Ketegangan Saudi-Jerman, Realitas atau Sandiwara ?
Statemen terbaru Sigmar Gabriel, Menteri Luar Negeri Jerman dan reaksi Arab Saudi atas statemen itu, memicu ketegangan di antara kedua negara. Sigmar Gabriel, Jumat (17/11) memperingatkan meluasnya "petualangan politik" para petinggi Riyadh dan Eropa tidak akan tinggal diam.
Menlu Jerman menyinggung agresi militer Saudi ke Yaman serta konflik Riyadh dan sekutu-sekutunya, dengan Qatar. Ia mengatakan, manuver Riyadh di Lebanon adalah puncak krisis di kawasan.
Rezim Al Saud, Sabtu (18/11) dini hari memprotes statemen Sigmar Gabriel, Menlu Jerman yang menyebut sikap Riyadh terhadap Saad Al Hariri, tidak pantas dan keluar dari nilai kepatutan disusul dengan pemanggilan Duta Besar Saudi di Berlin. Kemenlu Saudi menganggap statemen Jerman itu membuat pemerintah Saudi keheranan. Riyadh menduga, Jerman menerapkan standar ganda terhadap Saudi.
Jerman memprotes kebijakan-kebijakan Saudi di kawasan dan menyebutnya sebagai petualangan politik di kawasan Timur Tengah. Namun statemen Sigmar Gabriel itu bisa jadi omong kosong, karena sejak naiknya pemerintahan baru di Saudi, yaitu naiknya Salman bin Abdulaziz sebagai Raja dan anaknya, Mohammed bin Salman sebagai Putra Mahkota, kita menyaksikan peningkatan langkah-langkah agresif Saudi di kawasan.
Di antara kebijakan agresif Saudi adalah serangan militer negara itu ke Yaman bulan Maret 2015 hingga sekarang yang telah menewaskan dan melukai puluhan ribu warga Yaman. Di sisi lain, pasca kekalahannya di Suriah, seiring dengan kekalahan kelompok-kelompok teroris dukungannya di negara itu, Saudi bermaksud mengacaukan Lebanon.
Dalam menjalankan aksinya di Lebanon, Saudi menerapkan skenario pengunduran diri paksa Saad Al Hariri dan meningkatkan tekanan terhadap Hizbullah. Jelas langkah tersebut mendapat reaksi keras dari Lebanon, negara-negara kawasan, dan bahkan sekutu-sekutu Riyadh di Barat. Sikap Menlu Jerman adalah salah satu buktinya.
Pertanyaannya adalah, apakah kita bisa mempercayai kesungguhan protes Jerman terhadap Saudi, atau kita mesti mengkaji lebih dalam realitas hubungan kedua negara itu untuk memastikannya. Sejumlah laporan yang baru-baru ini dipublikasikan, menunjukkan bahwa ekspor senjata Jerman ke Saudi hampir meningkat empat kali lipat.
Saudi menggunakan senjata yang dibelinya dari Jerman untuk memerangi rakyat Yaman. Jika memang Berlin menentang kebijakan-kebijakan regional Saudi yang penuh petualangan perang itu, lalu mengapa hingga kini negara itu tetap menjaga hubungan dekat dengan Riyadh dan melanjutkan penjualan senjatanya, bahkan menambah ekspor senjata tersebut hingga empat kali lipat.
Stefan Liebich, salah satu anggota parlemen dari Partai Kiri Jerman, Die Linke menyebut penjualan senjata Jerman ke Saudi sebagai perbuatan yang memalukan. Dalam beberapa tahun ke belakang, pemerintah Jerman, meski mengetahui dengan jelas catatan buruk pelanggaran hak asasi manusia Saudi di dalam maupun luar negeri terutama di Yaman, tetap menjaga kerja sama militer dan senjata dengan rezim Al Saud.
Jerman adalah salah satu negara yang merupakan sekutu utama Saudi dalam jual beli senjata dan pelatihan militer untuk Angkatan Bersenjata Saudi.
Agnieszka Brugger, salah satu anggota Partai Hijau Jerman, menyesalkan pelanggaran HAM luas yang dilakukan Saudi dan menegaskan, pemerintah Jerman harus segera menghentikan total dan membatalkan seluruh kontrak penjualan senjata dengan negara-negara seperti Saudi.
Pada kenyataannya, Jerman tengah menerapkan standar ganda terhadap Saudi. Hal ini menunjukkan bahwa bagi Barat termasuk Jerman, apa yang menjadi prioritas di negara-negara seperti Saudi adalah kepentingan ekonomi dan uang. (HS)