Peningkatan Manuver AS di Irak Jelang Pembebasan Mosul
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i21496-peningkatan_manuver_as_di_irak_jelang_pembebasan_mosul
Di saat Irak tengah bersiap memulai operasi pembebasan Mosul dari pendudukan kelompok teroris Daesh, manuver diplomatik dan militer Amerika Serikat di negara itu cenderung mengalami peningkatan.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Sep 25, 2016 19:01 Asia/Jakarta
  • tentara Amerika di Irak
    tentara Amerika di Irak

Di saat Irak tengah bersiap memulai operasi pembebasan Mosul dari pendudukan kelompok teroris Daesh, manuver diplomatik dan militer Amerika Serikat di negara itu cenderung mengalami peningkatan.

Pasca kunjungan sebuah delegasi Amerika yang dipimpin Antony J. Blinken, Deputi Menteri Luar Negeri Amerika ke Erbil, pekan lalu dan pertemuan delegasi itu dengan pejabat wilayah Kurdistan Irak termasuk Masoud Barzani, Pemimpin wilayah itu, Jenderal Joseph Votel, Komandan Staf Komando Pusat Angkatan Bersenjata Amerika di Timur Tengah dan Afrika juga melakukan kunjungan yang sama ke Erbil, Jumat (23/9).

Joseph Votel juga bertemu dengan Masoud Barzani. Tema pembicaraan mereka adalah operasi pembebasan Mosul dari pendudukan Daesh dan dampak-dampaknya. Amerika saat ini tengah mengkaji upaya pengiriman 500 tentara tambahan ke Irak yang jika disepakati, jumlah pasukan Amerika di Irak dari 4.674 personil akan bertambah menjadi lebih dari 5000 orang.

Langkah-langkah terbaru pemerintah Amerika di Irak menjelaskan pentingnya kota Mosul bagi negara adidaya dunia itu. Mosul adalah pusat Provinsi Ninawa dan pangkalan terakhir Daesh di Irak. Jika militer dan pasukan sukarelawan rakyat Irak berhasil membebaskan Mosul, yang peluangnya cukup besar, maka hidup Daesh di Irak akan berakhir.

Kinerja Amerika selama dua tahun terakhir, yaitu sejak Daesh menduduki sebagian wilayah Irak, menunjukkan bahwa Washington berupaya memanfaatkan Daesh dalam berbagai arena di Irak. Pasukan Amerika ditarik dari Irak pada tahun 2011 dan sebenarnya proses penarikan pasukan itu bertentangan dengan kehendak Washington.

Pemerintah Amerika mempertahankan ribuan personil militernya di Irak dengan dalih aktivitas-aktivitas diplomatik, akan tetapi negara itu selalu saja berusaha menambah jumlah pasukannya. Dalam transformasi terbaru yang terjadi di Irak, Washington juga merebut kontrol pangkalan Al Qayyara dengan alasan untuk memerangi kelompok teroris Daesh.

Pada kenyataannya, Amerika sedang berusaha menggunakan kartu Daesh di Irak untuk mencapai tujuan-tujuan militernya sebelum kelompok teroris itu ditumpas habis. Pejabat Amerika mendukung kerakusan pemerintah wilayah Kurdistan, Irak atas Mosul dan memanfaatkan konflik antara pemerintah pusat Baghdad dengan wilayah Kurdistan.

Stasiun televisi CNN Amerika mengabarkan gelombang baru penambahan jumlah pasukan Amerika di Irak dengan dalih merebut kota Mosul dari Daesh. CNN mengatakan, diharapkan sebagian pasukan Amerika di Irak dapat dipekerjakan sebagai penasihat militer atau pelatih pasukan Kurdi dan Irak, sementara sebagian lainnya ikut serta dalam operasi-operasi dukungan seperti pemindahan pasukan dan perlengkapan perang ke lokasi-lokasi pertempuran.

Amerika sekarang sedang berusaha ikut menanam jasa dalam operasi pembebasan Mosul, padahal lahirnya kelompok teroris Daesh adalah buah dari kebijakan Gedung Putih di Irak. Richard Clark, salah satu pejabat Amerika di era kepemimpinan George Bush yang mengeluarkan perintah menyerang Irak dan menggulingkan pemerintahan Saddam Hussein, Oktober 2015 kepada CNN mengatakan, Daesh adalah produk agresi militer Amerika ke Irak. (HS)