Kegagalan Al Khalifa Prediksi Dampak Pengadilan Syeikh Isa Qassem
Menjawab seruan ulama, rakyat Bahrain melanjutkan aksi demonstrasi damai mendukung Syeikh Isa Qassem, ulama terkemuka negara itu.
Aksi unjuk rasa besar-besaran mendukung Syeikh Isa Qassem itu mereka namai dengan aksi "pantang kembali ke rumah dan membela sampai mati".
Rakyat dan ulama Bahrain menilai proses pengadilan Syeikh Isa Qassem sama saja dengan pengadilan atas identitas keagamaan dan nasional Bahrain, dan mereka memperingatkan dampak-dampak kemungkinan proses pengadilan ulama terkemuka itu kepada rezim Al Khalifa.
Pengadilan rezim Al Khalifa tanggal 27 Februari lalu kembali menangguhkan proses pengadilan Syeikh Isa Qassem, tokoh spiritual revolusi rakyat Bahrain untuk kesekian kalinya karena takut dengan dampak-dampak yang mungkin ditimbulkan dari langkah tersebut. Sesuai dengan waktu yang sudah ditetapkan sebelumnya, proses pengadilan itu akan dilangsungkan hari Selasa (14/3) bersamaan dengan masuknya pasukan Arab Saudi ke Bahrain untuk menumpas revolusi rakyat negara itu.
Rezim Al Khalifa terpaksa menunda kembali proses pengadilan Syeikh Isa Qassem karena gagal melakukan analisa yang tepat terkait dampak-dampak langkah itu dan hal tersebut menunjukkan kekalahan rezim Al Khalifa di hadapan tekad rakyat Bahrain. Sejak dua pekan lalu, warga di sejumlah wilayah Bahrain turun ke jalan-jalan kota untuk mendukung Syeikh Isa Qassem dan menjelang penetapan waktu pelaksanaan proses pengadilan yang baru, kehadiran warga Bahrain di jalan-jalan semakin banyak dan mencapai puncaknya.
Transformasi di Bahrain memasuki fase baru sejak Juni 2016, bertepatan dengan pencabutan kewarganegaraan Syeikh Isa Qassem dan penahanan rumah atas ulama itu. Kehadiran kontinu rakyat di wilayah Al Diraz, Manama, lokasi tempat tinggal Syeikh Isa Qassem berada, saat ini menjadi pusat koordinasi dan solidaritas warga dan ulama Bahrain dalam menghadapi aksi-aksi rezim Al Khalifa.
Wilayah Al Diraz setiap hari menjadi tempat berkumpul pada pendukung Syeikh Isa Qassem, padahal wilayah itu berada dalam blokade pasukan Bahrain yang selalu melakukan aksi-aksi kekerasan terhadap demonstran.
Klaim rezim Al Khalifa yang mengatakan bahwa Syeikh Isa Qassem memanfaatkan kedudukannya untuk kepentingan asing dan menyebarluaskan kekerasan mazhab, membuktikan bahwa Al Khalifa menggunakan segala cara untuk mematikan revolusi rakyat Bahrain, namun karena berakar dari rakyat, revolusi tetap bertahan dan berlanjut hingga mencapai tujuan.
Manuver rezim Al Khalifa terhadap rakyat dan ulama Bahrain, merupakan bukti penggunaan cara-cara kekerasan dan sektarianisme terhadap kubu revolusioner dan oposisi yang didukung mayoritas rakyat.
Aksi heroik rakyat Bahrain di wilayah Al Diraz dan dukungan mereka atas Syeikh Isa Qassem telah berhasil melumpuhkan kekuatan rezim Al Khalifa dalam mengambil keputusan terkait ulama terkemuka yang menjadi sumber inspirasi revolusi rakyat Bahrain itu. Kehadiran luas rakyat ini adalah peringatan untuk rezim Al Khalifa bahwa segala bentuk pelecehan terhadap Syeikh Isa Qassem akan membuat kondisi Bahrain semakin kritis dan ia akan sulit untuk menanggung dampak-dampaknya.
Kondisi seperti ini menghadapkan rezim Al Khalifa pada sebuah pilihan mudah, yaitu menangguhkan proses peradilan Syeikh Isa Qassem. (HS)