Mantan Presiden Yaman Serukan Rekonsiliasi Nasional
-
Ali Abdullah Saleh, mantan Presiden Yaman
Mantan Presiden Yaman meminta kelompok-kelompok politik di negara ini untuk mengakhiri perang dan menghindari sikap tunduk kepada pasukan asing.
Ali Abdullah Saleh menyerukan hal itu pada Senin (17/7/2017) menandai ulang tahun revolusi 17 Juli 1987.
Ia menyerukan semua kelompok di Yaman untuk rekonsiliasi nasional dan meminta semua rakyat negara ini untuk membuka halaman baru dalam sejarah Yaman.
Ali Abdullah Saleh yang menjabat sebagai Ketua Partai Kongres Rakyat Yaman ini menekankan dukungan kepada perdamaian yang didasarkan pada keberanian dan bukan pedamaian yang berasal dari ketundukan.
Ia juga menuntut perundingan langsung dan pencapaian solusi yang bisa diterima oleh semua pihak.
Sebelumnya, Ali Abdullah Saleh pada 9 Juli 2017 menyinggung protes terhadap kontrak besar persenjataan Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC) terutama Arab Saudi dengan Amerika Serikat.
Ia menyebut kontrak tersebut sebagai upaya negara-negara anggota P-GCC untuk menghapus pengangguran di Amerika.
Pada akhir bulan Mei 2017, mantan Presiden Yaman itu menyebut Arab Saudi sebagai pendukung finansial dan senjata kepada kelompok-kelompok teroris termasuk Daesh, al-Qaeda dan Ansar al-Sharia (sayap al-Qaeda di Yaman).
Agresi militer Arab Saudi dan sekutunya ke Yaman yang memperoleh lampu hijau dari Amerika Serikat dimulai sejak tanggal 26 Maret 2015. Invasi militer ini telah merenggut lebih dari 12.000 orang terutama anak-anak dan melukai belasan ribu lainnya.
Agresi militer Arab Saudi ke Yaman juga menyebabkan kehancuran infrastruktur penting Yaman seperti rumah sakit, sekolah, bandara, pelabuhan, pabrik dan fasilitas publik lainnya. Yaman saat ini juga diblokade dari darat, laut dan udara oleh pasukan agresor sehingga menambah penderitaan rakyat di negara ini. (RA)