekanan dan pengepungan selama 307 hari berturut-turut, dengan warga dilarang memasuki rumah mereka.

Latar belakang perang Gaza

Rezim Zionis pada 7 Oktober 2023 memulai perang terhadap Jalur Gaza dengan dua tujuan utama: menghancurkan gerakan Hamas dan mengembalikan tawanan Zionis dari wilayah tersebut. Namun, rezim ini gagal mencapai tujuan tersebut dan terpaksa menyetujui kesepakatan dengan Hamas untuk pertukaran tawanan.

Gerakan Hamas pada Kamis, 9 Oktober 2025, melalui pernyataan resmi mengumumkan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang di Jalur Gaza dan melakukan pertukaran tawanan.

Tentara rezim Israel pada Jumat siang, 10 Oktober 2025, secara resmi mengumumkan pelaksanaan gencatan senjata di Jalur Gaza dan menyatakan bahwa berdasarkan kesepakatan, pasukan Israel akan tetap ditempatkan di wilayah tertentu Jalur Gaza, sementara pergerakan dari selatan ke utara Jalur Gaza melalui Jalan Al-Rashid dan Jalan Salah al-Din diperbolehkan. Namun, rezim Zionis terus menghalangi pelaksanaan ketentuan tahap pertama gencatan senjata dan berulang kali melanggarnya.(sl)