Menelisik Faktor dan Tujuan Serangan Roket di Zona Hijau Baghdad
Kedutaan besar AS di Zona Hijau Baghdad dihantam oleh sedikitnya delapan roket pada Minggu (20/12/2020) malam.
Ini bukan pertama kalinya kedutaan besar AS di Baghdad menjadi sasaran roket dan rudal. Namun ada beberapa pertanyaan penting terkait hal ini.
Pertanyaan pertama adalah mengapa kedutaan besar AS di Irak diserang?
Masalah ini kembali pada urgensi Irak dan model perilaku Amerika Serikat di negara itu. Setelah tumbangnya rezim Ba'ath di Irak, substansi pemerintahan di negara ini telah berubah dan kelompok Syiah di negara ini telah menjadi pemain penting dan mengambil alih kekuasaan. Pada saat yang sama, kelompok-kelompok perlawanan telah berkembang biak di Irak dalam beberapa tahun terakhir dan merupakan bagian penting dari kekuatan Irak.
Di bidang hubungan luar negeri, hubungan Irak dengan Republik Islam Iran yang berbagi lebih dari 1.500 kilometer perbatasan bersama semakin meluas dan kedua negara memiliki hubungan strategis. Kelompok-kelompok perlawanan dan beberapa aktor politik dan rakyat Irak juga menekankan akhir dari pendudukan AS di Irak. Sementara menolak berkuasanya pemerintah Syiah di Irak, Amerika Serikat menentang kehadiran dan penguatan kelompok perlawanan di Irak. Semua ini menempatkan kedutaan AS di Irak di bawah sejumlah serangan.
Pertanyaan lainnya, siapa yang menyerang kedutaan AS?
Menjawab pertanyaan ini, ada berbagai riwayat dalam hal ini.
AS dan sekutunya, tanpa memberikan bukti apa pun, mengatakan bahwa kelompok-kelompok yang dekat dengan Republik Islam Iran melakukan serangan terhadap kedutaan besar Washington di Baghdad. Dalam pesan yang diposting di akun Twitter-nya hari Senin (21/12/2020), Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menegaskan kembali tuduhan masa lalu terhadap Republik Islam Iran.
Pompeo menulis, "Milisi yang didukung Iran sekali lagi secara terbuka dan tanpa malu-malu menyerang Baghdad dan melukai warga sipil Irak. Rakyat Irak memiliki hak untuk menuntut para pelaku serangan ini."
Tujuan dari tuduhan yang tidak berdasar tersebut adalah untuk merusak hubungan Iran-Irak di satu sisi, dan untuk menampilkan kelompok-kelompok perlawanan Irak sebagai aktor yang menciptakan ketidakstabilan di negara tersebut serta untuk mencegah mereka memperkuat posisinya di negara ini.
Versi lain adalah bahwa serangan ini pada dasarnya dilakukan oleh kedutaan besar AS dan aktor-aktor yang dekat dengannya. Sehubungan dengan hal tersebut, Saberin News melaporkan bahwa tembakan-tembakan yang dilakukan oleh pihak kedutaan AS yang merusak bangunan-bangunan komplek perumahan al-Qadisiyah di Zona Hijau, telah menimbulkan kepanikan di kalangan warga di daerah tersebut.
Sementara ada versi ketiga dari pelaku penyerangan ini, yang dilakukan oleh anasir Ba'ath, sisa-sisa ISIS dan kelompok-kelompok yang menyimpang. Tujuan dari kelompok aktor yang juga mendapat dukungan asing ini adalah mencegah terciptanya stabilitas dan keamanan di Irak, serta membuat kelompok-kelompok perlawanan sebagai yang tertuduh dan mencoreng citra mereka di mata publik.
Hampir semua kelompok perlawanan di Irak, meski mendesak penarikan pasukan AS dari Irak, menentang setiap serangan terhadap fasilitas diplomatik dan kedutaan besar. Dalam hal ini, kelompok perlawanan Kata'ib Hizbullah Ahad (20/12/2020) malam mengeluarkan pernyataan yang menentang serangan roket di kedutaan AS. Kata'ib Hizbullah Irak menyatakan, Penembakan kedutaan jahat (Setan) saat ini dianggap sebagai perilaku yang tidak terkendali dan tidak disiplin, dan otoritas yang kompeten harus menindak pelaku serangan ini dan menangkap mereka.
Pada akhirnya, apa yang terjadi di Irak tampaknya merupakan plot untuk menjebak perlawanan Irak dan mendiskreditkan kelompok-kelompok ini.