Tujuan Kunjungan PM Irak ke Empat Negara Regional
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i46191-tujuan_kunjungan_pm_irak_ke_empat_negara_regional
Perdana Menteri Irak, Haider al-Abadi pada Sabtu malam sebelum memulai lawatannya ke sejumlah negara di kawasan mengatakan, kemajuan negara-negara Timur Tengah bergantung pada penguatan kerja sama berdasarkan kepentingan bersama.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Okt 22, 2017 16:35 Asia/Jakarta

Perdana Menteri Irak, Haider al-Abadi pada Sabtu malam sebelum memulai lawatannya ke sejumlah negara di kawasan mengatakan, kemajuan negara-negara Timur Tengah bergantung pada penguatan kerja sama berdasarkan kepentingan bersama.

Perdana Menteri Irak tiba di Arab Saudi pada Sabtu malam mengawali kunjungannya ke empat negara. Hubungan Saudi-Irak dalam beberapa bulan terakhir meregang, berangsung membaik setelah kunjungan Menteri Luar Negeri Saudi, Adel al-Jubeir ke Baghdad (Februari 2017).

Menjelang pemberantasan kelompok teroris Takfiri Daesh di Irak, membuka peluang bagi penerapan kebijakan baru di kancah domestik dan luar negeri. Ini adalah salah satu tujuan pemerintah Irak untuk mengambil keputusan dalam menghadapi bahaya apa pun yang mengintai wilayah dan Irak dalam pemberantasan terorisme dan kondisi kondusif mempercepat rekonstruksi negara menuju kemajuan dan pembangunan, merupakan di antara prioritas utama para pejabat Irak.

Namun keberhasilan di bidang ini tergantung pada kondisi regional yang kondusif. Konflik dan friksi di kawasan telah menyebabkan kerusakan meluas. Oleh karena itu, penyelesaian kondisi ini bergantung pada kerja sama antarnegara regional. Melihat perkembangan regional, dapat dilihat bahwa beberapa negara di kawasan menghadapi situasi sulit dalam beberapa tahun terakhir karena kebijakan keliru mereka sendiri.

Dukungan sejumlah negara itu terhadap terorisme dan intervensi mereka dalam urusan internal negara-negara lain telah secara praktis menyebabkan gelombang permusuhan dan perpecahan di kawasan. Kebijakan luar negeri Al Saud sampai saat ini didasarkan pada dukungan kepada oposisi pemerintah Irak, provokasi pejabat wilayah Kurdistan Irak untuk melawan pemerintah Baghdad, mempengaruhi dan hasutan warga Sunni untuk bangkit melawan pemerintah Irak serta dukungan terhadap Daesh di Irak, dan kebijakan ini terus berlanjut.

Oleh sebab itu, wajar bila opini publik Irak skeptis terhadap langkah diplomatik baru Arab Saudi. Rakyat Irak percaya bahwa di saat militer dan pasukan relawan Irak telah mencapai tahap akhir melawan teroris Takfiri, Arab Saudi sedang berusaha menyelamatkan agennya dari kegagalan total di Irak.

Dengan demikian, kunjungan tegesa-gesa Menteri Luar Negeri Saudi ke Baghdad dan klaim persahabatan serta perluasan hubungan dengan Irak, yang berkontribusi pada perluasan hubungan antara Arab Saudi dan Irak dalam beberapa bulan terakhir, merupakan bagian dari rencana baru Al Saud untuk menyukseskan tujuannya di kawasan termasuk Irak.

Munculnya instabilitas periodik di Irak, terutama dalam bentuk demonstrasi anti-pemerintah pasca pebukaan kedutaan besar Saudi di Baghdad pada tahun 2015 serta meningkatnya ketegangan antara Wilayah Kurdistan dan pemerintah pusat Baghdad setelah pembukaan Konsulat Saudi di Erbil pada tahun 2016, merupakan hasil dari kerja keras Riyadh untuk mewujudkan disintegrasi Irak.

Terlepas dari pertimbangan tersebut, kunjungan al-Abadi ke Arab Saudi dapat dilihat dari sisi lain. Kunjungan PM Irak itu harus dianalisa dari sisi upaya Baghdad untuk memainkan peran positif dalam menyelesaikan krisis dan gejolak regional, serta memunculkan nama Irak sebagai pemain penting di kawasan.(MZ)