Assad: Situasi Sulit dalam Perang di Suriah Berlalu
-
Bashar al-Assad, Presiden Suriah.
Presiden Suriah mengatakan, situasi sulit perang enam tahun di Suriah telah berlalu dan pasukan negara ini dan sekutu Damaskus memegang inisiatif di semua lini dan arena.
Bashar al-Assad mengatakan hal itu dalam wawancara dengan jaringan televisi pemerintah India, WION (World Is One News), Sabtu (3/6/2017).
Ia lebih lanjut menjelaskan kondisi Suriah dan proses kemajuan militer negara ini dan sekutunya dalam melawan kelompok-kelompok teroris di berbagai wilayah.
Assad menambahkan, dengan pembebasan Aleppo yang merupakan pusat Daesh dalam beberapa bulan terakhir, kelompok teroris ini di ambang kekalahan penuh, dan inisiatif berada di tangan pasukan Suriah.
"Kondisi sekarang berada di jalur yang benar, dan saya yakin kami telah melewati kondisi terburuk, kecuali jika negara-negara Barat dan negara-negara lainnya dan sekutu serta boneka mereka memberikan bantuan luas kepada para teroris," ujarnya.
Presiden Suriah menegaskan kembali bahwa serangan kimia pada bulan April di kota Khan Seikhun yang dituduhkan kepada pemerintah Damaskus sebagai tudingan yang tidak berdasar.
"Tujuan dari petualangan ini adalah mencemarkan nama baik pasukan Suriah dan memberikan semangat kepada para teroris," jelasnya.
Di bagian lain pernyataaannya, Assad mengatakan, inisiatif perdamaian yang disepakati Rusia dan Republik Islam Iran sebagai sekutu Suriah dan juga Turki sebagai pendukung oposisi merupakan sebuah ide yang menunjukkan pandangan positif; yaitu kesepakatan yang dihasilkan dari perundingan di Astana (ibukota Kazakhstan) pada bulan lalu.
"Hingga detik ini, kami tidak memiliki inisiatif politik nyata yang mampu mencapai kesimpulan, walaupun di ambang pengurangan ketegangan terbaru di Suriah kami mencapai sejumlah hasil relatif, di mana ini dianggap sebagai langkah positif," ungkapnya.
Presiden Suriah menuturkan, negara-negara seperti Arab Saudi, Qatar, Turki, Amerika Serikat, Perancis dan Inggris mendukung teroris untuk mencapai tujuan-tujuan politik mereka.
"Jika dukungan ini dihentikan, maka kekalahan teroris akan mungkin terjadi dalam waktu singkat," pungkasnya.
Krisis keamanan Suriah meletus pada tahun 2011 menyusul serangan luas kelompok-kelompok teroris dan Takfiri yang didukung oleh Arab Saudi, AS dan sekutunya termasuk Turki. Mereka berusaha menggulingkan pemerintahan sah Bashar al-Assad, Presiden Suriah.
Kelompok-kelompok teroris dukungan Barat dan sekutunya itu telah melakukan berbagai kejahatan mengerikan di Suriah yang menyebabkan ribuan orang tewas dan jutaan lainnya mengungsi. (RA)