Menyerah atau Bertahan; Pilihan Mana yang Menyelamatkan Bangsa dari Proyek Pemusnahan?
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i183758-menyerah_atau_bertahan_pilihan_mana_yang_menyelamatkan_bangsa_dari_proyek_pemusnahan
Surat kabar Al-Akhbar Lebanon, dengan merujuk pada watak perang Amerika Serikat, menulis bahwa ketika biaya menyerah dan melawan sama besarnya, maka keteguhan untuk bertahan menjadi satu-satunya jalan bagi bangsa-bangsa.
(last modified 2026-01-07T03:38:30+00:00 )
Jan 07, 2026 10:35 Asia/Jakarta
  • Menyerah atau Bertahan; Pilihan Mana yang Menyelamatkan Bangsa dari Proyek Pemusnahan?

Surat kabar Al-Akhbar Lebanon, dengan merujuk pada watak perang Amerika Serikat, menulis bahwa ketika biaya menyerah dan melawan sama besarnya, maka keteguhan untuk bertahan menjadi satu-satunya jalan bagi bangsa-bangsa.

Dalam sebuah analisis, surat kabar Al-Akhbar Lebanon menegaskan bahwa tidak ada teka-teki dalam logika “patuh atau musnah”, sebab ketika harga menyerah dan perlawanan setara, maka sikap bertahan berubah menjadi satu-satunya pilihan yang bermakna bagi bangsa-bangsa.

Menurut laporan Pars Today, Al-Akhbar dalam analisis yang ditulis oleh Ibrahim al-Amin menyebut bahwa perilaku kekuatan hegemonik global (Amerika Serikat) menunjukkan bahwa tujuannya bukan mencapai kompromi, melainkan memaksakan kehendak sepenuhnya dan menyingkirkan segala bentuk penentangan.

Penulis menggambarkan kekuatan tersebut sebagai “monster perang” dan menambahkan bahwa logika yang mendasari tindakan Amerika adalah pengabaian total terhadap prinsip moral, hukum internasional, dan kedaulatan bangsa-bangsa. Berbagai instrumen seperti perang langsung, pengepungan ekonomi, sanksi, kelaparan, bahkan penyebaran penyakit, semuanya digunakan dalam kerangka yang sama.

Ia juga menyinggung terjadinya perpecahan sosial dalam menghadapi ancaman semacam itu. Sebagian masyarakat memandang keselamatan ada pada sikap menyerah dan menerima syarat-syarat yang dipaksakan, dengan harapan bahwa keadaan akan berubah di masa depan. Sebaliknya, kelompok lain meyakini bahwa yang dihadapi adalah sebuah proyek pemusnahan total, di mana menyerah atau bertahan tidak mengubah hakikat ancaman, tetapi perlawanan mampu mengubah arah sejarah.

Untuk mendukung pandangan tersebut, al-Amin merujuk pada berbagai pengalaman sejarah; mulai dari runtuhnya kekaisaran-kekaisaran yang bertahan berabad-abad, mundurnya kekuatan kolonial Eropa, hingga kekalahan mahal Amerika Serikat dalam perang Irak, Afghanistan, dan wilayah lain di dunia. Menurutnya, perubahan-perubahan tersebut bukanlah hasil dari “rasionalitas menyerah”, melainkan buah dari perlawanan yang terorganisasi dan sadar.

Penulis menegaskan bahwa arus yang mendukung penyerahan diri, dengan membesar-besarkan kekuatan musuh, pada dasarnya telah menerima kekalahan bahkan sebelum pertempuran dimulai, dan kerap berujung pada ketertarikan serta keterikatan dengan kekuatan dominan, meskipun kekuatan tersebut secara terang-terangan melakukan kejahatan.

Sejarah, lanjutnya, menunjukkan bahwa hasil dari pendekatan ini bukanlah keamanan dan kesejahteraan, melainkan berubahnya pihak yang menyerah menjadi alat pelaksana kebijakan kekuatan tersebut.

Al-Amin juga mengingatkan bahwa perang modern tidak lagi terbatas pada medan militer semata. Sanksi ekonomi, tekanan terhadap kehidupan rakyat, dan upaya destabilisasi sosial merupakan kelanjutan dari perang yang sama dengan instrumen berbeda. Dari sudut pandang ini, menyerah bukan hanya gagal mencegah penderitaan dan kekerasan, tetapi justru membuka jalan bagi tekanan yang lebih besar.

Dalam bagian lain laporan analitis ini, disinggung pula pengalaman Lebanon dalam menghadapi pendudukan. Disebutkan bahwa perlawanan, meskipun penuh biaya dan pengorbanan, berhasil menggagalkan tujuan para penjajah, tanpa kendali atas keputusan perang dan pengepungan berada di tangannya.(PH)