Misteri Penyebab Asli Tewasnya Abdullah Saleh
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i47725-misteri_penyebab_asli_tewasnya_abdullah_saleh
Ada jejak Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) dalam peristiwa teror dan tewasnya Ali Abdullah Saleh, mantan Presiden Yaman pada Senin, 4 Desember 2017 ketika ia berusaha melarikan diri dari Sanaa menunju Ma'rib.
(last modified 2026-04-12T10:02:39+00:00 )
Des 05, 2017 13:19 Asia/Jakarta

Ada jejak Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) dalam peristiwa teror dan tewasnya Ali Abdullah Saleh, mantan Presiden Yaman pada Senin, 4 Desember 2017 ketika ia berusaha melarikan diri dari Sanaa menunju Ma'rib.

Abdullah Saleh menjadi korban kekacauan dan kerusuhan yang dirancang oleh Arab Saudi dan UEA. Meski selama tiga tahun lalu, mantan Presiden Yaman itu memiliki keselarasan taktik dengan Gerakan Rakyat  Yaman, Ansarullah, namun realitasnya adalah ia tidak mampu menempatkan dirinya dalam bentuk "karakter yang independen." Arab Saudi dan UEA sendiri juga menganggap Abdullah Saleh sebagai orangnya sendiri.

Ada beberapa tahap penting sebelum perkembangan sampai seperti sekarang ini. Tahap Pertama; dukungan Arab Saudi dan UEA kepada Abdullah Saleh dalam enam kali perang dengan al-Houthi. Antara tahun 2004-2010, Abdullah Saleh telah enam kali mengobarkan perang terhadap al-Houthi, di mana dalam perang-perang ini, ia mendapat dukungan penuh dari Arab Saudi dan UEA.

Tahap kedua; selamatnya Abdullah Saleh dari serangan bom pada tahun 2011. Pada tahun tersebut, Abdullah Saleh terluka setelah sebuah bom meledak. Arab Saudi –sebagai tuannya– mengerahkan semua fasilitas dan kemampuan untuk mengobatinya. Setelah sembuh, Abdullah Saleh dikirim kembali ke Yaman untuk menumpas kebangkitan rakyat di negara ini yang semakin berkobar.

Dan tahap ketiga; ketidakpuasan rakyat Yaman bersamaan dengan harapan Abdullah Saleh atas dukungan Arab Saudi dan UEA pada saat dibutuhkan telah menyebabkan ia lengser dari kekuasaan. Tekanan rakyat Yaman yang menuntut perubahan dalam struktur politik di negara mereka juga telah menyebabkan semua rencana Arab Saudi dan UEA untuk mempertahankan Abdullah Saleh di tampuk kekuasannya tidak membuahkan hasil.

Mobil yang ditumpangi Ali Abdullah Saleh dari Sanaa ke Ma'rib.

Meskipun Abdullah Saleh tidak puas dengan Arab Saudi dan UEA namun ia selalu membayangkan bahwa ia memerlukan dukungan kedua negara tersebut untuk mencapai kembali kekuasaan di Yaman. Oleh karena itu, Abdullah Saleh menjalin hubungan rahasia dengan Riyadh dan Abu Dhabi, bahkan keluarganya secara terang-terangan menjalin hubungan dengan kedua pemerintahan tersebut.

Dalam rangka upaya tersebut, Ahmad, putra Abdullah Saleh ditunjuk sebagai Duta Besar Yaman untuk UEA dan setelah itu pergi ke Riyadh. Pasca tersiar berita kematian Abdullah Saleh, Ahmad dilaporkan kembali ke Yaman.

Mohammad Ali Mohtadi, seorang pakar masalah dunia Arab meyakini bahwa tewasnya Abdullah Saleh mengingatkan teror terhadap Rafik al-Hariri pada tahun 2005 dan tewasnya Muammar Gaddafi pada tahun 2011, sebab, posisi terjepit Abdullah Saleh selama beberapa hari terakhir ini memungkinkan ia tertangkap. Oleh sebab itu, ada kemungkinan bahwa pihak-pihak yang memaksa dan memprovokasinya untuk bentrok dengan Ansarullah adalah pihak-pihak yang berada di balik teror terhadapnya sehingga Yaman akan terjebak ke dalam perang saudara seperti di Lebanon dan Libya.

Pandangan lainnya adalah jika tewasnya Abdullah Saleh bukan oleh pasukan yang berafiliasi dengan Arab Saudi dan UEA, namun kematiannya adalah hasil dari pola perilaku Riyadh dan Abu Dhabi terhadap Abdullah Saleh.

Dalam beberapa tahun terakhir, UEA telah terlebih dahulu menjalin hubungan erat dengan Abdullah Saleh ketimbang Arab Saudi, sebab, Ahmad (putranya) telah berada di Abu Dhabi ketika Dubes Yaman meninggal dunia, dan ia dengan terang-terangan juga menjalin hubungan dekat dengan pemerintah UEA.

UEA memanfaatkan hubungan tersebut untuk menggiring Abdullah Saleh berhadap-hadapan dengan Ansarullah dan menciptakan fitnah baru di Yaman. Pemerintah Abu Dhabi juga mendukung putra Abdullah Saleh untuk mencapai kekuasaan. Namun perkiraan Abu Dhabi ternyata meleset dan kerusuhan yang disulut Abdullah Saleh tidak memperoleh dukungan dari rakyat Yaman. Kekeliruan itu disebabkan ketidakmampuan UEA untuk memahami keadaan bahwa Abdullah Saleh tidak lagi memiliki popularitas di hadapan rakyat Yaman. Kesalahan tersebut juga telah menyebabkan kematian Abdullah Saleh.

Jafar Ghanadbashi, analis dunia Arab meyakini bahwa sebelum tewas, Abdullah Saleh sebenarnya telah dianggap tidak berguna oleh Arab Saudi. Riyadh dan Abu Dhabi berusaha untuk secepat mungkin mengambil keuntungan dari kematian Abdullah Saleh guna menciptakan konflik antara Partai Kongres Rakyat dan Ansarullah serta memperluas kekacauan di Yaman.

Yang jelas, rakyat Yaman yang telah ditindas selama sekitar empat dekade kekuasaan Abdullah Saleh merasa senang atas berakhirnya umur sang diktator ini. Mereka tidak peduli apakah Arab Saudi dan UEA yang merancang teror terhadap Abdullah Saleh atau kematiannya disebabkan oleh kebijakan keliru kedua negara tersebut. (RA)