Babak Baru Upaya PBB untuk Akhiri Krisis Yaman
Utusan Khusus PBB untuk Urusan Yaman mengunjungi Sanaa untuk kedua kalinya dalam dua pekan terakhir guna menarik persetujuan dari kelompok-kelompok di negara ini atas prakarsa barunya untuk menyelesaikan krisis Yaman.
Ismail Ould Cheikh Ahmed telah melakukan banyak upaya untuk menyelesaikan krisis Yaman melalui jalur politik. Ia telah menyediakan ruang dialog bagi kelompok-kelompok Yaman di Swiss dan Kuwait, di mana perundingan di Kuwait berlangsung hingga lebih dari 100 hari.
Kini, krisis Yaman sedang memasuki bulan ke-20. Agresi militer koalisi pimpinan Arab Saudi ke Yaman dimulai pada tanggal 26 Maret 2015 dan telah merenggut nyawa sedikitnya 10.500 orang, di mana 2.400 orang di antaranya adalah anak-anak dan lebih dari 1.700 perempuan.
Sejak meletusnya perang di Yaman, PBB merupakan salah satu aktor utama dan berpengaruh untuk menyelesaikan konflik ini, namun hingga sekarang badan dunia ini gagal mengakhiri atau bahkan mereduksi krisis tersebut.
Berakhirnya perundingan tanpa hasil di Kuwait pada Agustus 2016 merupakan kegagalan upaya Ould Cheikh Ahmed untuk mengakhiri krisis Yaman. Namun ia kembali memulai upayanya untuk melanjutkan perundingan di antara kelompok-kelompok di Yaman.
Utusan Khusus PBB untuk Yaman selama dua pekan terakhir ini telah dua kali mengunjungi Sanaa, ibukota Yaman dan sekali ke Riyadh, ibukota Arab Saudi untuk berdialog dengan kelompok-kelompok yang berseteru di Yaman.
Tema dan tujuan dialog Ould Cheikh Ahmed dengan kelompok-kelompok Yaman adalah menarik kepuasan dan persetujuan mereka atas prakarsa barunya.
Disebutkan bahwa salah satu isi prakarsa Utusan Khusus PBB untuk Yaman adalah pemilihan seorang wakil yang disepakati untuk menempati jabatan kepresidenan dan semua kewenangan presiden diberikan kepadanya.
Wakil baru itu bertugas membentuk Pemerintahan Persatuan Nasional Yaman dan menyiapkan ruang untuk penyelenggaraan pemilu presiden di negara ini.
Menyusul penawaran tersebut, kelompok-kelompok di Yaman memiliki perbedaan pandangan. Abd-Rabbuh Mansur Hadir, Presiden Yaman yang telah mengundurkan diri, mengklaim bahwa prakarasa ini akan menyebabkan legitimasi terhadap Gerakan Rakyat Ansarullah, oleh karena itu ia menolaknya.
Sementara itu, Ansarullah awalnya menolak prakarsa tersebut, sebab prakarsa ini berarti melanggengkan Mansur Hadi dalam struktur kekuasaan Yaman meskipun kehadirannya itu tidak bermakna di puncak kekuasaan.
Selain itu, Ansarullah juga menentang bagian dari prakarsa yang mengharuskan gerakan rakyat ini untuk menarik pasukannya dari beberapa wilayah Yaman.
Penolakan tersebut dikarenakan Ansarullah telah menegaskan bahwa pihaknya akan mundur dari wilayah yang dikontrolnya saat ini ketika pemerintah Yaman yang telah mengundurkan diri juga menarik diri dari sejumlah wilayah yang dikontrolnya.
Yang jelas, Ansarullah menentang sebagian isi dari prakara Utusan Khusus PBB untuk Yaman, namun menurut gerakan rakyat Yaman ini hal tersebut bisa diperundingkan.
Sejumlah sumber media menyebutkan, selama kunjungan Ould Cheikh Ahmed pada akhir bulan Oktober ke Riyadh, Mansur Hadi tidak bersedia berdialog dengannya. Oleh karena itu, ia akan mengunjung Arab Saudi lagi setelah berdialog dengan Ansarullah dan Partai Kongres Rakyat Yaman guna bertemu dan berdialog dengan Mansur Hadi.
Mengingat parahnya perselisihan Ansarullah dan Partai Kongres Rakyat dengan Mansur Hadi, maka babak baru upaya Ould Cheikh Ahmed untuk mengakhiri krisis Yaman hingga akhir tahun 2016 tampaknya tidak akan membawa hasil. (RA)