Menelisik Tiga Karateristik Politik Dunia Arab pada 1441 H
Tahun 1442 Hijriah Qamariah telah dimulai sementara ciri politik terpenting dunia Arab pada tahun Hijriah sebelumnya adalah kekacauan politik, penurunan nilai politik dan penguatan ketergantungan pada Barat.
Dunia Arab memulai kalender Hijriah tahun lalu dengan kerusuhan di Irak dan Lebanon.
Protes anti-pemerintah dimulai di Irak pada 1 Oktober dan di Lebanon pada 17 Oktober 2019. Demonstrasi yang awalnya damai berubah menjadi kekerasan dengan intervensi aktor asing dan arus internal yang menyimpang.
Kerusuhan di Lebanon menyebabkan pengunduran diri Saad al-Hariri pada 30 Oktober, dan kerusuhan di Irak menyebabkan pengunduran diri Adil Abdul-Mahdi sebagai perdana menteri pada 1 Desember 2019.
Meskipun pemerintah baru Lebanon dibentuk pada Februari 2020, pemerintah itu terpaksa mengundurkan diri kurang dari tujuh bulan kemudian untuk memasuki periode "tanpa pemerintah" untuk kedua kalinya pada tahun Hijriah lalu.
Irak menyaksikan pembentukan pemerintahan baru yang dipimpin oleh Mustafa al-Kadhimi lima bulan setelah pengunduran diri Adil Abdul-Mahdi, tetapi perselisihanan dan perbedaan politik tetap tinggi. Penting untuk dicatat bahwa meskipun terjadi kerusuhan dan kekerasan di Lebanon dan Irak, perbedaan dan kekacauan politik merupakan ciri penting dunia Arab karena kekerasan politik tinggi di beberapa negara, termasuk Arab Saudi. Ketegangan antara negara-negara Arab, terutama Qatar dan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir tetap tinggi.
Ciri politik penting lainnya dari tahun Hijriah dunia Arab adalah merosotnya penguasa Arab dari nilai-nilai politik penting.
Dukungan untuk perjuangan Palestina adalah salah satu nilai dan norma terpenting di dunia Arab selama satu abad yang lalu, tetapi tahun lalu perjuangan Palestina secara resmi dihapuskan dalam kebijakan luar negeri beberapa negara Arab.
Puncak dari masalah ini adalah kesepakatan Uni Emirat Arab dengan rezim Zionis untuk menormalisasi hubungan, yang dipublikasikan pada 13 Agustus 2020. Kesepakatan dan dukungan beberapa negara Arab ini juga membuktikan di atas segalanya penghapusan kohesi politik dan persatuan di dunia Arab.
Dalam hal ini, Mohammad Shtayyeh, Perdana Menteri Otorita Palestina, dalam menanggapi kesepakatan UEA dengan rezim Zionis untuk menormalisasi hubungan, mengatakan, "Tindakan UEA dalam menormalisasi hubungan dengan Israel adalah penyimpangan dari konsensus Arab."
Ciri politik penting ketiga dunia Arab pada tahun Hijriah lalu adalah meningkatnya ketergantungan sebagian besar negara Arab di Barat, terutama Amerika Serikat.
Hossein Amir-Abdollahian, pakar urusan internasional, merujuk pada pengumuman kesepakatan UEA dengan rezim Zionis oleh Presiden AS Donald Trump, mengatakan, "Ini menunjukkan bahwa UEA tidak memiliki kemerdekaan dalam memutuskan kebijakan luar negerinya. Poin pentingnya adalah Muhammad bin Salman membutuhkan dukungan Barat untuk naik takhta, dan penguasa negara seperti Bahrain membutuhkan dukungan Barat untuk tetap berkuasa. Menguatnya ketergantungan pada Barat menunjukkan bahwa tingkat dukungan rakyat kebanyakan penguasa di dunia Arab telah menurun."
Kekacauan politik, kemerosotan nilai dan norma, serta menguatnya ketergantungan pada Barat di dunia Arab pada tahun 1442 Hijriah Qamariah tampaknya semakin meningkat karena ini adalah strategi kekuatan Barat terkait dunia Arab.