Hammoud: Konflik di Bahrain, Ada Kaitan dengan Pertemuan Riyadh
-
Unjuk rasa di Bahrain.
Sekretaris Jenderal Persatuan Internasional Ulama Muqawama Lebanon mengatakan, ketegangan terbaru di Bahrain tidak bisa dianggap tidak memiliki hubungan dengan konferensi di Riyadh, sebab dalam konferensi ini, Donald Trump, Presiden Amerika Serikat mengumumkan dukungannya kepada pemerintah-pemerintahan reaksioner di kawasan.
Sheikh Maher Hammoud mengungkapkan hal itu dalam wawancara dengan IRNA, Kamis (25/5/2017).
Ia menambahkan, para penguasa Arab tanpa bantuan dan dukungan AS tidak memiliki eksistensi, di mana Trump sebelumnya mengatakan bahwa AS telah menciptakan pemerintahan-pemerintahan ini sehingga Washington harus menerima upaya dari pelayanan itu.
Sheikh Hammoud menjelaskan, perilaku rezim Al Khalifa tidak mengherankan, sebab, perilaku rezim ini sejalan dengan pendekatan kolonialis Inggris dan AS.
Sekjen Persatuan Internasional Ulama Muqawama Lebanon lebih lanjut menilai tuntutan rakyat Bahrain sebagai tuntutan yang sederhana dan logis.
"Rakyat Bahrain menuntut hak-hak politiknya, namun pemerintah negara ini menolak segala bentuk dialog serius untuk menindaklanjuti tuntutan itu dan menggunakan kekuatan untuk menindak warga tak bedosa," pungkasnya.
Aparat keamanan rezim Al Khalifa menyerbu rumah Sheikh Isal Qassim, ulama terkemuka Bahrain di distrik al-Diraz pada Selasa dan bentrok dengan warga.
Insiden tersebut telah merenggut nyawa lima orang dan melukai lebih dari 100 lainnya. Pasukan keamanan Bahrain juga menangkap sekitar 300 warga.
Sejak 14 Februari 2011, rakyat Bahrain bangkit melawan kediktatoran rezim Al Khalifa. Mereka berunjuk rasa damai untuk menuntut kebebasan, keadilan, penghapusan diskriminasi dan berdirinya pemerintahan pilihan rakyat.
Namun, tuntutan damai rakyat Bahrain itu disambut dengan kekerasan oleh rezim Al Khalifa. Dengan bantuan aparat keamanan Arab Saudi, rezim ini menumpas para aktivis dan revolusioner Bahrain dan memenjarakan mereka.(RA)