Tuan! Syafaatilah Saya!
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i32241-tuan!_syafaatilah_saya!
Kumit salah satu penyair yang mencintai Ahlul Bait Rasulullah Saw dan Imam Sajjad as. Suatu hari dia melantunkan syair untuk Imam Sajjad dan berkata, “Saya melantunkan syair ini untuk memuji Anda dengan harapan Anda syafaati saya pada Hari Kiamat.”
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Feb 02, 2017 20:15 Asia/Jakarta
  • Imam Sajjad as
    Imam Sajjad as

Kumit salah satu penyair yang mencintai Ahlul Bait Rasulullah Saw dan Imam Sajjad as. Suatu hari dia melantunkan syair untuk Imam Sajjad dan berkata, “Saya melantunkan syair ini untuk memuji Anda dengan harapan Anda syafaati saya pada Hari Kiamat.”

Imam Sajjad as memberikan uang dengan jumlah yang banyak kepada Kumit dan berkata, “Hai Kumit! Allah akan memberikan pahala yang layak kepadamu. Tapi ambil juga uang ini!”

 

Kumit mengembalikan uang itu kepada Imam Sajjad as dan berkata, “Saya ingin hadiah yang lebih bagus. Mohon berikan baju Anda kepada saya untuk saya jadikan sebagai tabarruk.”

 

Imam memberikan bajunya kepada Kumit dan mendoakannya, “Ya Allah! Kumit adalah pendukung kebenaran dan di masa ketika para pezalim menyulitkan kehidupan masyarakat ini, dia telah meletakkan jiwanya ke dalam bahaya dan menjelaskan hakikat. Berikanlah pahala yang layak baginya.”

 

Kumit mengatakan bahwa sejak saat itu karena berkah doa Imam Sajjad, hilanglah kesulitan hidupku dan keberkahan mendatangi hidupku.

 

Aku Membebaskanmu Supaya Engkau Tidak Malu

 

Malam itu Imam Sajjad ada tamu. Hidangan makanan sudah disiapkan dan para tamu sedang sibuk menyantap makanan. Imam Sajjad juga ikut melayani mereka sebagai rasa penghormatan. Tiba-tiba dari ruangan sebelah terdengar suara tangisan bayi Imam Sajjad as. Beliau bangkit dan menuju ke ruangan tempat bayi. Beliau melihat salah satu wadah makanan jatuh dari tangan salah satu budaknya dan mengena bayi itu sehingga menyebabkan kematiannya.

 

Budak itu benar-benar sedih, khawatir dan malu. Tapi Imam Sajjad sama sekali tidak menunjukkan kesedihannya di hadapan budak tersebut. Beliau berkata kepada budaknya, “Jangan khawatir! Engkau tidak sengaja melakukannya. Untuk itu tidak alasan bagimu untuk bersedih.”

 

Sang budak benar-benar takjub melihat sikap Imam Sajjad as. Dia berkata, “Sampai akhir hidupku, saya akan merasa malu pada Anda dan saya tidak akan berani memandang wajah Anda.”

 

Imam Sajjad as berkata, “Untuk itu aku membebaskanmu supaya engkau tidak malu.”

 

Kemudian dengan tanpa menunjukkan kesedihan yang mendalam ini, beliau kembali menemui para tamunya dengan wajah ceria dan senyuman di bibir dan mengingatkan kepada para anggota keluarga agar jangan sampai para tamunya mengetahui masalah ini. Karena tidak ingin membuat mereka sedih.

 

Sesaat kemudian pada tamu meninggalkan rumah Imam Sajjad as. Setelah beliau mengantarkan mereka sampai ke luar, beliau menuju ke bayinya dan memandikannya, kemudian mengkafaninya dan menguburkannya dengan tangannya sendiri.

 

Tuanku! Mengapa Anda Begitu Sedih?

 

Ketika terjadi peristiwa Karbala, Imam Sajjad as benar-benar menderita sakit. Sehingga beliau tidak bisa ikut serta dalam peperangan anti Islam yang tidak sebanding itu. Namun beliau bersedih sampai akhir hidupnya dan tidak bisa melupakan kesedihan syahadah ayah, saudara dan keluarga lainnya.

 

Salah seorang budak Imam Sajjad as mengatakan, “Suatu hari Imam Sajjad as pergi menuju padang sahara. Saya juga mendampinginya. Imam Sajjad as meletakkan dahinya di sebuah batu dan dengan sedih beliau mengulangi kata-kata ini dengan pelan:

 

لا اله الا الله حَقًّا حَقًّا – لا اله الا الله عُبُوْدِیَّتًا وَ رِقًّا – لا اله الا الله اِیْمَانًا وَ تَصْدِیْقًا

 

 

 “Tidak ada Tuhan selain Allah, inilah yang namanya kebenaran. Tidak ada Tuhan selain Allah, aku mengatakannya atas dasar pengabdian dan penghambaan. Tidak ada Tuhan selain Allah, aku mengatakannya atas dasar keimanan dan membenarkannya.”

 

Saya menunggu, kapan Imam Sajjad selesai mengerjakan hal itu. Mungkin Imam Sajjad mengulangi kata-kata ini sampai seribu kali. Kemudian beliau mengangkat kepalanya. Sementara matanya penuh dengan air mata.

 

Saya mendekat dan berkata, “Tuanku! Mengapa Anda begitu sedih? Apakah belum waktunya Anda mendatangkan kegembiraan dalam kehidupan Anda?”

 

Imam Sajjad as berkata, “Apa yang engkau katakan hai hamba Allah, Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim adalah seorang nabi dan anak nabi, punya anak sebanyak dua belas, Allah telah menyembunyikan salah satu dari mereka [Nabi Yusuf as], rambutnya memutih karena kesedihan jauh darinya, punggungnya membungkuk dan matanya buta karena banyak menangis. Padahal anaknya yang hilang ada di dunia ini dan masih hidup. Tapi aku telah kehilangan ayahku, saudaraku, dan tujuh belas orang dari keluargaku, bagaimana kesedihanku akan berakhir dan tangisanku akan berkurang?”

 

Semoga Allah Menolong Kalian!

 

Begitu para tawanan masuk ke Karbala, pertama Sayidah Zainab, kemudian Fathimah Shughra [putri Imam Ali as] dan kemudian Ummu Kultsum menyampaikan pidato yang isinya mencela masyarakat kota itu sedemikian rupa sehingga masyarakat menangis.

 

Kemudian Ali bin Husein as berkata:

 

“Hai orang-orang! Diamlah dan dengarkanlah ucapanku! Orang-orang! Siapa saja yang tidak tahu mengenalku, ketahuilah bahwa aku adalah anaknya Husen bin Ali. Aku adalah putra orang yang kehormatannya telah diinjak-injak. Harta dan kekayaannya telah dirampok dan keluarganya telah dijadikan tawanan.  Aku adalah putra orang yang kepalanya telah disembelih di tepi sungai Furat. Padahal dia tidak pernah menzalimi seseorang, juga tidak pernah mengkhianati seseorang. Aku adalah putra orang yang disembelih lehernya dari belakang dan ini adalah kebanggaan yang besar bagiku.”

 

Ali bin Husein as berhenti sejenak, kemudian berkata, “Hai orang-orang! Tidakkah kalian mengirim surat untuk ayahku? Tidakkah kalian berbaiat padanya? Tidakkah kalian mengikat janji dengannya? Dan kemudian melanggar janji dan tidakkah kalian berperang melawannya?

 

Hai Orang-orang! Bila Rasulullah Saw pada Hari Kiamat berkata kepada kalian bahwa kalian telah membunuh anak-anakku dan menginjak-injak kehormatanku, untuk itu kalian bukan ummatku. Bagimana kalian akan memandang beliau?...”

 

Ketika pidato Imam Sajjad as sampai di sini, tiba-tiba jeritan muncul dari berbagai arah dan masyarakat berkata, “Kami telah hancur.”

 

Imam Sajjad as berkata, “Semoga Allah mengampuni orang yang mau menerima nasihatku dan karena Allah dan rasul-Nya mau mendengarkan ucapanku. Kami adalah keluarga Rasulullah dan orang-orang yang baik.”

 

Orang-orang yang hadir berkata, “Wahai putra Rasulullah! kami akan menaati dan mendengarkan perintah Anda. Berperang melawan musuh-musuh Anda. Bersahabat dengan sahabat-sahabat Anda dan membenci orang-orang yang menzalimi Anda.”

 

Imam Sajjad as berkata, “Hai para penipu! Hai para tawanan syahwat! Kalian ingin melakukan sesuatu terhadap kami sebagaimana yang telah kalian lakukan pada ayah-ayah kami? Demi Allah! Luka yang kalian buat saat ini masih mengeluarkan darahnya. Dada kami masih terbakar membara karena duka ayah dan saudara-saudara kami. Yang terbaik untuk kalian adalah jangan bersama kami dan jangan anti kami...” (Emi Nur Hayati)

 

Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Sajjad as