Reaksi Tegas Yaman terhadap Serangan Saudi-UEA ke al-Hudaydah
-
Serangan balasan Yaman ke Arab Saudi
Koalisi pimpinan Arab Saudi melanjutkan serangan besar-besaran ke al-Hudaydah, Yaman barat. Namun serangan tersebut memperoleh perlawanan gigih dari pasukan Yaman, bahkan unit-unit rudal negara ini mampu melancarkan serangan balasan ke posisi-posisi penting Arab Saudi.
Unit-unit rudal Yaman pada hari Minggu petang, 24 Juni 2018 melancarkan serangan balasan dengan menembakkan beberapa rudal ke arah Pusat Informasi Kementerian Pertahanan Arab Saudi dan beberapa markas kerajaan ini di Riyadh.
Sejak 13 Juni 2018, koalisi militer pimpinan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) memulai serangan luas ke Yaman barat untuk menduduki al-Hudaydah. Serangan ini dilancarkan meski telah diperingatkan mengenai memburuknya kondisi kemanusiaan di Yaman, sebab al-Hudaydah adalah jalur utama pengiriman bantuan kemanusiaan ke negara itu.
Arab Saudi dan UEA menggunakan dua strategi secara bersamaan dalam penyerangan ke al-Hudaydah. Dua strategi itu adalah perang militer dan perang media. Tujuan dari strategi ini adalah untuk menduduki al-Hudaydah dan menyempurnakan blokade terhadap Gerakan Rakyat Yaman, Ansarullah.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Arab Saudi menyerahkan komando operasi penyerangan ke al-Hudaydah kepada UEA. Langkah ini juga untuk menghapus kesan adanya kelanjutan konflik antarkedua negara itu mengenai Yaman.
Pemanfaatan perang media oleh Arab Saudi dan sekutunya terlihat dalam penyerangan ke al-Hudaydah. Media-media koalisi mempublikasikan berita hoax tentang pendudukan bandara al-Hudaydah. Ini adalah bukti nyata perang media yang dilancarkan negara-negara agresor.
Meski telah menerapkan dua strategi tersebut, namun Arab Saudi dan UEA hingga sekarang belum bisa mencapai tujuan dari penyerangan ke al-Hudaydah. Menyusul kegagalan dalam mencapai ambisinya itu, menteri-menteri informasi koalisi pimpinan Arab Saudi menggelar pertemuan di kota Jeddah.
Anggota Biro Politik Gerakan Rakyat Yaman, Zaifullah al-Shami pada hari Sabtu menyinggung pertemuan tersebut dan mengatakan, upaya koalisi pimpinan Arab Saudi untuk menciptakan perang psikologis terhadap Yaman telah gagal dan pertemuan ini untuk menutupi kegagalan di hari-hari yang lalu.
"Pertemuan ini untuk menutupi kegagalan mereka dalam perang di pantai barat. Pertemuan ini digelar dalam kerangka kampanye media bersamaan dengan perang pantai barat terhadap negara kami dan bertujuan perang media anti-rakyat Yaman," ujarnya.

Gerakan Rakyat Ansarullah juga menerapkan dua strategi untuk menghadapi strategi-strategi yang diterapkan oleh Arab Saudi dan UEA dalam 12 hari lalu. Dua strategi Yaman itu adalah perlawanan dan serangan rudal.
Sekretaris Jenderal Ansarullah Sayid Abdul-Malik Badreddin al-Houthi dalam sebuah pernyataan terbaru, menjelaskan tujuan-tujuan serangan Arab Saudi dan UEA ke al-Hudaydah. Dia menyerukan perlawanan rakyat terhadap serangan tersebut dan meminta partisipasi lebih pasukan relawan dalam menghadapi pasukan agresor di al-Hudaydah.
Kehadiran luas pasukan relawan Yaman di al-Hudaydah telah menyebabkan kegagalan serangan darat pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi ke wilayah ini. Dengan demikian, strategi pertama membuahkan hasil.
Bersamaan dengan strategi perlawanan, pasukan Yaman juga menerapkan strategi serangan balasan dengan menggunakan rudal ke posisisi Arab Saudi, di mana yang terbaru adalah serangan rudal ke Riyadh.
Unit rudal militer Yaman pada hari Minggu petang mengumumkan penembakan beberapa rudal ke arah posisi militer dan pemerintahan Arab Saudi di Riyadh, ibu kota negara ini dan mengenai targetnya.
Meskipun ada keraguan atas klaim juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi Turki al-Maliki bahwa rudal-rudal Yaman yang ditembakkan dari Provinsi Saada ke Riyadh berhasil ditangkis oleh sistem rudal Patriot, namun serangan ini paling tidak telah menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran para pejabat Riyadh.
Dari satu sisi, serangan balasan tersebut menunjukan bahwa Riyadh berada dalam jangkauan rudal-rudal Yaman dan kota-kota Arab Saudi lainnya juga akan dilibatkan dalam perang. Masalah ini tentunya menimbulkan kecemasan bagi rezim Al Saud, dan ini adalah salah satu dari hasil strategi tersebut.
Dan di sisi lain, serangan rudal Yaman ke Arab Saudi menunjukkan bahwa peningkatan serangan pasukan agresor ke Yaman tidak bisa memaksa rakyat negara ini untuk menyerah, namun justru menambah tekad mereka untuk melawan pasukan agresor. (RA)