Kekacauan Timteng, Situasi yang Diinginkan Israel
Ketika perselisihan dan kekerasan terjadi di internal sejumlah negara Muslim meningkat, terutama negara-negara yang memiliki posisi geografi yang strategis, rezim Zionis Israel memanfaatkan situasi itu untuk memajukan tujuan-tujuannya.
Mohammad Ayesh, seorang penulis Palestina dalam tulisannya di surat kabar al-Quds al-Araby pada tanggal 26 September 2017 mengatakan, Israel di bawah bayangan perluasan terorisme, sedang mengoperasikan teror, pembangunan distrik-distrik Zionis dan Yahudisasi al-Quds.
Timur Tengah terutama di sekeliling rezim Zionis Israel sedang menghadapi krisis terorisme sekitar tujuh tahun ini, di mana dampak langsungnya adalah meluasnya kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya, melemahnya militer dan negara-negara Arab serta meluasnya konflik di antara kekuatan-kekuatan Islam.
Dalam jangka waktu tujuh tahun tersebut, tidak ada satupun operasi teror atau ledakan bom di Israel. Mohammad Ayesh menulis, kelompok-kelompok teroris di Dataran Tinggi Golan bahkan tidak pernah melakukan kesalahan seperti meluncurkan roket ke arah Israel. Kondisi di Timur Tengah ini adalah situasi yang paling dikehendaki oleh rezim Zionis dan sangat menguntungkan rezim penjajah al-Quds ini.
Situasi ini tentu saja memiliki dua pesan dan pada saat yang bersamaan juga memiliki dua konsekuensi dan dampak tertentu. Pesan pertama adalah ada kaitan dan hubungan antara rezim Zionis dan kelompok-kelompok teroris. Terkait hal ini, Ayesh menulis, rezim Zionis mengambil keuntungan dari kelompok teroris Daesh (ISIS) yang menarget seluruh dunia kecuali Israel.
Pesan yang kedua adalah Israel menilai terorisme sebagai peluang yang besar baginya. Sebab, terorisme menyebabkan saling bentroknya kekuatan-kekuatan Islam dan terciptanya konflik proxy di antara mereka di negara-negara seperti Suriah dan Irak. Israel memanfaatkan perseteruan ini untuk memajukan strategi mereka guna menarget Palestina dan memperkuat hubungan dengan negara-negara Muslim tertentu yang selaras dengan kebijakannya.
Dampak pertama dari situasi di Timur Tengah adalah terorisme dan kekerasan bisa memicu terbentuknya pemerintah-pemerintah yang terbagi-bagi, militer yang lemah dan pemerintahan kecil sebagaimana yang diinginkan Israel. Oleh karena itu, Tel Aviv mendukung pembagian wilayah Irak melalui pemisahan Kurdistan dari negara Arab ini.
Dampak kedua adalah Israel memiliki kesempatan luas untuk mempercepat pambangunan distrik-distrik Zionis di Palestina disebabkan dunia Islam sedang lengah karena sibuk menghadapi terorisme dan kekerasan. Jumlah distrik Zionis di berbagai wilayah Palestina selama tujuh tahun terakhir meningkat sekitar 40 persen.
Hassan Hanizadeh, seorang pakar tentang Timur Tengah mengatakan, opsi yang dipilih oleh rezim Zionis adalah agar militer negara-negara Arab melemah.
Mengingat kepentingan Israel berada dalam kelanjutan krisis di negara-negara Muslim maka rezim Zionis selalu berusaha agar negara-negara di sekitar Palestina pendudukan (Israel) seperti Yordania, Mesir, Lebanon dan Suriah selalu dilanda persoalan internal dan konflik.
Karena kelanggengan Israel tergantung pada lemahnya negara-negara Muslim dan Arab, maka Tel Aviv terus berusaha menjaga agar kondisi Timur Tengah tetap seperti sekarang ini, yaitu dipenuhi dengan konflik dan kekerasan. Israel tidak hanya menganggap terorisme, radikalisme dan ekstremisme di dunia Islam sebagai sebuah peluang, namun juga memanfaatkan isu itu untuk menumpas perlawanan bangsa Palestina dengan dalih menumpas terorisme dan ekstremisme. (RA)