Drone Gerakan Rakyat Yaman Hantam Parade Militer Koalisi
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i66469-drone_gerakan_rakyat_yaman_hantam_parade_militer_koalisi
Militer dan Komite Rakyat Yaman melancarkan serangan balasan ke pangkalan pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi di Provinsi Lahij sebagai tanggapan atas kelanjutan agresi mereka ke Yaman.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Jan 12, 2019 17:27 Asia/Jakarta
  • Drone Qasef.
    Drone Qasef.

Militer dan Komite Rakyat Yaman melancarkan serangan balasan ke pangkalan pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi di Provinsi Lahij sebagai tanggapan atas kelanjutan agresi mereka ke Yaman.

Serangan balasan yang dilancarakan Gerakaan Rakyat Yaman, Ansarullah pada hari Kamis, 10 Januari 2019 itu menarget parade militer di pangkalan al-Anad di provinsi Lahij, selatan Yaman.

 

Mereka mengirim pesawat tanpa awak Qasef K2 untuk menarget parade. Lima perwira dilaporkan tewas dan belasan lainnya terluka.

Yahya Sari, Juru bicara Angkatan bersenjata Yaman mengumumkan bahwa serangan drone Qasef K2 militer dan pasukan Komite Rakyat Yaman dilancarkan setelah melakukan operasi intelijen yang sukses, di mana serangan ini sebagai tanggapan atas kelanjutan serangan membabi buta jet-jet tempur Arab Saudi ke Yaman.


Rakyat Yaman hingga detik ini melanjutkan perlawanan dan perjuangan mereka untuk membela negara dari serangan pasukan Arab Saudi dan sekutunya.


Agresi militer Arab Saudi dan sekutunya ke Yaman dimulai sejak Maret 2015 dan telah merenggut nyawa belasan ribu orang dan melukai puluhan ribu lainnya.

 
Invasi militer ke Yaman dengan dukungan Amerika Serikat itu juga telah meluluhlantakkan infrastruktur negara Arab tersebut. Blokade laut, darat dan udara membuat jutaan orang, terutama anak-anak kelaparan. 

 

Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan Mark Lowcock dalam rapat Dewan Keamanan PBB pada hari Rabu, 9 Januari 2019 mengatakan, kelaparan di Yaman mengancam keselamatan 24 juta warga negara ini.

 

Dia menambahkan, situasi di Yaman adalah sebuah tragedi dan negara itu menghadapi krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

 

"Lebih dari 24 juta warga Yaman sekarang membutuhkan bantuan kemanusiaan atau 80 persen dari populasi negara itu," ujarnya.

 

Menurutnya, ratusan ribu orang sakit tahun lalu karena sanitasi yang buruk dan penyakit yang ditularkan melalui air, termasuk kolera menyusul hancurnya infrastruktur di Yaman.

 

Lowcock menuturkan, penutupan bandara internasional Sana'a telah membuat ribuan warga Yaman tidak bisa berobat, dan penyaluran bantuan obat-obatan juga terhenti.

 

Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Martin Griffiths dalam pertemuan tersebut menyesalkan penutupan bandara Sana'a dan mengatakan, kelaparan dan penyakit telah mengancam kehidupan orang-orang Yaman.

 

Pada tanggal 20 November 2018, para ahli PBB dari Program Pangan Dunia mengatakan pengeboman pasukan koalisi terhadap warga sipil adalah potensi kejahatan perang. Sementara blokade telah membuat 12 juta pria, wanita dan anak-anak Yaman berisiko kelaparan, di mana ini adalah kelaparan terburuk dalam 100 tahun terakhir. 


Astrid Stackelberg, salah satu pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 20 November 2018 menyebut situasi di Yaman sangat tragis dan mengatakan, 22 juta warga Yaman tidak memiliki akses makanan.

Stackelberg mengisyaratkan penyebaran kolera di Yaman dan mengungkapkan, penyakit ini mengancam nyawa jutaan warga Yaman. Dia menjelaskan, Yaman menjadi pusat penyebaran kolera terbesar di abad 21. (RA)