Transformasi Timur Tengah 11 Januari 2020
-
foto udara kerusakan serangan rudal Iran ke pangkalan militer AS di Irak, Ain Al-Assad.
Transformasi Timur Tengah atau Asia Barat sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai penekanan pemerintah Irak dan rakyat negara ini terhadap penarikan pasukan AS dari negaranya.
Isu lainnya, pernyataan Hamas dan Ansarullah Yaman mengenai serangan balasan Iran terhadap pangkalan militer AS di Irak, juga reaksi dari rezim Zionis Israel. Selain itu, berita tentang wafatnya Sultan Qaboos, dan Oman mengumumkan tiga hari berduka.
Adel Abdul Mahdi: Pasukan AS Harus Keluar dari Irak !
Perdana Menteri Irak, Adel Abdul Mahdi menyatakan bahwa satu-satunya jalan keluar dari situasi saat ini adalah menarik keluar pasukan AS dan asing dari Irak.
Adel Abdul Mahdi dalam sidang kabinet Irak hari Selasa (7/1/2020) mengatakan misi militer asing di Irak telah mengarah pada tujuan lain dari penumpasan kelompok teroris Daesh.
"Oleh karena itu, perlu kesepakatan bersama demi mencapai konsensus tentang cara terbaik menjalankan penarikan pasukan AS," ujar PM Irak.
Abdul Mahdi menegaskan tentara Irak sekarang lebih kuat dari sebelumnya dan memiliki pengalaman yang cukup.
"Melewati kondisi sulit Irak saat ini membutuhkan persatuan rakyat dan pejabat dengan memprioritaskan kepentingan nasional, dan menjaga keamanan, stabilitas dan kedaulatan nasional," tegas PM Irak.
Sebelumnya, pemerintah Irak melayangkan sepucuk surat kepada Dewan Keamanan PBB mengenai serangan teroris AS terhadap Letjen Soleimani, dengan mengatakan Amerika Serikat telah melanggar hukum dan perjanjian internasional.
Hizbullah Irak Desak Pasukan AS Tinggalkan Negaranya
Juru bicara Hizbullah Irak mengatakan, penarikan pasukan Amerika Serikat dari wilayah Asia Barat akan menguntungkan poros perlawanan.
Mohammed Yahya dalam wawancaranya dengan situs Elnashra, Selasa (7/01/2020) menuturkan AS sejak tahun 2003 telah melakukan berbagai konspirasi terhadap poros perlawanan termasuk di Irak, namun konflik ini telah berubah menjadi konfrontasi langsung setelah kekalahan teroris Daesh di Irak dan Suriah.
Menurutnya, AS telah mengubah Irak menjadi zona konflik. Mereka menyerang kelompok Hashd al-Shaabi dan kubu perlawanan Irak dengan alasan melawan "pengaruh Iran."
"Sekjen Hizbullah Lebanon telah menegaskan bahwa seluruh kelompok perlawanan akan menuntut balas pembunuhan Komandan Pasukan Quds Iran, Letjen Qasem Soleimani dan Wakil Komandan Hashd al-Shaabi Irak, Abu Mahdi al-Muhandis," ungkap Yahya.
Serangan militer AS di Bandara Internasional Baghdad pada Jumat lalu, menyebabkan 10 orang gugur syahid. Lima di antaranya termasuk Letjen Soleimani adalah warga Iran, dan lima lainnya termasuk Mahdi al-Muhandis, berasal dari Irak.
Lawan AS, Moqtada Sadr akan Bentuk Front Perlawanan Internasional
Pemimpin Gerakan Sadr Irak tidak terlalu menganggap efektif pengesahan undang-undang penarikan mundur pasukan Amerika Serikat dari Irak di parlemen, dan mendesak pembentukan front perlawanan internasional untuk melawan agresi Amerika.
Moqtada Sadr memperingatkan, jika front perlawanan internasional tidak dibentuk, maka dia bersama seluruh pendukungnya akan melakukan langkah yang lebih besar.
Pemimpin Gerakan Sadr Irak itu menilai pengesahan undang-undang penarikan pasukan Amerika dari Irak di parlemen sebagai langkah yang tidak terlalu efektif.
Sebaliknya Moqtada Sadr menuntut pembatalan segera perjanjian keamanan dengan Amerika, penutupan kedutaan besar Amerika di Irak, menutup seluruh pangkalan Amerika dan mengusir pasukannya, menganggap segala bentuk hubungan dengan Amerika sebagai kejahatan, mendukung militer Irak, melindungi kedubes-kedubes lain di Irak, dan memboikot produk Amerika.
Hamas: Balasan Rudal Iran Buktikan Kelemahan AS
Salah satu anggota senior Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas mengatakan, Iran menyerang pangkalan Amerika Serikat, tapi Washington tidak berani mengucapkan sepatah katapun, ini membuktikan kelemahan Amerika.
Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC, Rabu (8/1) dinihari menghujani pangkalan militer Amerika, Ain Al Asad di Irak dengan rudal sebagai balasan atas teror Letjen Syahid Qasem Soleimani.
Mahmoud Al Zahar kepada surat kabar Al Akhbar menuturkan, balasan Iran atas teror Jenderal Soleimani membuktikan kelemahan Amerika, karena pasca serangan balasan ini, Amerika tidak berani mengucapkan sepatah katapun, dan ini akan mendorong Iran untuk menyerang Amerika tidak hanya dari satu lokasi.
Ia menambahkan, inilah yang harus dilakukan untuk mewujudkan tujuan dalam berbagai dimensi yang lebih besar khususnya untuk melemahkan proyek Zionis, sehingga menjadi pendahuluan guna mengakhiri eksistensi Israel di semua kawasan.
Anggota Hamas menjelaskan, apa yang terjadi adalah ketakutan di Amerika dan Eropa, juga di antara Zionis, ini tidak menguntungkan Amerika dan Israel. Ia menegaskan, serangan terhadap Jenderal Soleimani pelayanan cuma-cuma terhadap rezim Israel, dan Presiden Amerika berpikir bisa menaikkan kans-nya untuk menang dalam pemilu, namun pada akhirnya Amerika harus membayar semua biayanya.
Penasehat Assad: Solaemani; Syahid Suriah, Irak dan Seluruh Front Perlawanan !
Penasihat Media Presiden Suriah, Bouthaina Shaaban mengutuk aksi teroris yang dilancarkan AS terhadap Komandan Brigade Quds Korp Garda Revolusi Islam Iran, Qasem Soleimani di Irak, dan menyebut Letjen Soleimani sebagai syahid Suriah, Irak dan seluruh front perlawanan.
Penasehat Bashar Assad ini mengatakan, kesyahidan jenderal Soleimani sebagai momentum bagi para pejuang pembebasan di seluruh penjuru dunia untuk menghadapi kezaliman dan terorisme.
Menurutnya, aksi teroris yang dilakukan AS terhadap Syahid Soleimani menargetkan seluruh front perlawanan, dan menambahkan bahwa pembunuhan Soleimani adalah keputusan rezim Zionis dan tidak menguntungkan kepentingan Amerika sama sekali.
Letnan Jenderal Qasem Soleimani mengunjungi Irak pada Jumat (3/1/2020) atas undangan resmi pemerintah Baghdad, tapi menjadi sasaran serangan teroris AS yang dilancarkan di sekitar bandara Baghdad.
Ansarullah Yaman: Aksi Iran, Jalan Besar Akhiri Dominasi AS
Sekretaris Jendral Ansarullah Yaman, Abdul Malik Al-Houthi menilai serangan rudal Iran terhadap pangkalan militer AS di Irak sebagai jalan besar bagi kesuksesan mengakhiri dominasi AS di kawasan Asia Barat.
Abdul Malik Al-Houthi dalam pidato yang disampaikan pada "Hari Syahid" yang didedikasikan untuk mengenang perjuangan Letjen Qasem Soleimani hari Rabu (8/1/2020) mengatakan, "Amerika Serikat telah melanggar hukum internasional dengan melakukan serangan teroris terhadap Letnan Jenderal Qasem Soleimani."
"Amerika Serikat dan Israel, sebagai musuh Islam melancarkan konspirasi jahat untuk menyerang Muslim," kata Al-Houthi hari Rabu.
Di bagian lain statemennya, Sekjen Ansarullah Yaman menyinggung beberapa rezim di kawasan yang menjadi antek-antek Amerika Serikat demi meraih kepentingan mereka.
Menurut Al-Houthi, Amerika Serikat tidak berhak melakukan operasi militer di Irak, oleh karena itu Ansarullah siap berdiri tegak bersama Iran, Lebanon, Irak, Suriah, Palestina, dan negara lain yang melawan AS.
"Jika AS tidak berperan dalam perang Yaman, maka kondisi Yaman tidak akan porak-poranda seperti sekarang ini," pungkasnya.
TV Israel: Operasi Panjang Iran Buru Pasukan AS di Timteng
Stasiun televisi rezim Zionis Israel mengabarkan, Iran berusaha merealisasikan rangkaian panjang dari operasi mematikan terhadap pasukan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah (Asia Barat).
Kanal 12 televisi Israel mengutip Ehud Yaari, pakar masalah Arab mengatakan, rudal Zolfaghar yang merupakan versi rudal Fateh 110 ditembakkan ke dua pangkalan militer Amerika di Irak sebagai balasan atas teror Jenderal Qasem Soleimani.
Menurut Ehud Yaari, peringatan berulangkali Iran untuk menuntut balas, semakin menunjukkan tekad kuat negara dalam melancarkan operasi ini.
Analis politik Israel menambahkan, sepertinya serangan ini merupakan awal dari rangkaian panjang operasi mematikan Iran terhadap pasukan Amerika di Timur Tengah, yang pada level pertama dilakukan melalui kelompok Syiah di Irak, dan negara lain yang selama bertahun-tahun dibantu oleh Tehran.
Kabinet Israel hari ini Rabu (8/1) menggelar rapat darurat membahas perkembangan terbaru di Teluk Persia menyusul serangan rudal Iran ke pangkalan militer Ain Al Asad, Irak.
Sultan Qaboos Wafat, Oman Tiga Hari Berduka
Kantor berita resmi Oman Sabtu (11/01) dini hari mengkonfirmasi meninggalnya Sultan Qaboos bin Said al Said, pemimpin negara ini.
Dewan Kerajaan Oman mengumumkan bahwa Sultan Qaboos meninggal dunia karena penyakit kronis yang dideritanya. Dewan Kerajaan Oman mengumumkan tiga hari berduka dan libur resmi menyusul meninggalnya Sultan Qaboos. Bendera Oman selama 40 hari juga dikibarkan setengah tiang untuk menghormati raja yang meninggal dunia.
Sultan Qaboos, 79 tahun setelah ayahnya, memulai kebijakan terbuka dan melakukan reformasi ekonomi. 23 Juli 1970 berkuasa di Oman. Hari itu dikenal rakyat Oman sebagai hari kebangkitan.
Oman di bawah pemerintahan Sultan Qaboos, selama beberapa tahun terakhir memainkan peran besar dalam menyelesaikan friksi regional dan global melalui peran mediasinya. (PH)