Sanksi Baru AS terhadap Hizbullah Lebanon
-
Para simpatisan Hizbullah Lebanon di Palestina.
Kongres Amerika Serikat meloloskan sebuah draft sanksi baru terhadap Hizbullah Lebanon sebagai bagian dari upaya mereka untuk melawan gerakan itu.
Ketua Komisi Perbankan Senat AS, Mike Crapo mengatakan Kongres mensahkan sebuah draft untuk menerapkan sanksi baru terhadap Hizbullah Lebanon dan beberapa negara lain.
"Draft ini akan melipatgandakan sanksi terhadap Hizbullah dan menargetkan negara-negara asing, lembaga pemerintah, perusahaan, atau individu asing yang mendukung Hizbullah," tambahnya.
Draft tersebut mendapat dukungan dari dua kubu Republik dan Demokrat dan menunggu tanda tangan Presiden Donald Trump untuk menjadi undang-undang.
Sejak dulu, Amerika dan sekutunya menggunakan berbagai instrumen untuk melawan Hizbullah Lebanon, karena gerakan itu konsisten menentang pendudukan dan mendukung penuh rakyat Palestina dalam melawan penjajahan rezim Zionis Israel.
Di samping itu, Hizbullah memainkan peran penting dalam menumpas kelompok-kelompok teroris yang didukung oleh Amerika, Arab Saudi, dan sekutunya di wilayah Asia Barat.
Kesuksesan politik-militer poros perlawanan terhadap teroris takfiri di Irak dan Suriah telah mendorong pemerintah AS untuk mengintensifkan tekanan melalui sanksi terhadap Hizbullah.
Mantan Direktur Mossad Israel, Tamir Pardo menuturkan kemenangan militer Israel atas Hizbullah Lebanon sangat sulit untuk dicapai dan satu-satunya cara untuk keluar dari kebuntuan saat ini adalah penerapan sanksi.
Para pejabat Washington mengklaim tindakan Hizbullah telah menyebabkan instabilitas politik dan ekonomi di kawasan serta menimbulkan ancaman yang tidak biasa terhadap kebijakan luar negeri dan keamanan nasional AS.
Sebenarnya, pemerintah AS sedang mencoba mengontrol secara penuh wilayah strategis Asia Barat di era pasca Daesh, dan kemudian menyerahkan urusan penataannya kepada sekutunya yaitu Riyadh dan Tel Aviv. Namun, mimpi ini mustahil diwujudkan selama poros perlawanan yang mencakup Iran, Suriah, Irak, dan Hizbullah Lebanon masih eksis.
Oleh karena itu, AS telah meningkatkan tekanan terhadap Hizbullah selama dua bulan terakhir. AS juga menerapkan sanksi berat terhadap Iran dan sekarang giliran Hizbullah sehingga mereka bisa mencapai tujuannya di Asia Barat.
"Sanksi itu tidak akan berpengaruh pada kondisi finansial para individu yang masuk daftar sanksi, karena kami tidak punya aset di bank. Salah satu tujuan mereka adalah menjauhkan masyarakat dari kami. Ini sebuah perang psikologis yang akan mempengaruhi rakyat Lebanon," kata Sekjen Hizbullah Sayid Hasan Nasrallah.
Pada dasarnya, AS dan sekutunya mengkhawatirkan kesuksesan Hizbullah dalam memerangi terorisme di Asia Barat, karena situasi ini akan menutup jalan untuk kehadiran jangka panjang mereka di kawasan, di samping meningkatkan kekuatan poros perlawanan.
Jadi, tekanan terhadap Hizbullah akan menjadi langkah pertama Amerika untuk menciptakan tatanan versi Paman Sam di Asia Barat dan pengesahan sanksi baru dapat dianggap sebagai bagian dari kebijakan tersebut. (RM)