Arab Saudi dan Mansur Hadi Jegal Peta Jalan PBB
-
Ould Cheikh Ahmed
Utusan khusus sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Yaman, Ismail Ould Cheikh Ahmed telah mengajukan prakarsa peta jalan untuk mengakhiri krisis di Yaman, namun ditentang oleh Abd Rabbuh Mansur Hadi dan Arab Saudi. Tentu saja sikap keduanya secara praktis mencegah solusi krisis 21 bulan di negara Arab miskin ini.
Ismail Ould Cheikh Ahmed awal Desember tiba di kota Aden, Yaman selatan untuk bertemu dengan presiden Yaman yang telah mengundurkan diri, Abd Rabbuh Mansur Hadi. Agenda perundingan Ould Chekh Ahmed dan Mansur Hadi seputar peta jalan yang diajukan utusan khusus sekjen PBB ini terkait penyelesaian krisis di Sanaa.
26 Maret 2015, Arab Saudi mulai melancarkan agresinya yang tak lazim ke Yaman. Serangan dianggap asimetris dan di luar aturan perang, mengingat Arab Saudi negara terkaya Arab dan memiliki anggaran militer terbesar setelah Amerika Serikat serta Cina. Di sisi lain, Yaman adalah negara termiskin Arab di Timur Tengah. Bahkan Sanaa sangat tergantung kepada bantuan negara lain untuk menjamin berbagai sektor ekonominya.
Terlepas dari korban jiwa akibat perang yang dikobarkan Arab Saudi di Yaman, munculnya tragedi kemanusiaan di levelnya tertinggi dan musnahnya lebih dari 80 persen infrastruktur Yaman juga termasuk hasil lain dari perang asimetris.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang sampai saat ini tidak melakukan langkah terkecil sekalipun untuk mengecam Arab Saudi karena melakukan kejahatan perang, melalui wakilnya berusaha mempersiapkan perundingan antara berbagai kubu Yaman dan menggulirkan berbagai prakarsa guna mengakhiri krisis ini. Namun begitu PBB sampai saat ini masih tetap gagal.
Ismail Ould Cheikh Ahmed sampai kini telah mempersiapkan peluang sejumlah dialog antar kubu Yaman dan perundingan terlama adalah dialog perdamaian Kuwait yang gagal. Ould Cheikh Ahmed usai perundingan sia-sia Kuwait yang berakhir Agustus lalu setelah berlangusng selama 100 hari, berupaya menyelenggarakan babak baru dialog antar kubu Yaman, namun jelas-jelas ia gagal dalam hal ini.
Sebab kegagalan Ould Cheikh Ahmed mengakhiri krisis Yaman berkaitan dengan kebijakan Arab Saudi dan haus kekuasaan Mansur Hadi. Pemerintah Arab Saudi yang dengan sadis dan tanpa perasaan tetap melanjutkan kejahatannya terhadap negara paling miskin di Timur Tengah, melalui sikap intervensifnya menuntut pelaksanaan resolusi 2216 Dewan Keamanan dan pelengseran Ansarullah dari struktur politik Yaman. Tuntutan Riyadh ini tidak selaras dengan realita Yaman saat ini.
Abd Rabbuh Mansur Hadi yang meski menyadari periode perpanjangan kekuasaannya telah berakhir Februari 2015, masih menganggap dirinya berkuasa dan ia pun sepertinya haus kekuasaan sehingga menjadi kendala bagi prakarsa lain Ould Cheikh Ahmed.
Di prakarsa terbaru Ould Cheikh Ahmed, Mansur Hadi harus mengundurkan diri dari kekuasaan. Tapi ternyata Mansur Hadi menolak untuk turun jabatan. Sikap haus kekuasaan Mansur Hadi ini juga memperlihatkan kebijakan Arab Saudi, karena Riyadh adalah pendukung utama Hadi dan telah melakukan banyak upaya untuk mengekalkan Mansur Hadi di tampuk kekuasaan.
Dari sudut pandang ini, Ould Cheikh Ahmed usai bertemu dengan Mansur Hadi, langsung bertolak ke Riyadh dan bertemu dengan petinggi negara ini. Oleh karena itu, sejumlah media melaporkan, Ismail Ould Cheikh Ahmed usai pertemuan sia-sia dengan Mansur Hadi meninggalkan Aden menuju Riyadh. (MF)